Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Permainan Tradisional Paling Indonesia

OPINI | 19 May 2011 | 14:48 Dibaca: 305   Komentar: 4   0

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan beberapa teman  di zaman SD,ceritanya reuni kecil-kecilan.Ingatan kami kembali ke masa-masa kami masih lugu,sering berantem,main bersama,mandi di kali,mencari buah-buahan di hutan dan banyak lagi keseruan lainnya.Ingin rasanya mengulang masa kanak-kanak tersebut,kalau bisa ingin rasanya seperti Peterpan yang menjadi anak-anak terus semasa hidupnya.

Tidak seperti anak-anak zaman sekarang,di masa saya dulu belum banyak permainan yang berhubungan dengan teknologi,kalaupun ada belum tentu masuk ke kampung kami.Hanya anak-anak tertentu yang bisa memilikinya jika dia mempunyai orang tua yang berduit.

Dulu saya paling suka main bentengan.Permainan ini terdiri dari dua kelompok,tiap kelompok terdiri dari lima orang. Satu orang untuk menjaga benteng pertahanan,dua orang menjadi tawanan dan sisanya bertugas untuk menyelamatkan tawanan tersebut.Kelompok yang menang adalah mereka yang berhasil menyelamatkan temannya terlebih dahulu.Permainan ini cukup membuat kita berkeringat karena menuntut kita untuk berlari sepanjang area permainan dan setiap orang tidak boleh keluar dari area tersebut selama permainan berlangsung.

13058130041252477985

Poseku ketika lagi menjaga benteng

Permainan lain yang tidak kalah seru yang sering saya lakukan adalah petak jongkok.Jika kita dikejar lawan dan hampir tertangkap,kita tinggal jongkok dan kitapun urung ditangkap.Tapi kalau tertangkap kita gantian yang mengejar lawan.

Yang lebih menantang lagi adalah tengkak-tengkak ,yaitu mainan yang terbuat dari bambu yang dibuat seperti tangga,jadi posisi tubuh kita menjadi lebih tinggi ketika menggunakannya.Permainan ini hampir saja membuat saya terjatuh karena tidak seimbangnya tubuh saya ketika itu.Foto di bawah ini adalah orang yang sedang bermain tengkak-tengkak.

1305814370661529376

Kenangan saya kembali berkelana ke masa kami bermain sepak tekong,satu orang menjaga kaleng kecil yang kami sebut tekong.Orang tersebut harus mencari teman-temannya yang bersembunyi dan jika dia melihat kami,dia harus menyebutkan nama orang yang dia lihat dan harus menemukan semua orang yang bersembunyi.Jika dia lengah,bisa saja tekong ditendang oleh salah satu orang yang sedang bersembunyi dan konsekuensinya yang tertangkap boleh berlari untuk bersembunyi lagi.Ketika bersembunyi saya pernah ketiduran di atas batu di dekat sungai,untung saja air sungainya  tidak deras dan meluap.Permainan sepak tekong baru dianggap selesai jika semua orang yang bersembunyi tertangkap dan yang menjaga berikutnya adalah dia yang ditangkap duluan,tapi bisa juga sistem undi dan penjaga sebelumnya otomatis ikut bermain,tapi tidak sebagai penjaga lagi.

Sebenarnya masih banyak lagi permainan yang saya lakukan dulu sewaktu bocah.Permainan tersebut selain menyenangkan karena tidak jarang membuat kita tertawa dan menyehatkan karena melakukan aktivitas fisik seperti berlari,juga nyaris tanpa biaya.Untuk menang dalam permainan,kami juga harus memutar otak dalam menyusun strategi.Bahkan kemampuan berkomunikasi,memimpin,kejujuran,disiplin, bekerja secara individu dan kerja tim juga bisa terasah dari permainan-permaianan tradisional tersebut.

Tapi saya sekarang suka sedih karena hampir tidak pernah lagi melihat anak-anak melakukan permainan tradisional baik di desa atau di kota.Selain sikap individualis semakin meningkat termasuk di kalangan anak-anak,tidak tersedianya lahan untuk tempat bermain terutama di kota-kota besar,mungkin juga karena mereka sudah disibukkan oleh permainan yang berbau teknologi seperti internet sehingga mereka tidak familiar dengan permainan tradisional.

Permainan tradisional tersebut adalah budaya asli bangsa Indonesia,bahkan permainan galasin atau gobak sodor berhasil masuk rekor MURI Dunia untuk peserta permainan paling banyak pada tanggal 10 April 2011.Ayo kita kenalkan dan ajak anak-anak,adik,keponakan kita yang masih kecil untuk mengenal dan mencintai permainan tradisional Indonesia karena merekalah yang akan melestarikan budaya bangsa ini nantinya.Kalau tidak bersedia,jangan salahkan jika ada negara lain yang mengakui kalau permainan tersebut berasal dari negara mereka.

@HendraEkaPutr4

Tags: telkomsel

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | | 30 August 2014 | 16:19

Makna Perjalanan Adalah Menambah Sahabat …

Ita Dk | | 30 August 2014 | 13:06

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 11 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 11 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 13 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Seorang Aktivis Papua Hilang, Presiden SBY …

Samson Noken | 8 jam lalu

Kurikulum Baru, Belum Matang Sudah Panen …

Alifah Saleha | 8 jam lalu

Peranku bagi Indonesia …

Wiranota Hesti | 8 jam lalu

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | 8 jam lalu

Penampilan Wadyabala Kanjuruhan dan …

Mas Ukik | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: