Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Pembunuhan di Kalibata, Motif Asmara dan Perselingkuhan

OPINI | 02 October 2013 | 08:11 Dibaca: 3256   Komentar: 2   1

“Saya tidak membunuh Holi! Saya sayang padanya!” kata lelaki itu kepada polisi sambil merangsek melompat memeluk polisi di depannya. Lelaki itu memeluk erat Pak Polisi.

Polisi itu terdiam, meski kedua matanya sempat membelalak tak percaya apa yang terjadi padanya. Polisi itu, sebagai seorang manusia, kebetulan tidak begitu percaya kepada kehidupan setelah kematian. Bahkan yang disebut hantu, gendruwo, bahkan jin pun dia tak percaya - meskipun jin jelas disebutkan di dalam Al Qur’an.

Itu adalah jawabannya untuk puluhan pertanyaan terkait kematian Holiday, yang biasa dipanggil Holy, yang sudah disampaikan oleh polisi itu. Sudah hampir 36 jam interogasi dilakukan. Lelaki itu tak tampak kelelahan. Sebaliknya polisi tampak kelelahan meskipun sudah berganti-ganti menginterogasinya.

“Lalu siapa? Kan di ruangan apartment itu hanya kamu dan Holiday. Coba jelaskan!” pinta polisi.

“Begini, Pak Polisi, saya tidak ada di tempat itu. Namun saya akan jelaskan apa yang saya tahu. Pak Polisi tak akan percaya akan penglihatan saya dan Pak Polisi sendiri,” sahut lelaki itu sambil menyodorkan rekaman CCTV.

Polisi kaget setengah mati. Tak habis pikir. Di ruangan itu tak ada colokan listrik. Lelaki itu pun tidak keluar ruangan sepanjang hampir dua malam. Dari mana lelaki itu mendapatkan tas berisi semua perlengkapan dan alat rekam CCTV mini, termasuk monitornya.

Lelaki berkulit putih itu masuk ke ruangan ditemani oleh Angie, kekasihnya, yang menjemput di lobby Tower III, Apartement Kalibata Town City, di Kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. Tangan kiri Angie menggamit lengan lelaki tambun itu dengan mesra. Itu adalah pertemuan pertama mereka setelah cukup lama mereka tidak bertemu, semenjak dua bulan lalu, ketika Angie pulang dari Australia.

“Angie, kamu ke mana saja selama ini?” tanya lelaki itu sambil melirik ke arah mata Angie.

“Nggak ke mana-mana. Emangnya kenapa?” sahutnya balik bertanya.

Mereka diam. Mereka memasuki lift menuju ke lantai 9 Tower apartment kelas menengah ke bawah itu. Banyak orang lalu lalang. Ini mungkin satu-satunya apartment yang mirip dengan rumah susun. Betapa tidak, puluhan orang hilir mudik, tua, muda, miskin, kaya, lelaki, wanita dan bahkan bencong pun banyak yang tinggal di apartment ini. Suatu pemandangan yang aneh untuk sebuah apartment.

Lelaki itu masuk ke dalam kamar setelah Angie membukakan pintu itu. Lelaki itu masuk. Pintu pun ditutup.

Tampak ruangan apartment itu dipenuhi oleh pernik kebutuhan hidup ala kota Jakarta. Lemari model baru yang tidak berjiwa seharga Rp 400 ribuan. Televisi LCD teronggok di sisi kiri depan sofa sudut yang tak diletakkan di sudut. Di depannya terdapat meja makan ukuran mini - seukuran apartment yang 33 M2 itu.

Lelaki itu segera merebahkan diri di sofa. Angie langsung duduk menggeleyot ke pangkuan lelaki itu. Mereka melepaskan rindu dengan begitu rupa. Mungkin sudah lama mereka tak bertemu sehingga mereka saling bercumbu penuh suka bahagia sepanjang masa.

“Pak Polisi, lihat sendiri kan? Tuh. Saya tak ada di sana!” kata lelaki itu.
“Iya. Nggak ada di sana!” sahut polisi itu.

Rekaman CCTV itu begitu aneh. Tampak semua sudut bisa bergerak seperti menjawab pertanyaan saja. Begitu Pak Polisi berpikir tentang sesuatu maka CCTV itu memberi jawaban. Pak polisi itu kini semakin percaya adanya malaikat Akib dan Atid sebagai malaikat pencatat kebaikan dan keburukan manusia. Cara kerja CCTV saja yang hanya kamera dan seperangkat komputer bisa bekerja seperti itu.

“Nah, itu siapa?” tanya Pak Polisi.

“Lho, bukankah itu Pak Polisi sendiri?” sahut lelaki itu.

Tampak seorang polisi ada di ruangan itu. Dia sedang menyelidiki kasus pembunuhan itu.

“Loh, itu kan saya waktu memasang police line alias garis polisi! Lho kok saya ada di sana?” terbata Pak Polisi.

“Pak Polisi. Berhentilah berpikir. CCTV ini sudah canggih. CCTV ini bisa membaca pikiran Pak Polisi. Apapun yang Pak Polisi pikirkan akan tergambar. Jadi yang Pak Polisi lihat adalah pikiran dan gambaran Pak Polisi sendiri!” cerita lelaki itu.

“Oh. Pertanyaan saya. Siapa pembunuh wanita di apartment itu? Dan siapa lelaki itu?” tanya Pak Polisi.

“Gampang. Tuh lihat Holi ada di situ dan seorang lelaki itu!” jelas lelaki itu.

“Loh bukankah lelaki itu kamu??? Itu kamu. Berarti yang membunuh itu kamu!” teriak Pak Polisi kegirangan.

“Tidak ada lagi pembunuhan di sini! Tak ada kematian lagi di sini Pak Polisi!” sahut lelaki itu.

“Loh?” kata Pak Polisi kaget.

Pak Polisi kaget melihat arak-arakan prosesi jenazah ke Karet Bivak. Tampak Darin, istrinya dan dua anaknya Luthfi dan Hasan dengan dipapah oleh Ishaaq, pamannya, memanjatkan tahlil ‘la illaha illallah’. Ratusan orang mengantar jenazah.

“Kenapa Pak?” tanya lelaki itu.

“Yang meninggal siapa?” tanya Pak Polisi.

“Kamu, Pak Polisi!” sahut lelaki itu.

“Aku masih hidup. Aku sedang menyelidiki kasus pembunuhan di apartment Kalibata Town City. Aku sudah mati?” tanya Pak Polisi sambil tertawa.

“Pak Polisi, ini nih Koran Kompas yang akan terbit untuk esok hari saja ada. Koran yang akan datang bisa dibaca sekarang di sini. Tuh ada berita tentang Pak Polisi yang jatuh dari kursi ketika menginterogasi tersangka pembunuhan. Katanya serangan jantung, Pak Polisi. Di dunia kita sekarang ini, sudah tak ada masa lalu, masa depan, masa sekarang! Waktu konstan dalam keabadian, Pak Polisi!” jelas lelaki itu.

“Hah? Buset. Aneh bener. Aku tak mati. Aku cuma merasa tadi dipeluk kamu. Aku tak merasa mati. Aku juga sudah memecahkan misteri kematian Holy. Jelas motifnya asmara dan perselingkuhan. Soalnya suami dari yang meninggal ternyata di Austria lho! Selain itu juga rekaman CCTV yang sangat canggih itu!” jelas Pak Polisi.

Hari keseribu sejak Pak Polisi dipeluk oleh lelaki itu. Tahlilan dilaksanakan.

“Loh, aku masih hidup kok ada tahlilan buat saya!” teriak Pak Polisi.

“Tenang. Ini saat terakhir Pak Polisi bisa berhubungan dengan keluarga dan dunia! Untung Pak Polisi memiliki anak-anak sholeh yang mendoakan Pak Polisi. Kalau Bapak memiliki anak bengal dan tak soleh seperti koruptor Luthfi Hasan Ishaaq …” jelas lelaki itu.

“Hai itu nama anak-anak saya plus Om Ishaaq..” potong Pak Polisi.

“Iya kalau digabung jadi satu nama hehehe, Bapak amalannya akan terputus!” jelas lelaki itu.

Pak Polisi itu tahu bahwa amalan dan pahala manusia terputus setelah kematiannnya. Kecuali, amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak-anak sholeh atau sholihah yang mendoakan orang tua mereka.

“Iya. Aku tahu,” kata Pak Polisi.

“Tapi ada yang tak tahu juga, Pak Polisi” kata lelaki itu.

“Apa?” tanya Pak Polisi.

Pada hari keseribu pembacaan tahlil di waktu dunia, Pak Polisi sudah tak bisa melihat lagi keluarga Bapak. Maka tinggal menunggu pergantian hari pada pukul 18:00 besok, ketika matahari terbenam di Bumi, saat itu arwah Pak Polisi akan bersemayam dengan tenang di alam barzah.

“Oh” lenguh Pak Polisi.

Jam di ruangan itu menunjukkan pukul 17:59.

Klik. 18:00.

Gelap. Pak Polisi masuk ke alam barzah sendiri dalam gelap.

“Duh gelap bener! Sampai kapan nih terangnya?” teriak Pak Polisi sambil bertanya.

“Sampai hisab nanti!” sahut lelaki itu sambil melepaskan pelukannya kepada Pak Polisi. Sejurus kemudia lelaki itu mengeluarkan kedua sayapnya dan terbang ke bagian surga yang lain.

Salam bahagia ala saya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: