Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Sona Putra

Saya seorang mahasiswa di jurusan pendidikan bahasa dan sastra indonesia universitas pendidikan ganesha singaraja, Bali

Apa Itu Perangko???

REP | 24 March 2012 | 02:13 Dibaca: 260   Komentar: 0   1

Buk ajari saya nulis surat, itulah kata yang saya ujarkan kepada ibu saya karena besok pagi saya mendapatkan mata peajaran bahasa indonesia. Ibu saya cuma tersenyum dan akhirnya beliau melanjutkan pekerjaannya tanpa mengatakan sepatah kata pun.  Karena tidak ada respon saya pun cuma bisa cemberut sembari menatap kedua mata ibu saya, Sore harinya saya menonton salah satu acara anak-anak di  salah satu stasiun tv swasta.  Dalam acara itu banyak sekali terlihat anak-anak yang menggenggam sebuah benda berbentuk kotak kecil  lalu menempelkan benda itu pada selembar kartu. Saking penasarannya saya berusaha tuk bertanya pada teman sepermainan saya benda apakah yang ditempelkan pada kartu post itu, dia pun tak menjawab hanya geleng-geleng kepala.

Hari ini ada  satu pertanyaan yang benar-benar mengganjal kepala saya, yaitu benda apakah itu yang bentuknya seperti kotak dan diatasnya ada gambar warna-warni? Hemm saya benar-benar ingin tahu benda apa itu. Keesokan harinya saya ingat mendapatkan mata pelajaran bahasa Indonesia. Dalam pelajaran itu saya disuruh tuk berlatih menulis sebuah surat, memang agak sulit menulis sebuah surat, tapi dengan kerja keras akhirnya saya bisa juga menyelesaikannya. Ibu  Agung, nama guru bahasa Indonesia saya menyuruh kita untuk menempelkan sebuah perangko pada surat yang kita buat. Pertanyaanpun mulai muncul lagi dalam otak saya ” Apa itu perangko?” akhirnya saya pun memberanikan diri tuk bertanya pada guru bahasa Indonesia saya itu, dan saya masih ingat benar kata-kata yang saya ucapkan kala itu ” Buk Guru apa itu perangko, apakah perangko itu sama dengan pensil atau kertas tulis?” itulah pertanyaan yang saya layangkan waktu itu. Sontak mendengar pertanyaan saya itu teman-teman saya yang lainnya tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai ada juga yang memukul meja saking gelinya mendengar pertanyaan saya itu. Jujur waktu itu saya benar-benar sedih melihat ekspresi teman-teman saya saat itu, dalam pikiran saya emangnya salah ya kalau kita bertanya tentang sesuatu yang kita belum tahu. Untunglah Ibu guru saya memberikan penjelasan kepada saya tentang perangko itu. Sejak saat itulah ada keinginan di dalam benak saya untuk mencari tahu tentang perangko dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Sampai pernah waktu ini saking ingin tahunya tentang perangko, saya pernah mencegat pak post yang lewat di depan rumah saya. Pak post itu terlihat bingung melihat saya tiba-tiba mencegatnya, tapi karena rasa ingin tahu saya yang luar biasa tentang perangko saat itu, akhirnya tanpa izin saya mengambil beberapa surat yang ada di balik tasnya. Di sanalah saya melihat secara langsung apa itu perangko, ternyata perangko itu beraneka ragam jenisnya dan gambarnya juga beda-beda. Mungkin karena pak post itu tahu keinginan saya akhirnya beliaupun memberikan saya satu buah perangko kecil berwarna merah. Saking senangnnya perangko itu saya cium-cium dan setiap malam perangko itu selalu menemani saya tidur. Keesokan harinya saya bangun terlambat, saya terburu-buru untuk pergi ke sekolah, untunglah  saya tidak terlambat masuk ke sekolah. Pas bel istirahat saya mengumpulkan beberapa teman-teman saya yang dulunya pernah mentertawai saya. Di sana saya bertanya pada mereka emangnya kalian pernah lihat perangako secara  langsung, itulah pertanyaan yang saya layangkan pada mereka.

Mendengar pertanyaan saya itu  teman-teman saya kontan terdiam, mereka cuma tertunduk lesu. Di sana saya mengambil kesimpulan bahwa teman-teman saya itu cuma tau istilah perangko saja, tanpa pernah melihat langung yang bagaimana yang disebut perangko. Akhirnya saya pun memperlihatkan perangko yang saya dapatkan dari pak pos. Walhasil teman-teman saya kaget, dan tertunduk malu karena pernah menertawai saya waktu itu. Sejak saat itulah saya mulai mengumpulkan perangko satu per satu sampai-sampai koleksi perangko saya hampir mencapai 1000 lembar perangko, tapi sayangnya sekarang semuanya sudah lenyap gara-gara adik saya tanpa sengaja menyalakan api dekat koleksi perangko-perangko saya, walhasil semua koleksi perangko saya yang sudah saya kumpulkan selama beberapa tahun ini semuanya musnah. Saya benar-benar sedih melihat kejadian itu,samapai-sampai saya tidak mau makan gara-gara koleksi perangko saya itu musnah menjadi abu. Tapi seiring berjalannya waktu beberapa bulan berikutnya saya pun terus mulai mengumpulkan perangko satu per satu lagi, ya memang perangko yang saya koleksi sekarang ini tidak begitu banyak, tapi yang jelas bagi saya perangko adalah sebuah benda yang sangat unik, gara-gara perangko itulah saya mulai mengenal istilah filateli yaitu orang yang hobinya mengoleksi perangko dan benda-benda pos lainnya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 4 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 9 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 9 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 10 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 10 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: