Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Sharben Sukatanya

Lahir di Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan.

Bonsai Santigi, Kerasnya Alam Dipadukan dengan Keindahan

REP | 24 January 2012 | 07:24 Dibaca: 3747   Komentar: 0   0

13273871371101041351Kemarin saat melewati ruas jalan di tepi pantai, tiba-tiba pandangan saya tertuju pada deretan pot berisi pohon bonsai yang dipajang di atas median/pembatas jalan. Sudah lama bonsai-bonsai itu berada disana, namun mengapa baru kali ini saya tertarik untuk melihatnya dari dekat. Saya pun memotret bonsai-bonsai santigi itu dengan kamera ponsel. Pemilik tanaman hias itu bernama Abdul Karim yang akrab disapa Daeng Karim, seorang tukang kayu yang hobby merangkai bonsai.

Sebelas tahun yang lalu Daeng Karim mulai tertarik dengan dengan tanaman hias ini. Saat itu hampir di setiap rumah yang ada di Benteng sebagai ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar, di warnai oleh tanaman hias termasuk jenis langka seperti pohon Santigi atau dalam bahasa latinnya dikenal sebagai Phempis acidula. Tanaman jenis ini banyak tumbuh di daerah pesisir diatas bebatuan dan tebing di pantai barat dan timur Pulau Selayar dan beberapa pulau seperti Jampea, Bonerate, Kayuadi, Lambego, Kalaotowa dan Karumpa.

Ada 13 pot yang berisi pohon bonsai yang telah rangkai oleh Daeng Karim dengan peralatan sederhana seperti pisau, gunting, tang dan kawat sebagai media untuk membentuk santigi agar nampak seperti pohon kerdil yang berusia ratusan tahun. Usia sebenarnya dari bonsai ini, ada yang baru berusia dua tahun sampai delapan tahun. Pohon santigi ini berasal dari tebing di sekitar pantai Baloiya dan Je’neiya di pulau Pasi/Gusung.

Daeng Karim menuturkan bahwa mengambil pohon santigi termasuk pekerjaan yang beresiko tinggi karena berada tebing yang curam dan medannya yang sulit dijangkau. Mengambilnya pun harus dengan jalan memahat bebatuan yang berada di sekitar pohon santigi, termasuk bebatuan yang tertembus oleh akar tidak boleh dipisahkan, ada keunikan tersendiri dari pohon santigi bila akarnya merangkul atau menembus batu cadas.. “Butuh satu atau dua hari untuk satu pohon santigi rata-rata tingginya satu meter. Kami tidak mengambil pohon yang lebih besar karena terlalu sulit dan memakan waktu yang lama” Daeng Karim menambahkan.

Perawatan pohon santigi ini harus dikerjakan dengan cermat dan telaten karena akan diajar beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Daeng Karim membasahi akar pohon santigi dengan air laut selama satu minggu, kemudian air ditambahkan seperempat air tawar secara bertahap selama satu bulan. Kalau tunas atau pucuk yang baru sudah tumbuh, disiram dengan air tawar murni dan bila dalam satu minggu tidak ada perubahan atau daunnya layu, pertanda pohon santigi sudah beradaptasi dan siap dibentuk menjadi bonsai.

Daeng Karim juga tidak membiasakan untuk memberi pupuk pada pohon santigi miliknya, karena khawatir akan ada perubahan bila senyawa dalam pupuk tidak cocok atauberlebihan. Hanya pupuk daun yang pernah diberikannya untuk mrnambah kesuburan pucuk dan daun. Merawat santigi memang tidak mudah dan harus melatih kesabaran apabila pertumbuhannya lamban. Pemangkasan dan pembentukan batang juga sangat berperan untuk mendapatkan model bonsai yang berkualitas.

Harga yang dipatok oleh Daeng Karim untuk bonsai santigi karyanya, mulai dari lima ratus ribu rupiah hingga tujuh juta rupiah. Sekitar dua puluh bonsai santigi yang sudah dijualnya. Para peminatnya dari masyarakat sekitar Kota Benteng dan juga ada yang dari luar Pulau Selayar, seperti Bulukumba, Bantaeng dan Makassar. “Semakin unik modelnya maka akan semakin mahal harganya”

Di Kios “Anpirlah” miliknya yang terletak di Jl. Syafaruddin, Benteng, tempat dimana Daeng Karim memasarkan bonsai hasil karyanya, selain itu juga menjual sembako dan menerima pesanan kusen kayu rumah yang merupakan pekerjaan utamanya sebagai tukang kayu. “Saya sudah hobby merangkai bonsai jenis pohon santigi. Saya juga akan mencoba dengan pohon yang lain seperti asam atau adonium dan berinovasi dengan cara saya sendiri” ujarnya seraya tersenyum ketika saya berpamitan.

13273880235378533881327388248956609041

1327388792100765608813273893001721492313

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 6 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemeriksaan Keperawanan Itu “De …

Gustaaf Kusno | 7 jam lalu

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 8 jam lalu

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: