Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Pemilu: Nyoblos Ga Ya

OPINI | 29 March 2014 | 11:48 Dibaca: 42   Komentar: 10   4

Tidak berapa lama lagi cuma tinggal hitungan hari bangsa Indonesia akan menggelar perhelatan besar Pemilihan Umum lima tahunan. Orang bilang pesta demokrasi. pesta dengan biaya yang sangat tinggi, pesta yang entah apakah rakyat betul turut menikmatinya atau hanya kebagian bersih-bersihnya saja.

Yang kita tahu sejauh ini pemilu hanya menghasilkan yang katanya wakil rakyat serta pemimpin-pemimpin kebanyakan korup yang hanya mementingkan kelompok dan perutnya saja. Itu semua andai kita turut andil memilihnya tentu kita harus bertanggung jawab dihadapan Gusti Allah kelak, jangan main-main.

Pemilu kali ini sudah diputuskan dengan sistim coblos. Untuk menentukan pilihan, pemilih harus coblos partainya, coblos calonnya.

Entah itu nyoblos ataupun nyontreng buat saya mungkin tidak akan kejadian, bisa jadi saya tidak akan ke TPS untuk memilih. Bukan apa-apa juga sih, cuma lantaran sampai saat ini ternyata nama saya tidak ada terdaftar sebagai pemilih. Ini saya ketahui dengan ngecek secara online.

Mulanya sih saya biasa-biasa aja, nama tidak terdaftar sebodo amat. Saya memang kurang begitu interes dengan pemilu-pemiluan. Terserah orang mau bilang saya tidak punya pendirian atau apa kek. Tapi bukan saya sok ikut-ikutan golput lho, tidak sama sekali.

Beberapa hari kemarin dua hari berurutan ada selebaran di halaman rumah ternyata dari dua caleg dari dua partai peserta pemilu. Keduanya minta dukungan agar memilihnya. Ini sah-sah saja itu usaha mereka agar bisa terpilih tohk mereka juga tidak memaksa tidak juga mengimingi yang muluk-muluk.

Dari itu timbul keinginan dan akhirnya saya cek daftar pemilih secara online dan ternyata nama saya tidak ada dalam daftar pemilih. Besok senin atau selasa kalau ada waktu mau saya coba cek langsung ke panitia pendaftaran pemilih di Kelurahan.

Apaka saya akan ke TPS dan ikut nyoblos 9 April nanti. Allahu A’lam, sampai saat ini saya belum ada pilihan.

activate javascript

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Foto: Slamet, Raksasa dari Pulau Jawa …

Hendra Wardhana | | 17 September 2014 | 12:29

Referendum Skotlandia, Aktivis Papua Merdeka …

Wonenuka Sampari | | 17 September 2014 | 13:07

Anggota BPK, Jabatan Karier atau Politik? …

Galumbang Sitinjak | | 17 September 2014 | 13:37

Etika Meng-counter Tulisan di Kompasiana …

Samandayu | | 16 September 2014 | 19:16

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 5 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 7 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 7 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Sayang, Aku Cinta Padamu …

Nidaul Haq | 7 jam lalu

Pertanyaan Maut …

Lasro Siahaan | 7 jam lalu

Kamar Tanpa Jendela …

Tri Lovianti | 7 jam lalu

Kenaikan LPG 12 Kg sebagai Sarana Berbagi …

Bai Ruindra | 8 jam lalu

Mesut Oezil: Playmaker Tanpa Dukungan …

Agung Wicaksono | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: