Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

KPK, Akil Muchtar dan Uzbeks Connection

OPINI | 04 October 2013 | 11:48 Dibaca: 578   Komentar: 3   1

KPK menangkap tersangka koruptor Ketua Mahkamah Konstitusi, MK, Akil Muchtar. Di tengah penangkapan itu di ruang kantor ‘bekerja’ Akil Muchtar ditemukan aneka barang narkoba dan obat kuat. Pertanyaannya dari mana barang tersebut dan untuk apa. Ini sangat menarik untuk diketahui karena terkait dengan moralitas Akil Muchtar sebagai hakim konstitusi.

“Dari mana narkoba dan obat kuat ini?” tanya penyidik KPK dengan penuh tanda tanya.

“Lupa!” sahut lelaki itu.

“Untuk apa disimpan di kantor?” tanya penyidik.

“Untuk persediaan…” sahut lelaki yang dua hari lalu baru saja ditangkap tangan oleh KPK.

“Sama siapa?” tanya penyidik

“Sama cewek Uzbek,” sahut lelaki itu.

“Apa?” tanya penyidik.

“Bukan hanya saya. Jangan tanya soal inex pada saya. Ini obat senang biasa.Tentang obat kuat juga urusan pribadi. Jangan tanyakan itu. Kasus Ahmad Fathanah saja dengan Maharany Suciono yang jelas tertangkap tangan saja menguap. Lah, ini soal saya sampai meledak di media massa. Ada apa?” tanya lelaki itu.

“Loh apa yang Bapak ketahui soal Ahmad Fathanah dan Luthfi Hasan Ishaaq?” tanya penyidik.

“Saya tidak tahu. Saya tidak kenal dengan Ahmad Fathanah dan Luthfi Hasan Ishaaq!” sahut lelaki itu.

“Bener?” tanya penyidik.

“Benar. Saya nggak kenal mereka, apalagi Maharny Suciono!” sahut lelaki itu meyakinkan.

“Bener nggak kenal Luthfi Hasan Ishaaq? Itu yang suka bicara pushtun dan java sharkiya?” tanya penyidik.

“Bener, nggak kenal tuh pusthun!” sahut lelaki itu.

“Oke, mari kita lihat catatan dan gambaran yang aku akan ceritakan lewat kesaksian dan video dan foto ini ya!” kata penyidik. Lanjutya: “Coba perhatikan dan lihat!”

Gambar video yang diambil dalam format rekaman dari telepon seluler yang secara amatir namun detail, diputar.

Lelaki itu terdiam.

Minggu 12 Maret 2013. Sebulan menjelang terpilih menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi, lelaki itu tampak berjalan di lorong jalan seberang Gang Kelinci di kawasan tempat hiburan Hayam Wuruk. Lelaki itu ditemani oleh kawannya, seorang pengusaha dari Banten dan seorang perempuan separo baya dari Kalimantan Tengah.

Lelaki itu memarkirkan mobilnya jauh di pinggiran jalan tempat para wanita dan waria menjajakan diri di penggiran jalan. Modus praktek para pelacur jalanan itu sungguh unik. Mereka dikelilingi oleh para tukang ojek. Tukang ojek inilah yang menemani mereka dan sekaligus membawa kabur para pelacur jalanan jika ada razia.

KPK gagal mengusut urusan gratifikasi seks Ahmad Fathanah dan Luthfi Hasan Ishaaq yang diperankan oleh Maharany Suciono.

Lelaki itu tertunduk diam. Tak percaya

“Lihat lagi yang ini!” kata penyidik.

Lelaki itu tampak berjalan di sekitar tempat hiburan. Ada 1001 yang terletak di sebelah Stadium. Di depannya tampak Moggo Mas dan Top 10. Lelaki itu tampak masuk ke dalam salah satu dari tempat tersebut.

Gambar video kelihatan agak gelap dan temaram, namun tetap tampak jelas sosok lelaki itu. Dia berjalan menuju lobby. Tampak perempuan yang menemani lelaki itu berbincang dengan resepsionis.

“Boss , mau di room atau table?” tanya perempuan resepsionis. Di samping kiri dan kanan di sekeliling berdiri para security berpakaian safari ala paspampres, rapi dan wangi bau kolonyet Cologne harga Rp 5,000, itu.

“Room!” sahut lelaki itu. Tak lupa lelaki itu menenteng tasnya.

“Di dalam room ada kamarnya boss. Ada apapun. Termasuk… Tahulah pasti Boss apa yang saya maksud…he he he!” timbrung seorang security.

“Iya sih,” sahut lelaki itu sambil diiyakan oleh dua temannya, seorang wanita betrjilbab dan seorang lelaki lainnya yang menemani.

“Oke. Room!” sahut lelaki itu.

Leleki yang duduk di depan penyidik itu masih terdiam. Dia tak menyangka KPK mampu membuat foto dan video seperti itu. Bahkan dalam video itu tergambar di dalam ruangan hasil dari rekam CCTV.

“Jadi, bagaimana Pak? Apakah dari tempat itu?” tanya penyidik sambil mematikan video.

“Bukan. Itu kiriman teman!” sahut lelaki itu.

“Oh. Siapa? Mari kita lihat rekaman lanjutannyanya ya…,” ajak penyidik, sambil memutar lagi video.

“Baklah!” sahut lelaki itu.

Lelaki itu keluar ditemani oleh dua orang, lelaki dan wanita. Di luar ruangan tempat hiburan, begitu keluar dari tempat hiburan itu, jam telah menunjukkan pukul 03: 15, lelaki itu agak gontai berjalan. Mungkin karena pengaruh minuman. Jalannya agak lambat. Dua temannya menggamit lelaki itu.

“Assalamu’alaikum ya ustadz…” teriak lelaki itu.

“Yuuk lihat pushtun dk sekitar sana! Ane mau kesana. Uzbeks. Ente mau nggak?” tanya lelaki yang disapa Ustadz itu.

Video dimatikan.

“Masih nggak kenal lelaki itu? Laki-laki yang kau panggil ustadz itu?” tanya penyidik.

“Kenal. Bahkan pusthun dan jaringan Maharany Suciono, Ayu, Rosyanne dan lain-lain saya tahu!”kata lelaki itu.

“Oh jadi ada jaringan Uzbeks, korupsi dan pejabat tinggi di Indonesia ya? Jadi narkoba itu dari sana ya sebagaimana tergambar di video?” tanya penyidik.

“Iya!” sahut lelaki itu.

“Padahal video ini baru satu!” kata penyidik.

“Kok ada saya dan benar di rekaman video itu?” tanya lelaki itu keheranan.

“Karena Bapak sudah sering keluyuran di tempat itu. Dan menjadi ciri bahwa semua pelacur selalu doyan keluyuran di tempat hiburan dan doyan perempuan!” kata penyidik.

“Jadi?”

“Jika akan mencari bukti awal para koruptor, selidiki dulu ke mana keluyurannya para calon tersangka. Jika calon tersangka yang menjadi TO KPK atau kepolisian, serting ke tempat hiburan, maka kemungkinan mereka pasti benar korup. Lalu juga diselidiki berapa istrinya. Semakin banyak istri atau pacar, maka semakin besar kemungkinan akan korupsi!” jelas penyidik.

OH. Desah lelaki itu. Dia mengangguk.

KPK tahu dari seluruh rangkaian cerita itu diketahui asal obat kuat, inex dan barang obat-obatan lain di kamar kerja Akil Muchtar.

Salam bahagia ala saya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: