Back to Kompasiana
Artikel

Hobi

Mengenal Meditasi

OPINI | 09 January 2011 | 06:16 Dibaca: 884   Komentar: 6   3

1294553467966349640
bebibluu.blogspot.com

Meditasi adalah suatu disiplin dalam kebudayaan yang berupaya untuk meningkatkan kesadaran manusia. Jadi itu bisa dilakukan oleh siapa saja, dari bidang apa saja, asal merasakan suatu manfaat dari latihan tersebut. Tulisan ini hanya membahas hal-hal yang dasar saja, untuk membantu pemahaman para pemula yang tertarik melakukan olah pribadi melalui jalan meditasi. Uraian yang lebih menyeluruh saya tuliskan dalam beberapa bab—yang tengah saya persiapkan menjadi sebuah buku.

Lalu apakah yang dilakukan seseorang dalam meditasinya ketika ia sedang duduk bersila? Kita mulai dari dasar dulu. Yang jelas, dengan duduk bersila dan memejamkan mata, seseorang dituntut untuk bisa merileks-kan seluruh badannya. Dalam khasanah yoga, yang demikian itu disebut dyanna yoga, yaitu yoga yang dilaksanakan dengan berdiam diri, dengan posisi duduk tertentu. Dalam Budhisme meditasi semacam ini disebut sebagai satipana—bisa kita jumpai pada patung-patung Budha di candi Borobudur yang dalam sikap meditasi duduk dengan badan rileks-lunglai namun tulang punggung terjaga tegak-lurus—Setelah duduk rileks, lalu mengatur nafas. Atau tanpa mengatur nafas pun tak apa, dengan menghayati nafas seadanya yang keluar-masuk hidung. Dengan menghayati demikian lama-lama nafas menjadi teratur sendiri.

Jika sudah duduk tenang dan nafasnya sudah teratur, fikiran supaya berkonsentrasi meneliti secara rinci tingkat kerileks-an setiap organ. Apakah dahinya sudah betul-betul rileks? Lalu pipi, bola mata, hidung, daun telinga, bibir, dagu, kulit kepala, tengkuk, leher, pundak, tulang punggung, kulit punggung, tangan, dada, perut, pantat, paha, betis, telapak kaki, jari-jari kaki, pokoknya semuanya dicek. Kalau ada yang belum rileks, perintahkan agar rileks. Maksudnya, perintahkan dengan fikiran. Kalau sudah rileks, perintahkan untuk lebih rileks. Dan jangan lupa menghayati nafas. Nafas semakin teratur semakin baik. Nafas yang teratur akan turut membantu mengondisikan rileks, di samping melancarkan sirkulasi darah dan oksigen dalam tubuh. Setelah nafas teratur bisa ditingkatkan menjadi nafas yang lembut atau halus. Semakin halus semakin baik, sampai akhirnya nafas bisa dirasakan oleh seluruh badan kita. Dalam itulah diri kita merasa tenang dan damai.

Untuk pemula biasanya ada kendala kurang nyaman karena posisi duduk yang diatur. Biasanya kaki kesemutan sehingga mengganggu konsentrasi. Jika demikian, janganlah dipaksakan. Latihan sebentar dulu, 5 sampai 10 menitan cukup. Kalau rajin, dalam waktu seminggu insyaallah sudah tak kesemutan lagi. Akan Anda rasakan nanti betapa duduk yang diatur itu adalah suatu kenyamanan tersendiri. Nyaman, karena pengaturan posisi itu juga mempertimbangkan posisi alamiah badan kita.

Usahakan agar badan statis. Tidak bergerak-gerak, tetapi rileks. Itu kunci utama apabila mau memasuki tahapan meditasi yang lebih jauh lagi. Landasi pula dengan semangat yang kokoh, mantap, dan terbuka. Maka, dalam sikap duduk yang tenang, dengan tulang punggung yang lurus, dengan nafas yang teratur, fikiran meneliti seluruh organ tubuh agar betul-betul dalam kondisi rileks. Lakukanlah dengan penuh yakin. Dan berusahalah menjaga keheningan fikiran kita, tidak kisruh dan tergesa-gesa ingin mencapai ini dan itu yang tak jelas sasarannya. Nanti malah membuang waktu saja. Selesaikan dulu persoalan: bagaimana bisa duduk tenang dan rileks. Jika itu bisa dipenuhi, berbagai kemungkinan akan terjadi, sebab aktifitas ‘dalam’ meditasi tak seluruhnya dalam kendali fikiran. Dalam keseimbangan dan ketenangan tertentu bisa muncul suatu gerakan yang naluriah dari badan kita. Semisal, pada organ tertentu ada semacam desakan atau denyutan. Atau, badan kita dengan sendirinya bergoyang-goyang. Atau, ada hawa hangat yang merambat di dalam tubuh kita. Dan lain-lain lagi. Jika terjadi hal-hal semacam itu, ikutilah dengan tenang sampai meditasi selesai. Jika ketenangan tak bisa dihadirkan, jangan dipaksakan. Dengan pelan-pelan hentikanlah meditasi, dan ulanglah kembali dari awal.

Bagi yang sudah terlatih, rileksasi bahkan sangat mendetail sampai organ-organ dalam: jantung, hati, usus, lambung, ginjal, paru-paru, limpa, kelenjar timus, kelenjar tyroid, kelenjar thalamus, kelenjar hipothalamus, kelenjar pineal, kelenjar pituitary, kelenjar pancreas, syaraf-syaraf, sum-sum, tulang dan darah. Untuk bisa sampai itu orang tak perlu hebat atau sakti. Yang penting itu tadi, bisa duduk tenang dan rileks, dan bernafas dengan segenap badan kita. Detak jantung, aliran darah, kerja syaraf, gerakan kelenjar, akan bisa kita rasakan dengan sendirinya. Kalau sudah bisa merasakan, fikiran bisa memandu. Semacam tour itu. Bisa tamasya ke otak, ke jantung, ke paru-paru, ke lambung, dan seterusnya. Ikuti dan hayati gerakannya. Kalau sudah cukup fikiran memandu untuk pindah ke organ lainnya. Atau, jika dalam meditasi merasakan suatu hawa hangat yang bergerak, ikutilah gerakannya. Hawa hangat itu bisa muncul dari mana saja. Bisa dari punggung, dari perut, dari dada, atau dari kepala. Biasanya lalu merambat ke organ-organ yang lain.

Hawa hangat itu sering disebut sebagai hawa murni. Kalau dalam yoga namanya prana. Kalau dalam Tao disebut chi. Kalau dalam Zen disebut ki. Kalau dalam bahasa Inggris disebut prhenic. Orang-orang Yunani menyebutnya pnoema. Sebenarnya sifatnya tak harus hangat. Bisa juga sejuk. Atau berbagai-bagai sifat yang lain, sebab karakter hawa murni juga terkait dengan suasana fikiran kita. Sampai sekarang para ilmuan belum bisa mengidentifikasi secara pasti apa itu hawa murni. Kurang lebihnya, hawa murni adalah essence dari unsur-unsur alam: tanah, api, cahaya, kayu, logam, dan air, yang juga menjadi materi dari badan kita. Hawa murni juga disebut sebagai tenaga kehidupan. Nah, pada taraf selanjutnya kita juga akan berkonsentrasi dengan hawa murni ini. Konsentrasi yang saya maksud adalah, saat bernafas gagasan kita menghirup hawa murni tersebut. Dan saat menghembuskan nafas gagasannya adalah membuang hawa kotor dari tubuh kita. Ada lagi gagasan yang lain ketika bernafas, yaitu menghirup sifat-sifat baik dan mengeluarkan sifat-sifat tidak baik dari dalam diri kita. Kedua gagasan itu pada tujuannya adalah sama. Karena sumber dari segala sumber kehidupan adalah Tuhan, itulah sebabnya sebelum bermeditasi supaya kita berendah hati memohon agar diberikan bimbingan dan jalan supaya meditasi kita menuju arah yang baik. Jangan lupa, pada tujuannya meditasi adalah mengolah kesadaran. Tanpa landasan ruhani itu, niscaya meditasi kita hanya sebagai aktifitas badani semata. Dan itu berarti anda merugi, karena hanya mendapatkan kecantikan badan. Seorang pujangga ada yang berkata: kecantikan badan ada batasnya, kecantikan pribadi tak terbatas oleh masa. ***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Hasil SPP2013: Nasib Petani Tanaman Pangan …

Kadir Ruslan | | 24 July 2014 | 05:48

Muda Kaya dan Bahagia …

Radixx Nugraha | | 24 July 2014 | 03:25

Rumah “Unik” Majapahit …

Teguh Hariawan | | 24 July 2014 | 15:27

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 11 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 12 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 19 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: