Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Agus Hermawan

Pendidik di SMA Negeri 26 Bandung

Kelahiran Buku Pertamaku

OPINI | 20 February 2011 | 08:11 Dibaca: 135   Komentar: 10   2

Ketika saya mendapat partanyaan, “Kok pak Agus bisa-bisanya menulis buku?”

Sepertinya pertanyaan ini biasa-biasa saja bahkan tidak ada yang unik sama sekali. Tetapi bisa menjadi aneh karena pertanyaan ini meluncur dari mulut seorang kawan yang telah lama mengenal dan bergaul dengan saya. Kawan ini, mengenal bahwa saya adalah seorang guru mata pelajaran kimia.

Lho apanya yang aneh? Menurut kawan ini, bisa-bisanya seorang guru kimia menulis buku non fiksi yang jauh dari dunia kimia. “Bisa dong! Kan saya manusia heheh…” jawab saya singkat. Saya tidak berniat menceritakan dialog kami secara langsung namun melalui tulisan ini, perbincangan tersebut, semoga oleh pembaca dapat diprediksi kelanjutannya dengan skenario ala masing-masing. Weleh weleh ngerjain nih!

Buku pertama ini (“Agar Otak Tidak Beku Ajaklah Otak Berselancar”) lahir terpecut olah murid-murid saya yang beberapa tulisannya malah muncul di surat kabar daerah. Begini ceritanya. Selain mengampu mata pelajaran kimia tentu saja selaku pendidik, seorang guru biasanya mendapat tugas tambahan dari Kepala Sekolah. Ada yang ditugaskan sebagai wakil kepala sekolah, wali kelas, pembina OSIS, pembina berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Nah, suatu waktu saya mendapat tugas menjadi pembina ekstrakurikuler Majalah Dinding—yang kemudian berkembang menjadi Majalah Sekolah dan terakhir menjelma menjadi Jurnalistik—yang kegiatannya tentu saja seputar bagaimana mengisi dua lembar kertas kartun ukuran besar yang masih kosong dengan beberapa karya siswa, baik berupa artikel, karikatur, cerpen, puisi, humor, dan lain-lain yang menjadi topik aktual saat penayangan.

Tentu saja saya harus membimbing mereka dalam mengisi topik-topik di atas. Lagi pula, selaku pembimbing otomatis harus mengarahkan mereka untuk mengisi dalam bentuk tulisan baik fiksi maupun non fiksi. Jadilah saya kerap menjelajah toko-toko buku untuk mencari buku yang kiranya dapat membantu mengisi otak agar mampu membimbing mereka.

Aneh bin ajaib—guru kimia ini—dalam membimbing murid-murid ekstarkurikuler Mading, penjelasan saya seringkali memesona, sehingga memicu mereka untuk mengirimkan karyanya baik berupa resensi buku atau artikel ke surat kabar, eh malah dimuat. Jadi tidak hanya sekedar berkarya untuk Mading tapi lebih jauh dari itu.

Terlalu berparagraf-paragraf bila saya ceritakan akibat “ketersinggungan” saya didahului murid-murid yang karyanya dimuat di surat kabar. Singkatnya, tulisan-tulisan saya menyusul tulisan-tulisan mereka tampil di koran harian kebangaan Jawa Barat ini. Dan bertahap namun konsisten, saya pun terus menulis, tanpa begitu memerdulikan aturan menulis—yang kerapkali menghambat—artikel demi artikel bermunculan.

Wah, dihitung-hitung artikel saya sudah banyak. Dengan tekad untuk berbagi, saya pun berniat melahirkan buku agar sekalipun kelak saya sudah tidak ada di alam ini, nama saya bakalan dikenal terus setidaknya oleh anak-cucu ketika melihat buku ini. “Buku ini ditulis oleh kakek saya lho…” ucap cucu saya sambil memarkan buku ini. Kelak.

Apalagi bila buku ini bisa menggugah sekaligus menginspirasi pembacanya untuk menulis, bisa-bisa bernilai ganda. Pembacanya akan selalu mengingat saya. Nama saya pun tercantum dalam daftar pustaka sebuah buku lain bila si penulisnya menggunakan buku ini sebagai salah satu rujukannya. Mantap kan? Heheheh….

Jadi, pembaca buku pertama saya ini lahir dari coba-coba. Dari coba-coba ini sudah ribuan—dilihat dari jumlah buku yang terjual—manusia yang telah menikmatinya. Ratusan sms yang memberikan apresiasi. Dan uniknya, “guru kimia juga bisa menulis lho”, sebagai pelengkap jawaban untuk pertanyaan kawan di atas. Bagaimana dengan kawan-kawan? Berbagi yuk….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 11 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 13 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PM Vanuatu Desak PBB Tuntaskan Dekolonisasi …

Arkilaus Baho | 7 jam lalu

Plus Minus Pilkada Langsung dan Melalui DPRD …

Ahmad Soleh | 7 jam lalu

Bantaran …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Indonesia Tangguh (Puisi untuk Presiden …

Partoba Pangaribuan | 8 jam lalu

UU Pilkada Batal Demi Hukum? …

Ipan Roy Sitepu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: