Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Gilang Rahmawati

"Bi Ijaaaaahhhhhh...." teriak Nyonyah. (GeeR)

Hitam Putih dan Sebuah Cerita Kenangan

REP | 29 April 2012 | 22:53 Dibaca: 564   Komentar: 33   7

1335695002982423885

Gilang Rahmawati

Hitam dan Putih, dua warna yang ku anggap sebagai sebuah sikap. Lebih baik hitam atau putih diartikan sebagai sebuah ketegasan, daripada berdiri diwarna abu-abu, karena itu hanya sebuah keraguan. Hitam dan putih itu juga sebagai warna dasar. Karena mereka, semua warna bisa menyatu. Hal ini bisa dilihat dalam sebuah lukisan. Dua warna ini selalu menjadi pilihan dalam memulai sebuah karya lukis. Namun, pada tulisan kali ini, saya bukan ingin membicarakan tentang warna hitam putih dapa lukisan, melainkan berbicara mengenai foto Hitam Putih. Lebih dikenal dengan singkatan BW (Black White).

Berbicara mengenai sebuah foto BW (Black White), yang saya tangkap setiap melihat foto itu ialah ‘sebuah kenangan’. Karena, biasanya kedua warna ini sering kali digunakan untuk menggambarkan kejadian lampau. Begitupun yang tersirat dikepala saya. Ketika saya menginginkan sebuah foto itu menjadi hitam putih, saya hanya merubah picture style pada camera, dengan menjadikannya ‘monochrome’. Ini saya pelajari dari mas Bowo Bagus, hihi..

Dimulai karena Kampret, mengajak untuk upload foto dengan tema “BW”. Saya langsung tanya sama mas bowo, kalau gak salah seperti ini percakapannya, lewat YM eh sms, eh lupaaa, hihi:

Aghil (saya): Maaasss, gimana setting biar bisa jadi BW?

Mas Bowo: Coba kamu liat tampilan di camera, menu, Picture Style, pilih Monochrome.

Aghil: Oke siep, sudah, makasih, mantaab..

Mas Bowo: wkwkwk.. (inilah ekspresi yang sering tergambar dari orang ini, haha)

Lanjut, akhirnya saya menciptakan satu foto pertama dari camera saya dengan BW. Alhamdulilah, tanggapan teman-teman KAMPRET cukup mengesankan, banyak yang suka. Apalagi si Raja BW, mas Naim Ali. Haha..dan untungnya saat mengambil foto itu sinar matahari cukup membuat warna putih itu tampak. Kalau tidak, fotonya akan menjadi abu-abu, sebuah keraguan (lagi).

Dibawah ini foto BW yang pertama dari camera yang sudah lama saya pegang:

13356951361354171152

© By Geer (foto pribadi)

Tidak hanya dengan teknik setting “monochrome”, kita bisa menciptakan sebuah foto BW. Saya pun pernah mengakali foto berwarna saya, diubah menjadi BW. Foto yang berwarna kesannya menarik dan cerah. Bukan berarti saat diubah menjadi BW kesan tersebut hilang, malah menurut saya mengubahnya menjadi BW justru menambah kesan baru. Ya, inilah fokus utama yang ingin saya jabarkan. Bagaimana saya melihat foto BW itu tersirat akan sebuah kenangan.

Dibawah ini contoh foto yang di edit menjadi BW:

-          Before

13356952961392366441

© By GeeR (Foto Pribadi)

-          After

1335695383452080753

© By GeeR (Foto Pribadi)

-          Before

13356954621618123028

© By GeeR (Foto Pribadi)

-          After

1335695519654397932

© By GeeR (Foto Pribadi)

Foto sepeda diatas tadi, saya melihat kenangan akan sepeda itu (meskipun itu bukan punya saya). Background sepeda itu pas dengan kondisi sepeda. Terlihat sepeda itu sering sekali dipakai, seperti digunakan karena penuh perjuangan. Tampak “masa lalu” itu ada pada foto itu.

Berlanjut pada foto BW yang lain (tentunya punya saya, hihi)

13356961011776024540

© By GeeR (Foto Pribadi)

Foto ini pun sama, saya melihat “masa lalu”. Dimana keringnya ranting, menggambarkan bahwa kenangan foto ini adalah saat dulu ranting ini terisi oleh daun hijau segar. Foto ini seperti berbicara tentang ranting, ia kesepian, ia butuh hijaunya dan rindangnya daun.

13356962981692047248

© By GeeR (Foto Pribadi)

Kalau foto yang diatas ini, kenangan yang tersirat dikepala saya, hmm..dari pintu inilah, saya bisa menerima banyak kenangan yang masuk. Melalui pintu ini, seorang teman lama, datang menyapa. Melalui pintu ini, orang yang ku kenal datang meminta uang (semacam salles, penjual parfum, pengamen, dll.hahaha). Melalui pintu ini juga, ku sambut teman baru (mas bowo dan mas arif, hihi).

Sedangkan foto dibawah ini hanya saya yang tau, ada kenangan kuat apa dari foto ini. Haha..

13356964022062365030

© By GeeR (Foto Pribadi)

Sekian, hitam putih dalam sebuah cerita.

Siap menerima tantangan? Simak DISINI, dan ramaikan KAMPRET.

**

Gilang Rahmawati

Yogyakarta, April.

Tags: wpc2 kampret

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Di Yogyakarta Antri 4 Jam Demi Segelas …

Hendra Wardhana | | 28 August 2014 | 16:35

Ahok: Pro Transportasi Publik atau …

Ilyani Sudardjat | | 28 August 2014 | 12:43

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Gap Year: Setahun Nganggur …

Marlistya Citraning... | | 28 August 2014 | 11:39

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 6 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 10 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 10 jam lalu

Tomi & Icuk Sugiarto Nepotisme! …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Ramping Jokowi: Cukup 20 Menteri …

Roes Haryanto | 7 jam lalu

Listrik dari Sampah, Mungkinkah? …

Annie Moengiel | 8 jam lalu

Sensasi Rasa Es Krim Goreng …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Indonesia Abad ke-9 Masehi …

Ahmad Farid Mubarok | 8 jam lalu

Catatan Harian: Prioritas di Kereta Wanita …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: