Gak Gampang Temukan Penulis yang Benar-benar Menulis!

OPINI | 13 November 2011 | 06:36
129 4 4

Banyaknya “jumlah buku” di toko buku memunculkan anggapan bahwa negeri kita ini sudah dibanjiri oleh “para penulis-penulis baru”.  Faktanya, di lapangan, bila saja kita cermati, jumlah “yang banyak” itu adalah “jumlah orang yang ingin menulis’ saja.  Tetapi kalau kita cermati isi buku yang bertebaran di toko buku itu, hanya “sedikit sekali jumlah penulis” yang “benar-benar menulis”.

Mengapa begitu? Proses “melahirkan” sebuah naskah dari seorang yang benar-benar menulis hingga menciptakan sebuah naskah itu tidak cuma pandai menggoreng telor ceplok saja. Tetapi, untuk melahirkan sebuah buku berbobot, maka seorang penulis harus bisa meracik telor ceplok itu memiliki aroma luar biasa yang berbeda sehingga sajian kata-kata dan isi naskah bukunya benar-benar lahir dari tangan seorang penulis yang memang menulis dengan bagus sekali…

Jadi sebuah buku itu tidak hanya dilahirkan dari orang yang hanya berkeinginan menulis saja, akan tetapi juga didukung oleh kemampuannya menulis. Nah, untuk mendampingi kelahiran tulisannya itu, maka penulis itu membutuhkan jasa seorang bidan “bernama editor’ yang mampu meracik lebih baik lagi keseluruhan isi buku si penulisnya.

Kerjasama kemitraan yang harmonis antara penulis dan editor akan membentuk benang merah. Editor yang berpengalaman dengan mudah akan mampu “meramalkan” buku si penulis yang digarapnya itu akan meledak di pasaran atau hanya jalan ditempat rak buku saja.

Di tangan editor, dia harus mampu mengubah buku yang buruk menjadi “buku yang bagus” atau best seller di pasar buku. Menurut hitungan matematika seorang editor, buku yang bagus belum tentu laku dan buku yang laku belum tentu bagus juga loh?!

Jadi proses ‘mencari dan menemukan sebuah naskah hebat” itu gak gampang ! butuh waktu lama penciuman seorang editor mencari dan menemukan sebuah naskah bagus dari tumpukan naskah kiriman orang–orang yang mengaku penulis, namun ketika naskahnya dibaca oleh sang editor, isi tulisannya ada yang masih setengah matang kata-katanya.

Lewat indera penciumannya, seorang editor mampu mengendus-endus sebuah naskah hanya lewat kata-kata dari tulisan yang ia baca. Jadi mencari seorang ‘penulis yang benar-benar menulis’ itu tidaklah mudah. Sehingga banyak fenomena lahir buku yagn ditulis bukan oleh seorang penulis, tetapi lahir dari orang yang hanya ingin menulis saja…

Jadi betapa sulitnya sebuah penerbitan buku mencari seorang penulis ya? yaitu mencari dan menemukan seorang penulis yang benar-benar menulis yang bermula dari sebuah ide-ide gila mereka yang kemudian dengan keterampilan yang terlatih mampu meracik rangkaian kata-kata menjadi sebuah buku yang hebat.

Beruntunglah Anda jika bertemu dengan seorang editor yang sangat sensitif yang dapat mencium aroma tak sedap dari kata-kata yang sudah kita tulis..  dia akan langsung komentar pedes: “Aduh itu tulisan apa sampah sih?”

Oleh karena itu, para kompasianer agar tidak merepotkan admin, jangan mengirimi tulisan yang berbau … karena admin kompasiana pun tentu memiliki editor yang penciumannya tajam bisa mencium aroma kata-kata yang kita tulis ini layak atau tidak layak tuk dimasukkan …

Untuk mencari penulis yang punya ide atau gagasan itu banyak sekali, tetapi untuk mencari atau menemukan penulis yang bisa menulis itu gak mudah!

Tetapi hal terpenting bagi seseorang yang memang berkeinginan menjadi penulis adalah kemauan mereka berlatih menulis, salah satunya melalui media kompasiana ini.  Siapa tahu kelak Anda akan menjadi calon penulis hebat yang dapat menyihir banyak pembaca melalui rangkaian kata-kata yang Anda tulis.
13211661781468938177

Tags: Array

Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Menyiasati Kejenuhan Menulis

Memasuki tahun ke 4 di Kompasiana pernah dalam satu tahun ...

Menulis, Bukan Untuk Menutupi Status Pengangguran

Menulis itu hak siapa saja. Bahkan burung-burungpun menulis ketika ia ...

Kompasianer, Mari Belajar Menulis dari Bu Anni  

Ada seorang penulis di Kompasiana belakangan ini yang fenomenal. Namanya ...