Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Sehat Mental

REP | 11 March 2014 | 21:34 Dibaca: 14   Komentar: 0   0

Dalam diskusi kali ini psikologi klinis membahas tentang sehat mental, sedikit yang bisa saya tulis untuk teman-teman mengenai sehat mental.

Terdapat beberapa keadaan mental yang secara khusus perlu mendapat perhatian, yaitu “sehat mental”, “mental tak sehat”, dan “sakit mental”. Sehat mental secara umum dapat diartikan sebagai kondisi mental yang tumbuh dan didasari motivasi yang kuat ingin meraih kualitas diri yang lebih baik, baik dalam kehidupan keluarga, kehidupan kerja/profesi, maupun sisi kehidupan lainnya. Orang yang disebut memiliki mental tidak sehat ialah orang yang meskipun secara potensial memiliki kemampuan, tetapi tidak punya keinginan dan usaha untuk mengaktualisasikan potensinya secara optimal. Sementara orang yang disebut sakit mental adalah orang yang secara mental memiliki berbagai macam unsure yang saling bertentangan, dan dengan demikian, sering merusak atau menghambat, sehingga perilakunya tidak menentu.

Beberapa definisi dan pengertian sehat mental dapat dikemukakan pada kesempatan ini sebagai berikut:

1. Word Federation For Mental Health, pada tahun 1948 dalam konvensinya di London mengemukakan bahwa sehat mental adalah suatu kondisi yang optimal pada aspek intelektual, yaitu siap untuk digunakan, dan aspek emosional yang cukup mantap atau stabil, sehingga perilakunya tidak mudah tergoncang oleh situasi yang berubah di lingkungannya, tidak sekedar bebas atau tidak adanya gangguan kejiwaan, sepanjang tidak mengganggu lingkungannya.

2. Karl Menninger, seorang psikiater, mendefinisikan sehat mental sebagai penyesuaian manusia terhadapa lingkungannya dan orang-orang lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang optimal. Tidak sekedar efisiensi atau sekedar kegembiraan atau ketaatan atas untuk memelihara watak, intelegensi yang siap untuk digunakan, perilaku yang dipertimbangkan secara sosial, dan posisi yang bahagia.

3. HB. English, seorang psikolog, menyatakan sehat mental sebagai keadaan yang secara relative menetap di mana seseorang dapat menyesuaikan diri dengan baik, memiliki semangat hidup yang tinggi dan terpelihara, dan berusaha untuk mencapai aktualisasi diri atau realisasi yang opyimal. Hal ini merupakan keadaan yang positif dan bukan sekedar tidak adanya gangguan mental.

4. W.W. Boehm, seorang pekerja sosial menyatakan bahwa sehat mental adalah kondisi dan taraf pemfungsian sosial yang diterima secara sosial dan memberikan kebahagiaan secara pribadi.

5. Coeman dan Broen, Jr. menyatakan ada enam sifat seorang yang sehat mental, sebagai berikut:

ü Sikap terhadap diri sendiri yang positif (positive attitude toward self), seperti menekankan pada penerimaan diri, identitas diri yang adekuat, penghargaan yang realistic terhadap kelebihan dan kekurangan orang lain.

ü Persepsi atas realitas (perception of reality), yaitu suatu pandangan realistic atas diri sendiri dan dunia, orang, serta benda-benda yang nyata ada di lingkungannya.

ü Keutuhan (integration), yaitu kesatuan dari kepribadian, bebas dari ketidak mampuan menghadapi konflik dalam diri (inner conflict), dan toleransi yang baik terhadap stress.

ü Kompetensi, ialah adanya perkembangan kompetensi, baik fisik, intelektual,emosional, dan sosial untuk menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Kompetensi mengandung pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku yang sesuai dan memadai.

ü Otonomi, ialah keyakinan diri, rasa tanggung jawab, dan pengaturan diri yang akurat, bersama-sama dengan kemandirian yang mewadai menyangkut pengaruh sosial.

ü Pertumbuhan dan aktualisasi diri, ialah menekankan pada kecenderungan terhadap kematangan yang meningkat, perkembangan potensialitas, dan kepuasan sebagai pribadi.

6. Killander, pada tahun 1957 mengidentikkan orang yang mentalnya sehat dengan apa yang disebutnya sebagai individu yang norma. Mereka adalah orang0orang yang memperlihatkan diri memiliki kematangan emosional, kemampuan menerima realitas, senang atau nyaman hidup bersama orang lain, dan memiiki filsafat atau pegangan hidup pada saat ia mengaami komplikasi kehidupan sehari-hari sebagai gangguan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indonesia 0 – 4 Filipina : #BekukanPSSI …

Angreni Efendi | | 26 November 2014 | 00:33

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Menuju Jakarta, Merayakan Pestanya …

Hendra Wardhana | | 26 November 2014 | 07:59

Minum Air Lemon di Pagi Hari dan Manfaatnya …

Gitanyali Ratitia | | 26 November 2014 | 01:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 8 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 13 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 14 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kepercayaan Penuh Berbuah Revolusi …

Nursalam Sabir | 8 jam lalu

Media Cetak (Belum) Akan Mati …

Irwan Rinaldi | 8 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Datang ke Papua, Al Jazeera Ingin “Tebus …

Hamid Ramli | 8 jam lalu

(Peserta) #KPKGerebek (7) Jakarta Street …

Kpk Kompasiana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: