Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Jumari ꦏꦁꦙꦽꦃꦼꦄꦸꦼ

Damailah jiwa raga dalam pengetahuan.

Pendakian Gunung Lawu

REP | 07 July 2011 | 05:03 Dibaca: 1456   Komentar: 2   1

13099710631303883758Sudah hampir 4 tahun saya tidak mendaki gunung yang satu ini. Bagi teman yang suka dengan hoby yang satu ini bisa jadikan gunung ini untuk latihan. Gunung Lawu, itulah namanya, berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, terdapat di antara 4 Kabupaten, sebelah selatan ada Kabupaten Wonogiri, Utara Kabupaten Sragen, Barat Kabupaten Karanganyar sedangkan timur terdapat Kabupaten Magetan, yang jika diturut dengan seksama antara Kabupaten Magetan dan Sragen pasti melewati Kabupaten Ngawi.

Gunung Lawu memiliki ketinggian 3.265 m di atas permukaan laut. Tempat pendakian yang biasa digunakan ada 2, yaitu basecame Cemarasewu dari Jawa Timur, dan Cemarakandang dari Jawa Tengah. Gunung ini memiliki banyak sekali peninggalan sejarah, seperti Candi Cetha dan Candi Sukuh dari sisi barat. Sedangkan tempat rekreasi lainnya seperti telaga Sarangan, Grojogan Sewu (Tawangmangu), kebuh teh sepanjang perjalanan ke candi Cetha, dan bumi perkemahan serta wana wisata lainnya. Sebenarnya masih banyak lagi air terjun yang bisa kita temukan di wilayah sekitar gunung ini, sebagian mudah ditempuh dengan bersepeda motor, dan sebagian lagi harus berjalan kaki. Seperti di wilayah telaga Sarangan ada sebuah air terjun yang masih bagus, pernah sekali saya pergi kesana, perjalanan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki dan mendaki.

Perjalanan pendakian gunung Lawu ini awalnya hanya dari basecame Cemarasewu, karena di sana jalannya sudah

13099715941941404020

Jalak LAwu

tertata rapi dengan batu dari basecame hingga puncak. Konon ceritanya nih yang buat adalah Brawijawa terakhir yang tersohor dengan Sunan Lawu. Makam beliaupun ada di puncak Arga Dalem, dataran luas seperti sabana dan di batu-batu itu tertata rapi dari bawah menuju makan tersebut. Keunikan mendaki gunung Lawu ini adalah ketika kita mendaki gunung di siang hari. Pernah sekali saya melakukannya berdua bersama teman saya. Keunikan dan keanehannya adalah kita selalu diberi petunjuk oleh seekor burung yang sering disebut dengan nama Jalak Lawu. Burung ini selalu berada di depan kita, kadang sebentar menghilang, tetapi di kelokan jalan akan ketemu lagi. Konon bagi pendaki yang tidak menemukan burung itu lagi berarti dia tersesat.

Sepanjang perjalanan lewat jalur Cemarasewu ini kita akan menemukan 6 titik pemberhentian yang disediakan semacam gubug untuk istirahat yang biasa dikenal dengan Pos istirahat. Dari basecame menuju pos satu perjalan kira-kira 1 jam lebih sedikit, di dalam perjalanan kita akan menemukan sendang Panguripan. Oh ya lupa sebelum memasuki area basecame lebih afdol lagi kalau calon pendaki mandi di sendang Lanang bagi yang cowok dan sendang Wadon bagi yang cewek, tetapi airnya wow lumayan cool. Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 lumayan jauh, untuk itu ketika ketemu sendang Panguripan lebih enaknya menambah bekal air yang dibawa. Pos 2 ini masih terletak di dalam hutan yang lebat dan alami, sayang sekarang para pencari kayu bakar sudah menjarahnya sampai kesana. Menuju ke pos 3 jalan pendakian makin menghabiskan tenaga karena makin terjal, tetapi masih lumayan, karena tiap posisi pindah bukit ada bonus jalan landai enak untuk berlenggang kangkung. Setelah Pos 3 ini dijamin stamina kita digenjot habis-habisan. Maka saran saya, istirahat yang lama di pos 3, karena pos ini nyaman, terlindung bukit batu yang tinggi. Sehingga udara dingin berkurang. Setiap 10 langkah menuju pos 4 bagi pemula pasti sudah ngos-ngosan. Dan jarak tempuhnya makin jauh, sama sekali tidak ada bonus di perjalanan pos 3 ke 4 ini. Kebanyakan pendaki kalau sudah sampai pos 4 akan beristirahat sambil membuka bekal mie rebusnya dan memasaknya untuk tambah energi.

13099717601581727547

Situs Candhi Cetha

Perjalanan dari pos 4 ke pos 5, sangat menyenangkan, karena posisi pos 4 ini sebenarnya hampir sampai puncak arga dalem. Ingat puncak lawu ada 2 yaitu argadalem (tempat makam Brawijaya) dan Argadumilah puncak sesungguhnya. Perjalanan dari pos 4 ini kita akan menemukan sebuah sumur yang diberi nama Sumur Jalatundha, karena kalau berkenan mengambil air kita harus masuk sebuah lubang mirip gua, dan jalannya turun, karena sebuah sumur, hingga menemukan air di dalam sana, kira-kira sekitar 15 m ke bawah, bawa lampu karena gelap. Setelah sumur Jalatundha kita berlenggang pindah bukit menuju ke sebuah sabana luas, dan di sana terdapat sebuah sumur lagi yang diberinama Sendang Derajad, konon sendang ini berisi ketika musim kemarau atau tepatnya di bulan Sura, selain itu tidak ada airnya. Setelah sendang Derajad, kita masih berlenggang di sabana yang luas menuju Pos 5 yang tepatnya di dekat Makam atau puncak Argadalem. Para pendaki yang berburu terbitnya matahari biasanya menginap di sini, karena tepat ini luas, seperti lapangan, 3 kali lapangan sepakbola lebih. Konon dulu tepat berdebatnya Brawijaya dengan Sunan Kalijaga.

130997147734481512

Tugu di Puncak Argadumilah

Setelah istirahat secepatnya kita berburu sunrise dengan mendaki menuju puncak argadumilah, sekitar 2 jam perjalanan. Dan jalannya juga makin rapi penataan batunya. Tetapi sekrang rusak, karena kebanyakan pendaki mencoba mencari jalan alternatif sendiri supaya cepat sampai puncak. Mohon jangan mencoba, karena kebanyakan orang hilang di wilayah ini dan wilayah pos 3 menuju pos 4 baik itu dari jalur Cemarasewu dan Cemarakandang. Sesampai puncak, di sana terdapat seperti taman dan makin indah bebatuan yang di tata rapi, sehingga memungkinkan untuk beristirahat. Angin di puncak begitu besar, jadi hati-hatilah karena tidak ada pohon besar lagi di sana, pohonya tidak bisa tumbuh, yang tumbuh kebanyakan pohon bunga adelfeis. Selamat mencoba, dan jika butuh teman, saya siap menemani jika waktu luang.

Oh ya, bagi teman yang pemula dan merasa keberatan membawa bekal, disarankan mendaki dengan membawa uang di awal bulan Sura. Karena hari itu sepanjang jalan mendaki terdapat banyak penjual, harganya makin naik makin mahal. Aneka makanan instan, indomie rebus dan lain sebagainya, tidak lupa minuman kopi panas, yang jika tidak hati-hati lidah kita bisa kenyos, karena dianggap dinggin. Penjual makanan dan minuman ini ada sejak 3 hari menjelang hari H. Selamat berwisata yang melelahkan tetapi asyik.

Foto-foto hasil browsing di google dengan kata kunci “Gunung Lawu”, berhubung foto koleksi saya pribadi ada tapi belum saya scan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

10 Tips untuk Komedian Pemula …

Odios Arminto | | 21 October 2014 | 01:11

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 3 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Indonesia Jadi Tuan Rumah Lagi di Piala AFF …

Djarwopapua | 11 jam lalu

BJ Habibie, Bernard, dan Iriana Bicara …

Opa Jappy | 15 jam lalu

Mie Instan vs Anak Kost (Think Before Eat) …

Drupadi Soeharso | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Mungkinkah? Entah! …

Aisditaniar Rahmawa... | 7 jam lalu

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | 7 jam lalu

Mendayung Di Sungai Ayung …

Aisditaniar Rahmawa... | 8 jam lalu

Apakah Emoticon Benar-benar Mewakili …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Ada Cinta #14 : Bintang Jatuh …

Ryan M. | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: