Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Puisi yang Berbentuk Prosa

REP | 01 November 2011 | 21:44 Dibaca: 3487   Komentar: 15   9

Puisi yang berbentuk prosa merupakan perkembangan style puisi. Bila dahulu puisi terikat oleh berbagai aturan dan ketentuan yang membelenggu (misal mengenai jumlah larik dalam satu bait, bentuk tubuh puisi, pola sajak dll), maka kini puisi sudah mendapatkan ‘padang’ yang mahaluas untuk mengembalakan kata-kata. Puisi tak lagi diatur (tepatnya dibelenggu) oleh berbagai ketentuan seperti diatas dalam penyampaian isi (makna). Puisi sekarang adalah puisi yang merdeka, bebas dari segala macam ikatan walau tanpa meninggalkan jejak kepuitisannya.

Puisi dalam bentuk  prosa dalam pandangan saya berbeda dengan parafrase. Bila parafrase adalah memprosakan puisi alias menjabarkan bentuk puisi yang telah ada menjadi sebuah prosa maka puisi berbentuk prosa adalah murni style puisi yang ditulis seakan akan rangkaian kalimat prosa.
Berikut ini saya ambil contoh dari penggalan dua puisi saya di  sini dan di sini.

Di ujung paragaraf  kuingatkan dengan selarik oktaf, aku tak punya madu yang bisa memberi manis minumanmu. Aku tak punya bintang yang dapat menerangi gelapmu. Yang kupunya hanya rintik hujan tempat kita bermain sehari hari dengan bebas. Tempat kita  berlari dalam deras. Tempat kita bisa tertawa dan menangis lepas.
dan
Pada persimpangan waktu yang masih kau miliki masih kau bisa kau hirup masih bisa kau tulisi, nyanyikanlah serenada manis, semanis gerimis yang dapat dinikmati banyak orang. Semanis gerimis untuk mereka yang menggersang. Sesegar air untuk mereka yang kehausan. Untuk mereka, semua yang mengharapkanmu, membutuhkanmu, dan mencintaimu dengan caranya masing masing.

Sekilas dua paragraf di atas seperti paragraf pada sebuah prosa. tapi saya lebih menyebutnya sebagai puisi yang dibentuk dengan style prosa. Alasan yang pertama adalah adanya unsur sajak yang yang berbaur dalam paragraf tersebut. Alasan yang kedua yakni terlukisnya ekspresi perasaan dari si penulis. Walau ada sebagian yang mungkin menganggap itu prosa liris namun dalam hemat saya lebih condong ke puisi yang berbentuk prosa. Prosa mungkin bisa beraroma puitis namun sekali lagi saya tekankan sebuah puisi mengandung ekspresi perasaan dari penulisnya, hal yang berbeda dengan sebuah prosa.(idr/01112011)


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: