
Salah satu dari bermilyar-milyar manusia yang ada di dunia ini yang terus berusaha menyeimbangkan segala sesuatu, terus berbuat baik dan punya impian untuk jadi "kutu loncat" dunia. Amiinn :) Jangan lupa utk mampir dan follow http://juztiwi.blogspot.com/, http://creativesistaz.blogspot.com dan http://bagibagibahasa.blogspot.com/. Terima kasih :)
Dibaca: 52
Komentar: 3
Nihil
Sebagian koleksi Pak Mentri.
Pernahkah Anda mendengar ungkapan “Uangmu uangku, uangku uangku?” Pada dasarnya, kurang lebih itulah hak yang diperoleh setiap wanita ketika sudah menikah. Penghasilan suami diwajibkan untuk menafkahi istri dan keluarga, namun tidak untuk sebaliknya. Apabila saya sudah menikah kelak, ingin sekali menambah satu ungkapan lagi, yaitu “Bukumu bukuku, Bukuku bukuku.” Kenapa? Karena koleksi buku Pak Mentri (panggilan calon suami) tersayang begitu menarik dan menggiurkan (tentunya untuk dimiliki, bukan untuk dimakan).
Selain film, kami sangat mencintai buku. Pak Mentri seorang kutu buku, begitupun juga dengan saya. Panggilan Pak Mentri sebenarnya juga tercipta karena ia memiliki banyak buku dan film. Panggilan Pak Mentri tentu lebih keren daripada Pak Perpus. Kami terobsesi dengan buku. Akan tetapi, terdapat perbedaan di antara kami berdua. Pak Mentri selalu mengutamakan belanja buku tiap bulan, sedangkan saya, menunggu hasil belanja beliau saja (gretongan minded, tapi ada yang saya beli sendiri juga kok ;) ). Alhasil, selama perjalanan kami hingga saat ini, saya melihat sendiri koleksi Pak Mentri bertambah hingga rak penuh dan buku-buku barunya ‘terpakasa’ bermigrasi ke kursi kamarnya.
Koleksi Pak Menteri yang telah bermigrasi.
Bukulah juga yang mendekatkan kami. Ketika saya mengamati koleksi Pak Mentri untuk pertama kali, saya merasa sangat familiar dan nyaman, seperti berada di rumah sendiri. Hal yang serupa juga dirasakan olehnya. Di dalam koleksinya terdapat berbagai macam genre. Selain buku-buku tentang arsitektur (kami berasal dari jurusan yang sama sewaktu kuliah), sastra, seni dan budaya, yang paling saya suka dari koleksinya adalah buku-buku sejarah. Saya memang suka sejarah sejak SMA, dan senang sekali melihat ada beberapa buku yang sudah lama saya incar ternyata sudah anteng nangkring di rak bukunya. Salah satu contoh adalah Perang Salib III karya James Reston, Jr. Ada juga beberapa buku yang secara tidak sengaja telah saya kembarin alias saya juga punya misal Jakarta Tunggang Langgang gubahan Marco Kusumawijaya. Kebetulan yang menyenangkan, ge-er bin bangga deh jadinya hehe.
Bukulah juga yang menguatkan hubungan kami. Selama bersamanya, aktifitas kami tidak jauh dari membahas buku dan topik-topik aktual serta jalan-jalan dan nonton film tentunya. Semua bisa kami bahas bersama dengan asyiknya. Bisa diistilahkan dengan mind orgasm mungkin? Hehe. Dari hal-hal tersebut, saya bisa sedikit menyimpulkan bahwa buku kurang lebih telah membentuk karakter kami secara individu maupun sebagai pasangan.
Dari buku, kita mempelajari ilmu tentang berbagai hal dan ilmulah juga yang membuka pikiran kita. Terbukanya pikiran muncul dari tiadanya ego. Ketika membaca buku, kita tidak menggunakan ego bukan? Karena kita membaca ‘apa adanya.’ Di saat pikiran sudah terbuka, untuk saling mendengarkan dan memahami menjadi lebih mudah untuk dipraktekkan. Alhasil, dengannya saya menjalani hubungan yang stabil. Jarang sekali kami bertengkar dan menyelesaikan masalah dengan sulutan emosi. Kami lebih memilih untuk saling mendengarkan dan memahami alih-alih saling menyalahkan dan menyudutkan. Kami beropini dengan sehat, tanpa ego. Tiada yang menang maupun kalah. Kami menuntaskan segala sesuatu bersama, setara.
Selama perjalanan kami, tidak jarang imajinasi saya melintas jauh. Seringkali terbayang keluarga kecil nan cerdas yang saya impikan bersamanya. Terbayang, pada suatu petang, suami dan anak sulung di sudut ruang perpustakaan rumah sedang berdebat ringan mengenai paham modernism dan dekonstruksi dalam arsitektur. Di sudut ruangan yang lain, saya dengan si bungsu asyik membuat book report Harry Potter and the Prisoner of Azkaban mahakarya JK. Rowling dalam bentuk sketsa. Kala itu, buku telah menjadi nyawa rumah kami, mencerdaskan sekaligus memberi keharmonisan. Bukankah keluarga yang harmonis adalah impian tiap insan?
Semoga bisa tercapai, ya Tuhan. Semoga. :)
Barangkali, pada akhirnya ungkapan “Bukumu bukuku, Bukuku bukuku” terdengar sedikit terlalu egois. Koleksi buku yang bagus memang terlalu menggiurkan untuk dimiliki seutuhnya. Ilmu yang tidak diamalkan bagaikani pohon yang tidak berbuah, begitupun juga dengan buku apabila tidak dibaca dan dibagikan bersama keluarga dan masyarakat. Maka dari itu, ungkapan tersebut lebih layak diubah menjadi “Bukumu bukuku, Bukuku bukumu.”
Untuk kepentingan bersama, mencerdaskan semua, berbagi memang lebih baik dan menyenangkan bukan? :)
Semoga kita semua dapat senantiasa berbagi ilmu dan berbagi buku :)
Sumber gambar: Dokumentasi pribadi.