Puisi adalah salah satu bentuk tulisan terpopuler yang digandrungi banyak Kompasianer. Tapi saat saya memperhatikan puisi-puisi yang tayang di Fiksiana, banyak Kompasianer yang nampaknya kesulitan membuat bait baru yang seharusnya berjarak dari bait di atasnya. Atau ada juga yang setiap barisnya berjarak semua, sehingga sulit dibedakan mana baris mana bait puisi.
(Definisi puisi dan penjelasan lengkapnya bisa dibaca di artikel berjudul “Puisi: Pengertian dan Unsur-unsurnya“).
Sebenarnya, apa yang akan saya jelaskan di sini adalah sebuah teknis dasar dalam membuat baris baru yang dihasilkan saat kita menekan tombol Enter pada papan tuts. Baris baru ini ada yang berjarak dan ada yang tidak berjarak. Saat ingin membuat paragraf baru, yang dibutuhkan jelas baris yang berjarak, sehingga tampilan antar-paragraf tidak berdempetan. Tapi ada beberapa Kompasianer yang juga kesulitan membuat paragraf baru sehingga tulisan panjangnya jadi menyatu tanpa jarak-paragraf.
Kenapa itu terjadi? Mari kita belajar sedikit soal kode HTML dasar.
Untuk membuat baris baru dalam penulisan teks, ada dua perintah yang dikenal, yaitu:
Untuk membuat Paragraf, Anda cukup menekan tombol Enter pada papan tuts. Enjin-tulis-konten di Kompasiana dan beberapa blog lain termasuk Wordpress secara otomatis memasukkan kode < p > < /p > begitu tombol Enter ditekan.
Bila Anda ingin membuat Break, maka yang harus Anda lakukan adalah menekan tombol Shift+Enter secara bersamaan. Prakteknya, pertama-tama tekan dulu tombol Shift lalu tahan. Setelah itu tekan tombol Enter dengan tetap menekan tombol Shift.
Berikut saya sertakan contoh puisi yang ditulis oleh Yan Latifah sejam lalu. Setiap baris puisi memiliki jarak, sehingga batas satu bait dengan bait berikutnya tidak terlihat jelas. Sepertinya puisi ini ditulis di aplikasi MS Word dengan menekan tombol Enter dua kali di setiap akhir baris:
Duhai Akhwat …Yang memiliki iman di hati
Dengarlah suara hati para ikhwan
Sudahi menebar simpati
Hentikan bermanja pada kami
Kami ikhwan biasa yang tidak suci
Yang ingin teguh di jalan Ilahi.
Duhai Akhwat …
Yang memiliki malu, hormat & martabat
Kami adalah pria biasa yang mudah terpikat
Iman kami tidak sekuat para Nabi & Sahabat
Fotomu bertebaran menggoda & mengusik syahwat
Kecantikanmu menembus hati yang taat syariat.
Saya lalu mengetik-ulang puisi di atas dengan menggunakan teknik Paragraf dan Break. Berikut hasilnya:
Duhai Akhwat… [Shift+Enter]
Yang memiliki iman di hati [Shift+Enter]
Dengarlah suara hati para ikhwan [Shift+Enter]
Sudahi menebar simpati [Shift+Enter]
Hentikan bermanja pada kami [Shift+Enter]
Kami ikhwan biasa yang tidak suci [Shift+Enter]
Yang ingin teguh di jalan Ilahi. [Enter]
Duhai Akhwat… [Shift+Enter]
Yang memiliki malu, hormat & martabat [Shift+Enter]
Kami adalah pria biasa yang mudah terpikat [Shift+Enter]
Iman kami tidak sekuat para Nabi & Sahabat [Shift+Enter]
Fotomu bertebaran menggoda & mengusik syahwat [Shift+Enter]
Kecantikanmu menembus hati yang taat syariat. [Enter]
Bila Anda mengetik puisi di MS Word, pastikan saat Anda menekan tombol Enter di akhir baris, otomatis menghasilkan Paragraf (paragraf baru dengan jarak)–bukan Break (baris baru tanpa jarak). Setelah itu, pindahkan ke Kompasiana dengan menggunakan tombol Paste from Word.
Bila pengaturan dasarnya tidak seperti itu, maka sebaiknya Anda mengetiknya langsung di halaman Tulis Kompasiana.
Selamat mencoba.
#gudlak
JET
Catatan: Anda juga bisa mencoba teknik ini saat menulis artikel biasa yang memerlukan kombinasi baris dan paragraf.
Banyak yang mendefinisikan pengertian penulis dalam arti yang berbeda-beda. Ada ...
Beberapa rekan saya di Kompasiana ini adalah para penulis fiksi ...
Jika Kahlil Gibran membuat ungkapan : “Cinta seperti burung dara, ...