
Dibaca: 86
Komentar: 4
Nihil
Hening ruang ujian melambungkan angan pada saat setahun yang lalu. Sama seperti waktu itu, suasananyapun hening hingga derik suara kursi beradu dengan lantaipun terdengar mengejutkan. Wajah-wajah siswa peserta ujian memberikan beribu ekspresi, ada rasa jemu karena soalnya sangat mudah, ada rasa resah dan gelisah karena mau nyontek saja susah, ada rasa ceria karena semalam dapat inspirasi lewat sms dari negeri antah brantah.
Setahun yang lalu….di ruang pengawas ujian nasional.
Sedang asik menikmati makanan kecil teman teh hangat, salah satu panitia mengumumkan bahwa akan diadakan workshop tingkat nasional yang diadakan di Kampus Al-Khaeriyah Citangkil Cilegon. Tema yang akan diangkat dalam workshop tersebut adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Saya mengambil satu lembar brosur berwarna kuning yang berisikan semua informasi tentang pelaksanaan workshop tersebut. Saya tertarik, sungguh tertarik. Karena sejak lama saya ingin melakukan PTK tapi tidak tahu harus bagaimana.
PTK biasanya dilakukan oleh para guru yang akan mengikuti kenaikan pangkat ke IV b atau yang sedang mengikuti sertifikasi. Alasan saya untuk membuat PTK tidak keduanya, jangankan untuk naik pangkat ke IVb, PNS saja saya belum apalagi untuk mengikuti sertifikasi. Alasannya apa ya? Ya suka saja.
Sampai hari penyelenggaraan, saya coba mengajak teman-teman tapi tidak ada seorangpun yang bergeming mengikuti workshop tersebut. Akhirnya saya berangkat sendiri berbekal izin dari suami.
Di kampus Al-Khaeriyah, suasananya begitu ramai. Ternyata banyak peserta yang berminat mengikuti workshop tersebut. Setelah menyelesaikan administrasi sayapun memilih tempat duduk di bagian agak depan agar tulisan di layar dapat terbaca oleh mata minusku.
Suasana begitu ramai sebelum acara dimulai, saya sendiri merasa kesepian di tengah keramaian. Tidak ada wajah yang saya kenal atau memang karena sifat bawaan yang membuat saya tidak mau dikenal. Suara alunan lagu mendayu mengawali kehidmatan acara pembuka. Saya melihat tiga orang duduk di meja yang terletak di bagian panggung gedung. Mungkin itulah penyelengggara dan pembicara dalam workshop ini.
Acara pembuka dimulai dengan doa kemudian disusul dengan acara sambutan. Semuanya berlangsung biasa saja. Sama seperti workshop ataupun seminar-seminar yang lain. Tiba-tiba ada suara menggelegar, sontak semua melihat ke layar. Film motivasi dipertotonkan. Seorang bapak dengan badan agak subur, berjambang seperti seorang ustad, pembawaan yang tenang dan sangat agamis seperti itulah kesan pertamaku terhadap salah satu pembicara workshop saat itu. Bisa dibilang biasa saja.
Workshop dimulai, si Bapak mulai beraksi.
Waduh….. dadaku bergetar setiap mendengar bait demi bait petuahnya, pipiku mulai memerah saat mendengar sindirannya, kepalaku mulai berputar- berputar dan berputar lagi pada setiap cambukan kata motivasinya. Rasanya energiku telah penuh, bahkan sangat penuh. Penuh untuk segera disalurkan dalam tulisan. Saat itu saya ingin segera menulis-menulis apa saja.
Suasana semakin bersemangat saat Bapak pembicara terhormat mengatakan” Cobalah pikirkan masalah apa yang bapak ibu hadapi di sekolah dan perkirakan bagaimana cara penyelesaiannya. Setelah itu tuliskan dalam bentuk judul, berilah nama dan alamat sekolah, kumpulkan pada saya”
Semua peserta spontan menulis judul di selembar kertas yang sebelumnya dibagikan. Semuanya menulis walau ada yang masih bingung apa yang harus ditulis, ada yang termenung mencari inspirasi di sudut hati, ada yang terlihat begitu percaya diri mungkin karena membuat judul merupakan makanannya setiap hari. Yang pasti walaupun peserta lebih banyak yang tengok kanan kiri, semuanya bersemangat kali ini.
Gemetar tapi pasti, kutuliskan sebuah judul dengan harapan dapat menginspirasi.
“ Penggunaan molymod dari tanah liat untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep bentuk molekul di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Mancak Tahun pelajaran 2009/2010”.
……satu persatu lembaran berisi judul penelitian terkumpul. Kemudian bapak yang bernama Wijaya Kusuma seorang pakar dalam tulis menulis mulai memilah, memeriksa, menilai, menimbang kemudian akhirnya memutuskan bahwa…..
Judul tersebut menjadi judul pilihannya dan berhak mendapatkan satu buku yang ditulis oleh Bapak wijaya sendiri mengenai PTK.
Alhamdulillah, hampir tak percaya. Debaran dada lebih keras lagi, gemetar-panas-dingin. Waktu terasa berhenti. Saya merasakan jabatan eratnya. “selamat ya!” itu ucapnya. “teruslah menulis!” lanjutnya. Kata-kata sederhana tapi menusuk telak diotak kerdil ini. Sebelum pergi dan mengucapkan terima kasih, Bapak memberikan kejutan lagi. Beliau memberi buku tambahan tentang meningkatkan kecerdasan anak. “Terimakasih pak” hanya itu yang terucap menggambarkan betapa bahagianya hari itu.
Sejak itu….
Saya mencoba menulis , terus menulis. Belajar menulis apa saja, tanpa kaidah menulis yang baik, tanpa aturan tata bahasa yang benar, tanpa segala formalitas dalam menulis, bahkan terkadang tanpa tema saya tetap mencoba menulis. Saya hanya ingin menulis apa yang saya ingin tulis, itu saja.
Saat bingung apa yang akan saya tulis, saya menulis sebaris sms dan saya kirim khusus untuk bapak Wijaya. Saat itu juga saya kembali ingin menulis.
Masih melekat di hati hingga kini, kata-kata beliau yang sangat memberi motivasi. Kata-kata yang menggugah diri ketika lelah menghampiri.
” Berkali kita gagal, lekas bangkit dan cari akal. Berkali kita jatuh, lekas berdiri dan jangan mengeluh”.
Bapak Wijaya Kusuma, Hari ini saya tuliskan khusus untuk bapak… terimakasih untuk semuanya. Jujur saya tidak suka menulis tapi setelah mengenal bapak, tangan saya tak mau berhenti menulis- meski hanya baru sekedar menulis. Tapi tak apalah seiring waktu, saya berharap cinta mulai tumbuh sehingga tulisan ini bukan lagi sekedarnya saja tapi sudah mewakili seluruh jiwa.
Terimakasih Omjay….. sekali lagi terimakasih.
Mancak, 24 Juni 2010 jam 11: 21 waktu pada computer.