

Ketika semakin banyak orang punya kamera, semakin ramai pula fotografer berkerubut di acara-acara keagamaan. Memang acara keagamaan adalah subyek menarik nan fotogenik. Tapi ada respek pada etika yang musti ditempatkan di atas segala dalih membuat foto bagus.
Acara keagamaan adalah acara keagamaan, yang patut dihormati siapapun juga termasuk fotografer. Saya saksikan sendiri rekan-rekan yang memegang kamera kerap kali abai terhadap etika dan respek. Ada baiknya kita saling menghimbau dan mengingatkan, bahwa tatkala kita sedang beribadah tentu butuh kekhusyukan.
Artinya, ada baiknya tak berhilir mudik di tempat yang mengganggu perhatian dan kekhusyukan umat yang sedang beribadah. Hormati tempat suci, orang-orang yang disucikan dan perlengkapan ibadah. Tempatkan diri kita sebagai umat yang beribadah, yang tak ingin diganggu ketika sedang memanjatkan doa kepada Yang Mahakuasa.
Tip teknis:
1. Gunakan lensa tele. Agar tak perlu mendekat, yang beresiko menggangu umat yang sedang beribadah. Jika mendekat, Anda beresiko pula berada “in the line of fire” alias “ditembak” rekan Anda sendiri sesama fotografer
2. Simpan lampu kilat dan gunakan hanya jika amat perlu. Dengan demikian, Anda mengurangi resiko mengganggu kekhusyukan ibadah.
3. Bawa alat seperlunya. Satu-dua lensa cukup, tak perlu membawa seluruh isi toko kamera dalam tas Anda. Jangan sampai tas raksasa Anda menyenggol umat, apalagi merusak perlengkapan ibadah. Selain itu, minimalisir kemungkinan Anda kehilangan alat.
4. Hit and run. Potretlah dengan segera dan lekas menghilang. Tak perlu berlama-lama di tempat yang sama, agar tak mengganggu ibadah dan sebaiknya lebih kreatif mengekplorasi tempat dan sudut pemotretan. Lakukan review foto di LCD kamera setelah Anda undur diri beberapa langkah ke belakang.
5. Cukupi diri sendiri. Jangan merepotkan panitia acara agama dengan pinjam ini-itu, numpang charge baterai dan titip tas kamera. Jangan pula merepotkan rekan lain sesama fotografer dengan pinjam-meminjam alat di lokasi, yang mustinya bisa dilakukan sebelum berangkat ke lokasi.
Tip non-teknis:
1. Baca dan tanya mengenai acara yang akan difoto. Pelajari subyek yang akan difoto, rencanakan waktu pemotretan, dan prediksi sudut-sudut pemotretan yang bagus tapi tak mengganggu.
2. Berpakaian sama seperti umat. Hormati acara agama yang sedang berlangsung. Selain itu, kehadiran sebagai fotografer tak terlalu menarik perhatian.
3. Patuhi instruksi panitia dan simak tanda-tanda larangan. Hal ini berlaku untuk menghormati tempat-tempat suci, dengan asumsi agama Anda tak sama dengan upacara agama yang sedang berlangsung. Jika upacara yang berlangsung adalah acara agama Anda, tentu sudah bisa menginstruksikan diri sendiri.
4. Jaga kebersihan. Bungkus baterai, plastik air mineral, dan bungkus makanan yang Anda konsumsi selama motret ada baiknya dibuang pada tempatnya.
5. Berbagi. Sebelum dan pada saat memotret jangan kikir berbagi informasi mengenai acara yang sedang difoto. Alih-alih ingin dapat foto yang tak dipunyai orang lain, malah tak dapat foto bagus karena Anda pun tak dapat info dari rekan sesama fotografer. Sepulang ke rumah, bagikanlah hasil foto Anda dengan cara menggunggahnya ke blog pribadi atau komunitas fotografi online.
Kita terusik jika di tengah-tengah ibadah sholat Ied ada fotografer yang berseliweran di antara umat yang sedang sujud sembahyang. Kita tak ingin ada kilatan lampu blitz dari samping mimbar pendeta yang sedang khotbah Natal. Kita prihatin jika ada biksu yang terganggu doa Waisak-nya lantaran ada kamera dengan lensa wide jeprat-jepret dari ujung lututnya. Kita tak ingin melihat di bawah ogoh-ogoh Tawur Agung menyambut Nyepi ada kerumunan fotografer yang sibuk berebut angle foto. Lama-lama fotografer bisa dijadikan salah satu ogoh-ogoh kelak.
Fotografi mustinya dimanfaatkan sebagai wahana belajar, dengan motivasi memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan. Muaranya adalah mental yang dewasa, intelektualitas yang matang, dan kebijaksanaan yang kritis. Tanpa mental, intelektualitas dan kebijaksanaan maka niscaya fotografi hanyalah hasil rekaman kamera yang hampa dan tak membawa kebaikan bagi harkat hidup manusia.
Tags: fotografer, fotografi, acara keagamaan, rohani, komunitas

oiya besok hari raya Galungan..pasti semua pada menyebar kemana-mana..thks artikelnya Bang
+1
-1
Mas, besok Waisak. peringatan kelahiran, pencerahan n kematian Sidartha.
Piss
+1
-1

Buat yang besok mau motret waisak keknya kudu baca artikel ini dulu deh ![]()
+1
-1

pelanggaran paling banyak ketika natal, oleh para fotografer dadakan.
+1
-1

Kedisiplinan dan kepatuhan seorang fotografer memang sangat dituntut dalam hal ini.
Semoga dibaca oleh semua orang termasuk umat sendiri yang ada juga ingin mengabadikan peristiwa2x perayaan keagamaan.
+1
-1

terima kasih om info nya *padahal bukan fotografer, hanya orang yg suka iseng2 motret* hehehe
+1
-1

Soree…oom kristupa saragih.
Kata SMI beberapa waktu lalu setelah resign dr menkeu-nya itu…”orang beretika malah dianggap aneh di negara ini..”
Setuju oom apapun yang kita lakukan harus pegang etika. Bikin kue aja..oom kalo gak pake etika., kuenya jadi gak enak. (tapi saya gak suka masak sih ) ..zidane karena gak punya etika makanya nanduk materazi …sia2 deh nama besarnya hanya karena alasan diprovokasi.
Salam sore & etika u/ oom deh!
+1
-1

gue suka tips ini. Pernah motret di Borobudur. Para fotografer gak punya respek samasekali. Para umat yang sembahyang duduk di tanah, mereka–fotografer (umm, okay, included me) berdiri di antara barisan pendoa (prayer).
Bahkan sering dijumpai ada (sorry) bokong fotografer yang mengenai wajah pendoa. Pendoa sih tenang2 saja, mereka tetap khusuk, tp kan gak punya etika banget kelihatannya.
+1
-1

tips yang sangat berguna mas Kris. terima kasih telah berbagi ![]()
+1
-1

Mas, saya mau beli camdig saku, minta rekomen merk dan tipe dunk dengan bujet maksi 2jt. Tapi fitur2nya dah okeh gitu…termasuk bisa untuk dimuat di majalah
+1
-1

sepertinya dulu anda pernah nulis seperti ini juga ya…
http://umum.kompasiana.com/2009/03/28/memotret-acara-keagamaan-tanpa-mengganggu/
kelanjutannya ya pak?
+1
-1

Terima kasih, sarannya, Oom Kris. Setuju juga dengan ulasan etika semacam ini.
Tentang blitz, sebenarnya inginnya meminimalisir. Tapi, apa daya, ketika di dalam (indoor), seperti gereja, misal, untuk kamera dan lensa yang masih terbilang standar, kadang tidak bisa dihindarkan dalam pemakaian blitz.
+1
-1

nice post…
yang begini ini selalu menjadi keprihatinan mas…
dengan alasan angle, moment atau yang lain, lalu dengan seenaknya mengabaikan etika..
Salam
+1
-1

Setuju banget sama tulisan Letjen
Sampai pada kalimat:
Lama-lama fotografer bisa dijadikan salah satu ogoh-ogoh kelak.
ngakak sejadi-jadinya,
tapi emang itulah faktanya, kita sangat atau justru malas beranalogi,
andai kerumunan fotografer di tawur agung, atau imlek di petak 9
terjadi juga pada saya yang muslim, saat khusuk sholat ied…..
hhmmmm,
Terimakasih komEndan atas pencerahannya.
+1
-1

Sangat bermanfaat…siipp…lam kenal mas…SMA de britto ya…
+1
-1

Teknik hit and run apa nggak bermasalah di hasil foto karena ada efek pergerakan….
Soalnya aku tahunya pakai alat biasa, jadi hasilnya burem bin kusem…he…he…
Maklum soal fotografi emang aku blank…Tq.
+1
-1
Guest User