Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Nurfaizah Kalsum

saya pengajar di suatu SMK swasta di Jakarta Saya senang bergaul dan main game...

Cita - cita menjadi dokter

OPINI | 03 December 2013 | 00:59 Dibaca: 1158   Komentar: 3   0

Teringat waktu ku masih kelas 1 sekolah dasar (sd). Waktu itu aku sedang mengalami sakit dan harus dioperasi karena ada benjolan dipaha. Bolak – balik ke rumah sakit di Cipto Mangunkusumo dari rumah untuk pengurusan surat, ambil darah dan pemeriksaan lainnya sebelum operasi. Ku merasa sebal melihat dokter yang mengurusi acuh,cuek dan bermuka merengut,padahal aku kan anak kecil yang perlu dibujuk. Mama lah yang menenangkan diri agar ku mau disuntik dan diperiksa.

Pernah pula ketika bisul – bisul melanda kulit ku. Setiap kali bisulan,mama selalu akan membawa ku ke puskesmas. Namun di sana ku dikatakan jorok dalam hal menjaga kebersihan kulit. Saat itu,mama sangat marah ke dokternya dan beliau berkata, “Siapa yang mau anaknya punya penyakit ? Dokter, saya sangat menjaga kebersihan anak saya.” Akhirnya,mama tak mengajak aku ke puskesmas tapi ke klinik.

Dari hal tersebut, ku pun bertekad ingin jadi dokter agar anak-anak yang sedang sakit menjadi ceria melihat dokter yang peduli dengan mereka. Semakin tertarik menjadi dokter karena persepsi ku waktu itu,dokter pasti akan dicari dan dimintai tolong dengan kehormatan yang tinggi.

Di SMA,aku pun memilih jurusan A2 agar mudah masuk perguruan tinggi jurusan kedokteran. Sayangnya,ku gagal untuk masuk ke jurusan kedokteran. Sirna lah cita – cita ku. Entah mengapa,aku diterima di Fakultas Kesehatan Masyarakat yang semula aku iseng dalam mendaftar di fakultas tersebut.

Di fakultas ini lah,ku baru memahami,ternyata untuk menjadi dokter tak bisa “asal jadi”. Perlu kosentrasi dan pengetahuan. Aku pun bersyukur tak menjadi dokter karena baru ku sadari bahwa aku ini pelupa dan ceroboh. Jika ku jadi dokter,mungkin alat jahit akan tinggal di perut pasien. :)
Dosen ku pernah berkata,”Kalian patut bersyukur menjadi mahasiswa/i di sini, karena kalian bisa merugikan mata pencaharian para dokter. Kalian bisa membuat pencegahan agar masyarakat sehat dengan cara mempromosikan kesehatan.”

Saat ini,ku bekerja menjadi guru di sebuah sekolah tingkat atas yang siswanya lebih banyak lelaki. Ternyata,guru pun menjadi dokter buat para siswa/i nya. Aku bisa mendiagnosa seorang siswa berdasarkan nilainya, kelakukannya dan kedisiplinannya. Aku bisa beri mereka obat dengan motivasi untuk raih impian mereka. Ya…. Ku telah mewujudkan cita – cita ku menjadi seorang dokter dengan bentuk yang berbeda.

Ku berharap, siswa/i ku (di tempat ku mengajar bimbel) yang ingin menjadi dokter, raih lah impian tersebut. Jadilah dokter yang bersahaja seperti di film Patch Adam. Walau banyak rintangan,lakukan yang terbaik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 11 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 11 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 12 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: