Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Jari Menari

http://nuzulakbarnazar.blogspot.com/

One Shoot One Killed…!!

REP | 10 April 2012 | 08:25 Dibaca: 3009   Komentar: 0   0

SAFARI BERBURU:
SATU PELURU UNTUK SATU NYAWA
Seorang pemburu berpengalaman hanya melepaskan sebutir
timah panas yang langsung membunuh hewan sasarannya.

Dorrr…!!

Hewan itu hanya sekejap melonjak, lalu rubuh ke tanah. Selanjutnya, hutan belantara di propinsi Bengkulu yang berbatasan langsung dengan perkebunan kelapa sawit milik PT. Sandabi, riuh oleh suara tembakan. Beberapa babi hutan -target buruan- mati ditembus peluru kaliber 308. sedangkan yang lainnya lari tungang-langgang menyelamatkan diri. Sementara di sini, kami para pemburu yang bergabung dalamAries Shooting Club tetap konsisten mengintai, mengokang, dan melepaskan tembakan. Jarang sekali pembicaraan, karena olahraga ini membutuhkan konsentrasi tinggi -karena tentu saja, Anda tidak ingin peluru Anda salah sasaran kan?

Ketika fajar merekah, suara dentuman tembakan mulai mereda. Kami, ditemani beberapa orang penduduk sekitar mulai mengumpulkan babi-babi yang mati, kemudian menaikannya ke atas mobil Mitsubishi Strada 4WD -double cabin- berwarna merah, baru kemudian kembali ke base camp yang menjadi tempat peristirahatan kami. Lelah? Jangan ditanya. Bagaimanapun, tindakan mengintai dan menembak, yang harus dilakukan tanpa suara, di kegelapan malam -bahkan kadang-kadang ditengah derasnyahujan, menuntut tenaga ekstra. Jadi ketika kami pulang, apalagi membawa hasil buruan yang lumayan, adalah sebuah kesenangan yang tak terkira.

‘Satu peluru untuk satu nyawa’, inilah prinsip dasar yang dipegang teguh oleh para pemburu. “Peluru harus tepat mengenai kepala atau jantung hewan buruan agar mati seketika. Jika meleset, maka tembakan susulan harus segera dilepaskan agar hewan buruan tidak meregang nyawa tersiksa,” kata Fahira Fahmi Idris –Ketua Umum Aries Shooting Club yang juga menjabat Ketua Komisi Pembinaan dan Perencanaan Bidang Target dan Bidang Berburu PB PERBAKIN.

Fun Sport

Ketika teleskop berhasil membidik hewan sasaran, laju aliran darah pun sontak mengalir deras ke kepala. Dalam hitungan milidetik, adrenalin akan meningkat mengiringi semakin cepatnya detak denyut jantung. “Dan ketika peluru kita menjatuhkan hewan sasaran, saat itu pulalah kita merasakan sensasi kenikmatan puncak,” ungkap Fahira. Anda membutuhkan kemampuan dan pengalaman untuk mengurangi rasa tegang, karena yang paling berperan untuk menjatuhkan hewan buruan adalah konsentrasi tinggi: Fokus, fokus, dan fokus.

Fahira adalah segelintir kaum hawa yang mempunyai minat sangat besar dalam kegiatan safari berburu, tapi jangan pernah tanyakan rasa takut kepadanya. ”Kami sudah saling mengenal sejak lama. Sehingga suasana keakraban dan kebersamaan yang terbangun di tim Aries SC, membuat kami sanggup berhari-hari hidup bersama di alam liar,” katanya. Percaya atau tidak, unsur kekompakkan tim sangat menentuan hasil buruan. Pernah suatu ketika, mucul masalah di antara anggota tim, hasilnya… selama berhari-hari tim tidak mendapatkan hewan buruan. Bukan hanya itu, alam pun mendadak menjadi musuh dengan menurunkan hujan deras terus-menerus.

“Bertualang di alam bebas menjadi sarana relaksasi untuk melepas kejenuhan pada rutinitas dan beban pekerjaan. Manfaat lainnya, dengan berburu maka kita akan melatih ketepatan, konsentrasi, ketekunan, kesabaran, pengendalian diri, serta kemampuan untuk survive di alam liar,” kata Fahira. Di sisi lain, mereka yang gemarcamping dan fotografi pun bisa menyalurkan hobinya -bukankah alam sumber inspirasi yang tiada habis?

Fahira yang tomboy pernah bertatapan mata langsung dengan mata beruang dan macan. Saat itu, kisahnya, ia merasa takut tapi juga kagum. Hal-hal ajaib semacam itulah yang membuatnya ketagihan untuk keluar masuk hutan sembari memanggul senjata. Fahira tidak takut berhadapan dengan bajing loncat dan kawanan perampok lain yang menghantui jalur lintas Sumatera. Bahkan, Dia rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk setiap kali perburuan.

“Apa yang kami bunuh adalah hewan pengganggu dan populasinya berlebih,” katanya. Itu sebabnya, dalam perburuan mereka biasanya dibantu oleh penduduk sekitar hutan yang sawah ladangnya kerap dijarah hewan-hewan liar tersebut. Hasil buruan pun dibagi-bagikan kembali kepada warga, atau dimanfaatkan untuk pangan hewan-hewan buas di berbagai kebun binatang. “It’s fun,” cetus Fahira,”Kesenangannya tidak bisa dibeli dengan uang.”

Hobi Mahal

“Safari berburu di Indonesia berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh para pemburu di Amerika dan Afrika,” kata Fahmi Idris, pengusaha dan politikus yang juga salah seorang founder Aries Shooting Club. Di Afrika dan Amerika, hewan buruan biasanya dikumpulkan dan berada dalam suatu kawasan lokalisasi yang dilindungi. Sedangkan di Indonesia, pemburu liar dengan bebas mengeksploitasi satwa, sementara pemburu legal sulit menyalurkan hasratnya untuk menembak -karena tiadanya lokalosasi area perburuan.

Hal itulah yang membuat para pemburu dari berbagai kota besar di Indonesia -yang mayoritas tidak mempunyai lahan berburu- rela menempuh ratusan dan bahkan ribuan kilometer melalui berbagai jalur (darat, laut, udara) untuk menyalurkan hobi mereka. Tempat favorit berburu diantaranya ada di provinsi Jambi, Bengkulu, wilayah Kalimantan, dan beberapa tempat di Jawa Barat.

Satu kali perburuan minimal membutuhkan Rp 5 juta rupiah, per orang. “Semakin jauh tempatnya maka semakin mahal biaya yang dibutuhkan,” jelas Fahira. Biaya ini belum termasuk kendaraan, spesifikasi senjata, peluru, dan sebagainya. Bahkan proses persiapan untuk berburu pun tidak semudah dan seringkas bila Anda mempersiapkan kebutuhan untuk perjalanan wisata. Prosedur perizinannya bisa memakan waktu hingga beberapa bulan.

101 Hal Tentang Berburu

Berikut ini beberapa hal yang perlu Anda siapkan sebelum memulai petualangan berburu di alam liar:

Legalitas

“Menembak merupakan kombinasi akurasi, kesabaran, dan keahlian yang diperoleh dari proses berlatih secara kontinyu,”kata Fahmi yang juga mantan pengurus PERBAKIN era 90-an. Namun, untuk bisa berburu dengan legal, sebelumnya Anda harus bergabung dan mendaftarkan diri dalam salah satu klub menembak yang berada di bawah naungan PB PERBAKIN. “Dengan merogoh kocek antara 350 hingga 500 ribu serta membawa fotokopi KTP dan pas foto, Anda sudah bisa bergabung dengan Aries SC,” kata Fahira. Setelah itu, calon pemburu wajib mengikuti penataran yang mencakup serangkaian materi pembelajaran seperti handling senjata, faktor safety, kendala yang akan ditemui di alam liar, P3K, tes psikologi, hingga praktek menembak. Total biaya untuk ini menghabiskan Rp 10 juta rupiah. Jika Anda lulus penataran dan uji keterampilan, barulah PERBAKIN mengeluarkan Kartu Tanda Anggota (KTA) untuk Anda. Dengan KTA ini Anda bisa membeli senjata api dan amunisinya.

Meski demikian, toh Anda tidak diperbolehkan berburu tanpa berkoordinasi dengan aparatur negara. “Mengenai surat perizinan perjalanan, PERBAKIN yang akan mengurus semua berkas yang diperlukan -baik ke Polda setempat, Mabes Polri, dan Polda yang dituju,” kata Ira.

Senjata & Ammo

Klasifikasi senjata yang umum digunakan untuk berburu dibagi 2, yaitu:

  • Senapan api. Senjata ini sangat ideal untuk berburu babi hutan. Senapan yang digunakan umumnya berjenis semiotomatis dengan kaliber 223, 243, dan 308. Kaliber 308 mempunyai daya tembus, suara, dan tenaga yang lebih dasyat dari kedua tipe lainnya. Jarak efektifnya mencapai 500 ratus meter. Harga senapan api bervariasi mulai dari Rp 25 juta hingga ratusan juta rupiah -berikut izin pemilikan dari Mabes Polri. Sementara itu, 1 boks peluru berisi 20 butir berharga Rp 300 – Rp 500 ribu rupiah.
  • Senapan angin. Jenis yang lazim digunakan adalah PCP ‘prechargedpneumatic‘ dan gas CO2 kaliber 4,5 mm (non izin) / 5,5 mm (izin) dengan jarak efektif hingga 75 meter. Kaliber 5,5 mm memiliki daya kekuatan yang lebih besar dari 4,5 mm. Proyektilnya disebut juga mimis. Senapan angin lazim digunakan untuk berburu bajing dan tupai. Harga senapan jenis ini mulai dari Rp 2,5 juta hingga belasan juta rupiah. Beberapa tipe senapan angin andalan Aries SC yaitu Beeman, Diana, dan Xtra Fac S 410 buatan Inggris.

Surveyor

Beberapa faktor yang sangat mempengaruhi proses perburuan antara lain: Bulan purnama, cuaca hujan, dan musim panen buah. Target buruan biasanya tidak akan keluar di kala hujan dan bulan purnama. Selain itu, hewan-hewan tersebut jarang muncul jika tidak ada panen buah-buahan.

Itulah sebabnya, sebelum mendatangi suatu wilayah, klub umumnya mengutus tim kecil untuk mensurvey lokasi perburuan dengan meneliti kondisi geografis, serta jalur, dan jejak hewan yang akan diburu. Lokasi yang dipilih tidak boleh berada pada area pemukiman dan hutan lindung.

Kendaraan

Agar siap menerjang berbagai medan, kendaraan dengan empat roda penggerak (4WD) standar offroad mutlak diperlukan. Mobil-mobil ini biasanya telah dimodifikasi dengan menambahkan beberapa fitur pendukung seperti winch -derek, radio komunikasi, ban offroad dengan grip yang baik, rangon -atap yang bisa dibuka, jok untuk penembak, dan rak pengangkut (depan dan belakang) yang umumnya terbuat dari plat baja.

Basecamp

Anda bisa memilih beberapa opsi tempat peristirahatan selama perburuan berlangsung, seperti menyewa rumah penduduk, menginap di mess karyawan perkebunan, atau mendirikan tenda di sekitar hutan. Umumnya Anda akan menginap di sana selama lima hingga 10 hari.

Kru

Rata-rata dalam satu mobil terdapat delapan orag kru. Selain dua penembak, setiap perjalanan berburu juga membutuhkan beberapa anggota tim dengan spesifikasi tugas dan keahlian yang berbeda-beda, antara lain:

- Driver dan co-driver (skill offroad dan mekanikal otomotif).

- Pemandu lokal, yang berfungsi sebagai penunjuk arah.

- Pemegang lampu blour, dengan insting dan kemampuan melihat yang tajam di kegelapan area hutan. Biasanya penduduk lokal.

- Dua orang pengangkut. Bertugas mengangkut serta mengeluarkan isi perut babi. Hal ini bertujuan agar babi tidak cepat membusuk dan bisa bertahan hingga beberapa hari.

Peralatan Pendukung

Peralatan pendukung lainnya adalah: Peredam telinga, google, kompas, peta / GPS, perbekalan konsumsi, boot / sepatu penjelajah alam, jaket tahan air, vitamin, obat-obatan P3K, vaksin, pisau, Handy Talky (HT), lampu blour 200 watt -yang efektif sampai 300 meter, binocular, mini cooking set, jerigen untuk bensin cadangan, sumber listrik berupa aki dan genset kecil.

Peralatan pendukung ini mutlak ada agar suasana perburuan Anda semakin menyenangkan.

[nzl]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 10 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 12 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 13 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 14 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: