Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Puisi yang Berbentuk Prosa

REP | 01 November 2011 | 21:44 Dibaca: 3615   Komentar: 15   9

Puisi yang berbentuk prosa merupakan perkembangan style puisi. Bila dahulu puisi terikat oleh berbagai aturan dan ketentuan yang membelenggu (misal mengenai jumlah larik dalam satu bait, bentuk tubuh puisi, pola sajak dll), maka kini puisi sudah mendapatkan ‘padang’ yang mahaluas untuk mengembalakan kata-kata. Puisi tak lagi diatur (tepatnya dibelenggu) oleh berbagai ketentuan seperti diatas dalam penyampaian isi (makna). Puisi sekarang adalah puisi yang merdeka, bebas dari segala macam ikatan walau tanpa meninggalkan jejak kepuitisannya.

Puisi dalam bentuk  prosa dalam pandangan saya berbeda dengan parafrase. Bila parafrase adalah memprosakan puisi alias menjabarkan bentuk puisi yang telah ada menjadi sebuah prosa maka puisi berbentuk prosa adalah murni style puisi yang ditulis seakan akan rangkaian kalimat prosa.
Berikut ini saya ambil contoh dari penggalan dua puisi saya di  sini dan di sini.

Di ujung paragaraf  kuingatkan dengan selarik oktaf, aku tak punya madu yang bisa memberi manis minumanmu. Aku tak punya bintang yang dapat menerangi gelapmu. Yang kupunya hanya rintik hujan tempat kita bermain sehari hari dengan bebas. Tempat kita  berlari dalam deras. Tempat kita bisa tertawa dan menangis lepas.
dan
Pada persimpangan waktu yang masih kau miliki masih kau bisa kau hirup masih bisa kau tulisi, nyanyikanlah serenada manis, semanis gerimis yang dapat dinikmati banyak orang. Semanis gerimis untuk mereka yang menggersang. Sesegar air untuk mereka yang kehausan. Untuk mereka, semua yang mengharapkanmu, membutuhkanmu, dan mencintaimu dengan caranya masing masing.

Sekilas dua paragraf di atas seperti paragraf pada sebuah prosa. tapi saya lebih menyebutnya sebagai puisi yang dibentuk dengan style prosa. Alasan yang pertama adalah adanya unsur sajak yang yang berbaur dalam paragraf tersebut. Alasan yang kedua yakni terlukisnya ekspresi perasaan dari si penulis. Walau ada sebagian yang mungkin menganggap itu prosa liris namun dalam hemat saya lebih condong ke puisi yang berbentuk prosa. Prosa mungkin bisa beraroma puitis namun sekali lagi saya tekankan sebuah puisi mengandung ekspresi perasaan dari penulisnya, hal yang berbeda dengan sebuah prosa.(idr/01112011)


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tren Selfie Ekstrem, Gangguan Kejiwaankah? …

Weka Bhagawan | | 31 January 2015 | 15:03

Perjalanan Menantang Maut Guru SM3T di …

Fi La | | 31 January 2015 | 11:40

Peringkat Badminton Makin Membumi, Indonesia …

Sahroha Lumbanraja | | 31 January 2015 | 12:41

Windows 10 Preview #Edisi Januari, Hampir …

Kembang_jagung | | 31 January 2015 | 14:58

Dari Undangan Diskusi di Kompasiana TV; …

Subronto Aji | | 31 January 2015 | 08:45


TRENDING ARTICLES

Niat Jokowi Tidak Akan Torehkan Cacat …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Musni Umar: Save Jokowi Walau Dapat Rapor …

Musni Umar | 8 jam lalu

Fakta Menjelang Jatuhnya QZ8501 Mulai …

Mas Wahyu | 11 jam lalu

Topeng Ketua KPK Abraham Samad Dibeberkan …

Edi Abdullah | 11 jam lalu

Siapa yang Bakal Terdepak dari Istana? …

Anis Kurniawan | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: