Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Siti Swandari

terbuka, ingin bersahabat dengan siapapun dan dimana saja,with heartfelt wishes. gemini, universitair, suka baca, nulis , selengkapnya

Jokowi dan Megawati, Jangan Diadu Domba

OPINI | 21 September 2013 | 14:51 Dibaca: 328   Komentar: 15   5

13797496931925088958

Sumber Gambar: megapolitan.kompas.com

Beberapa tulisan di media, saya lihat banyak berisi tentang dimulainya gonjang ganjing menghadapi pemilu 2014.
Dari yang meng iklankan kecap nomor satu sampai beberapa polemik, antar partai atau bahkan internal partai sendiri.

Yang paling menonjol adalah tentang PDI Perjuangan denga Jokowinya yang unik.
Saking menggebu nya, terus banyak yang kebablas-bablas, membanding-bandingkan Jokowi dengan Megawati. Komentarpun bak gayung bersambut dan terus bergulir.
Saya sedih sebenarnya dengan keadaan ini, sepertinya kita tidak pernah mau belajar sejarah dari bangsa ini.

Kita harus ingat akan sejarah bangsa kita sendiri, bagaimana kita yang mempunyai wilayah begitu luas, akhirnya bisa di caplok oleh Belanda, yang wilayahnya hanya kurang dari Jawa Timur, Padahal provinsi di Indonesia ada 37 buah, yang tiap wilayahnya tidak kalah luas dari Jatim.

Kenapa bisa seperti itu ?, karena kita gampang di adu-domba, gampang termakan issue, basak-bisik dan cepat tersulut, sehingga segalanya jadi lali lupa, sibuk gontok2-an sendiri, dengan persepsinya dan kepentingannya masing2

Sekarang kita kembali pada Megawati dan Jokowi.
Untuk membangun dengan baik suatu Negara, kita tidak cukup hanya punya dan butuh seorang presiden dan wapres saja. Tetapi kita membutuhkan Menteri, gubernur, bupati sampai RT, angkatan perang yang kuat juga rakyat yang mumpuni., dan lainnya.

Dan semua harus kerjasama, membentuk titik-titik yang kemudian saling berhubungan, dan membentuk suatu jaringan yang kuat, membentuk persatuan untuk bersama-sama mengangkat harkat dan martabat bangsa ini bersama gotong royong men-sejahterakan semua.

Ada kata bijak, sebetulnya Negara ini juga seperti battle field, dan kata bijaknya adalah , you might lose the battle, but you win the war.
Jadi sebelum membentuk suatu pemerintahan, pasti terjadi suatu “perang” antar partai dan antar person, ini pasti terjadi dimana-mana. Di partai juga terjadi perang antar person masing2, untuk merasa paling unggul dan diunggulkan, itu juga lumrah.
Tetapi kita harus tetap berpegang pada win the war, memenangkan pertempuran, pertempuran untuk saling menggapai kesejahteraan rakyat, bukan saling gontok2-an masing2 demi kepentingan pribadinya.

Sebagai rakyat kita juga harus bijak, jangan belum apa2 sudah cocok dengan Jokowi tetapi kemudian men deskridit – kan Megawati. Kita harus mengerti mengapa Jokowi begitu santun dan tetap menghormat Megawati, pasti ada sesuatu yang hanya Jokowi saja yang tahu. Dan kita juga makin tahu,yakin, bahwa sosok unik itu memang punya nurani dan kepribadian yang amat terpuji
Hal itu tidak bakal menjatuhkan namanya samasekali, bahkan melambungkan ketempat yang terhormat di mata semua orang.
Sebagai rakyat yang baik,kita harus mendukung, siapa saja calon pemimpin bangsa ini yang beriktikad baik.
Yaitu yang cinta pada Negara ini, jujur, tidak srakah dan mau bekerja keras, amat memperhatikan nasip rakyat.
Jangan malah jika melihat pemimpin baik, terus kita ingin saling benturkan, sehingga menjadi saling silang antar mereka

Kita juga harus ingat pepatah, jika dua ekor anjing saling berebut tulang, pemenangnya niscaya anjing ketiga yang mengharapkan keduanya babak-belur.
Anjing ketiga biasanya pasti lebih licik, licin dan itu disekitar kita yang senang mengipas-ipas, mengintip, menawarkan posisi, berharap pertempuran diantara kedua makin seru, dan bisa mengambil manfaat yang menguntungkan bagi diri dan partainya masing-masing.
Saya mengharap anda pasti mengerti dengan apa yang saya maksud, terus bersatu dan maju dalam kebersamaan.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 7 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 11 jam lalu

Drama Pilpres Telah Usai, Keputusan MK Harus …

Mawalu | 11 jam lalu

Open Letter to Mr Joko Widodo …

Widiyabuana Slay | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: