Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Roy Soselisa

boleh bebas tapi benar...

Lolos Tes CPNS Tidak Cukup Hanya dengan Doa

OPINI | 20 September 2013 | 15:01 Dibaca: 2041   Komentar: 0   0

Melalui catatan ringan ini saya hendak berbagi pengalaman mengikuti tes CPNS tahun 2010 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Namun, catatan ringan ini tidak berisi tips-tips (pengalaman) seperti pada umumnya, karena jika pada umumnya yang tersaji, teman-teman pasti bisa mencarinya sendiri di internet atau membeli buku mengenai kiat sukses mengikuti tes CPNS yang banyak dijual di toko-toko buku. Terlebih saat hajatan akbar seleksi CPNS tahun 2013 yang telah lama ditunggu-tunggu oleh masyarakat, baru saja dirilis pengumuman pendaftaran-nya beberapa hari ini, pasti banyak penjual (di tepi jalan dekat tempat yang berkaitan dengan tes CPNS) bersebaran menjual soal-soal latihan dan tips-tips jitu menghadapi tes CPNS.

Ada dua hal berarti yang menjadi catatan saya sewaktu mengikuti tes CPNS untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Hal berarti yang pertama adalah terkait dengan strategi yang tepat dalam mengerjakan soal. Sebelum mengerjakan soal tes, saya memperhatikan terlebih dahulu petunjuk pengerjaannya, dalam lembar petunjuk pengerjaan terdapat tabel yang berisikan rincian skala nilai untuk setiap bagian soal yang ada. Pada tes CPNS tahun 2010 lalu, Pemerintah Kota Surabaya yang bekerjasama dengan perguruan tinggi negeri (PTN) ternama, membaginya ke dalam tiga bagian. Tiga bagian tersebut (pada dasarnya) sama dengan kisi-kisi yang ada dalam tes CPNS tahun 2013 ini: Tes Wawasan Kebangsaan, Tes Intelegensi Umum, dan Tes Karakteristik Pribadi/Skala Kematangan.

Dalam tabel yang berisikan rincian skala nilai, saya memperhatikan bagian soal Tes Wawasan Kebangsaan yang memiliki skala nilai terendah, lalu disusul dengan bagian soal Tes Intelegensi Umum, dan ditutup dengan bagian soal Tes Karakterisrik Pribadi/Skala Kematangan yang memiliki skala nilai tertinggi. Setelah mengetahui hal tersebut, saya langsung mengerjakan bagian soal Tes Wawasan Kebangsaan, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan penguasaan dan kemampuan saya dalam memahami kebangsaan Indonesia (Pancasila, Sistem Tata Negara, dsb.) dan ada terselip pula soal-soal pengetahuan umum di dalamnya. Bagian soal dengan skala nilai terendah inilah yang saya jadikan pemanasan untuk otak saya sebelum mengerjakan bagian soal lainnya, menjadikannya sebagai pemanasan dengan menjawabnya secara cepat. Tak perlu risau dengan bagian soal ini, tidak terlalu sulit untuk menjawabnya, dengan catatan selama ini tidak menutup diri dengan dunia luar, seperti banyak membaca (koran, media online, dsb.).

Setelah selesai mengerjakan bagian soal yang pertama (Tes Wawasan Kebangsaan), saya tidak menyentuh bagian soal yang kedua, bagian soal yang berisikan Tes Intelegensi Umum. Saya menunda mengerjakan bagian soal ini, karena saya tidak mau terjebak membuang waktu bergulat dengan soal-soal yang memiliki skala nilai yang masih lebih rendah dibanding dengan bagian soal yang ketiga (Tes Karakteristik Pribadi/Skala Kematangan). Saya lebih memilih memarkirkan bagian soal yang kedua, karena waktu akan banyak terbuang pada bagian soal ini, terbuang dengan sibuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan skolastik, kemampuan numerik, aljabar, aritmatika, operasi perhitungan angka, kemampuan verbal, dsb. Terlalu lama menghitung dan terlalu lama memberi perhatian kepada soal dengan nilai yang tak seberapa, bisa mengakibatkan waktu yang tersedia terus berkurang, dan soal dengan nilai tertinggi jadi terabaikan, bahkan (mungkin) tak terjawab karena waktu telah habis.

Saya pun bergegas membuka bagian soal yang ketiga, bagian soal Tes Karakteristik Pribadi/Skala Kematangan. Pada bagian soal inilah terdapat skala nilai yang tertinggi, setiap soal yang terjawab akan berpengaruh besar pada keseluruhan jumlah nilai tes yang diraih. Jawaban dari soal yang tersaji dalam bentuk pilihan ganda, setiap soal memiliki lima pilihan jawaban (A, B, C, D dan E), setiap pilihan jawaban yang dipilih akan mendapatkan nilai, namun setiap pilihan jawaban memiliki skala nilai yang berbeda. Pada bagian soal inilah kemampuan peserta dalam menjawab akan diuji, mampukah peserta memilih jawaban dengan skala nilai yang tertinggi dari lima pilihan yang tersedia dalam setiap soal yang tersaji? Setiap jawaban yang dipilih (nilai yang diraih) akan menunjukan kematangan pribadi peserta. Melalui bagian soal yang ketiga inilah dapat diketahui apakah peserta yang mengikuti tes, kelak mampu menjadi aparatur negara (CPNS/PNS) yang memiliki integritas diri, daya kreasi dan inovasi, semangat berprestasi, sikap hati yang mau melayani orang lain, dsb.

Setelah selesai mengerjakan bagian soal yang ketiga dengan penuh kehati-hatian, barulah saya mengerjakan bagian soal yang sempat saya parkirkan tadi. Dengan waktu yang tersisa, saya mulai mengerjakan bagian soal Tes Intelegensi Umum. Masih segar diingatan saya, saat menginjak pada soal kemampuan numerik, seperti aljabar, aritmatika, operasi perhitungan angka, waktu yang tersisa hanya tinggal 20 menit. Saya pun menjawabnya dengan cepat, mengingat dalam perhitungan saya kala itu, waktu yang tersedia adalah satu menit untuk satu soal (membaca soal dan menjawabnya), sementara soal kemampuan numerik yang belum saya kerjakan lebih dari 20 soal. Saya melakukan penghitungan dengan cepat, setiap pilihan jawaban yang mendekati dengan hasil penghitungan saya, saya pilih sebagai jawaban. Saat bel berbunyi sebagai tanda berakhirnya mengerjakan soal, semua soal telah berhasil saya jawab. Dengan mengetahui semua soal telah saya jawab, sudah menyenangkan sekali bagi saya, mengingat peserta lain (termasuk yang duduk di sebelah saya) yang berada dalam satu ruangan dengan saya, mengeluhkan lembar jawabannya masih banyak yang kosong/belum terjawab.

Berikutnya hal berarti yang kedua, yang menjadi catatan saya sewaktu mengikuti tes CPNS untuk yang pertama dan terakhir kalinya adalah belajar. Ya, selama dua minggu penuh menjelang tes dilaksanakan, saya belajar dengan banyak latihan soal untuk mempersiapkan diri mengikuti tes CPNS. Saya menyediakan banyak waktu untuk belajar, belajar dengan menggunakan media buku kumpulan soal-soal latihan tes CPNS, lengkap dengan kunci dan pembahasannya. Buku tersebut saya beli di sebuah toko buku yang banyak menyediakan bermacam judul serupa, tujuannya agar sebelum membeli buku, saya bisa memilih buku yang terbaik. Buku terbaik yang di dalamnya bukan hanya berisikan soal-soal latihan dan kunci jawaban saja, tapi juga memberikan pembahasan yang komprehensif untuk setiap soal latihan yang ada di dalamnya. Melalui pembahasan yang komprehensif tersebut, saya bertumpu untuk mendapatkan penjelasan dan mempelajari dengan baik setiap karakter soal yang ada (bukan menghafal soalnya, tapi memahami karakternya, karena soal terus berubah, namun karakternya itu-itu saja). Cara belajar tersebut cukup ampuh dan membuahkan hasil, pada saat tes berlangsung, saya banyak menjumpai karakter soal yang serupa dengan yang telah saya pelajari dalam pembahasan soal-soal latihan.

Jadi, hal berarti kedua yang saya lakukan untuk menghadapi tes CPNS adalah belajar dengan kuat, karena menghadapi tes CPNS tidak cukup hanya dengan doa. Mau berdoa sekuat apa pun, mau berdoa (jungkir balik) model apa pun, tidak bisa meloloskan kita menjadi CPNS, jika kita tidak pernah belajar. Berdasarkan pengalaman, sepanjang saya mempersiapkan diri mengikuti tes CPNS, mulai dari mempersiapkan administrasi pendaftaran hingga mengikuti tes CPNS, saya hanya mengucapkan doa yang tidak lebih dari 20 kata. Doa yang saya ucapkan hanya setiap menjelang belajar: “Tuhan, berikan hikmat dan ingatan yang baik. Amin.” Doa berikutnya menjelang saya mengerjakan soal tes CPNS: “Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Amin.”

Saya membagi pengalaman, tanpa bermaksud menyesatkan. Tidak berdoa dengan kuat, bukan berarti melupakan Tuhan dalam setiap perjalanan. Kenyataan tidak berdoa dengan kuat itu memang saya lakukan, karena saya merasa malu jika menaikan doa-doa yang berpusatkan pada diri sendiri, menaikan doa-doa dengan kuat hanya untuk kepentingan pribadi, terlebih menaikan doa yang disertai dengan puasa untuk mempengaruhi Tuhan supaya yang diinginkan digenapi. Tanpa bermaksud mengagulkan diri, saya tidak berdoa dengan kuat saat menghadapi tes CPNS, bukan berarti saya tidak tahu bagaimana cara berdoa, (maaf bagi yang berkeyakinan lain, jika tidak memahami point ini) saya kenyang mengetahui dan mempraktekan metode-metode berdoa yang ada sesuai dengan keyakinan yang saya miliki, dengan cara “pentakosta heranlah” sekalipun pernah saya lakoni. Karena saya pernah menceburkan diri ke dalam departemen doa dari salah satu Mega Church yang ada di Kota Surabaya, salah satu Mega Church yang pernah mengadakan KKR di apron Bandara Juanda, salah satu Mega Church yang beberapa kali mengadakan KKR besar dengan dihadiri ribuan orang (saya pun terlibat doa di dalamnya untuk memenangkan jiwa, doa pelepasan, doa kesembuhan, menghadirkan atmosfir rohani, doa keliling membawa panji-panji, menumpahkan minyak urapan pada titik tertentu tempat KKR diselenggarakan, dsb.)

Bagi saya, soal-soal tes CPNS harus dihadapi dengan akal budi yang telah Tuhan anugerahkan, akal budi yang telah Tuhan ciptakan untuk berpikir menghadapi ujian (tes CPNS). Soal-soal latihan tes CPNS yang bisa dilihat dengan mata, harus dihadapi pula dengan mata yang digunakan untuk banyak belajar mengerjakan soal-soal latihan tes CPNS. Soal tes CPNS merupakan lawan yang tampak, bukan lawan yang tidak tampak seperti kuasa kegelapan, sehingga jenis ini tidak perlu dihadapi dengan doa puasa. Saya pernah melakukan doa puasa selama beberapa hari sewaktu menyelinapkan diri ke dalam departemen doa, tapi saya tidak pernah satu kalipun melakukan doa puasa untuk mengikuti tes CPNS. Saya lebih memilih untuk puasa nonton tv, puasa mengakses internet, puasa dari rutinitas lainnya (selain bekerja/mengajar), dan mengisi waktu yang ada dengan belajar soal-soal latihan tes CPNS.

Memiliki strategi yang tepat dan belajar dengan kuat adalah dua hal berarti yang bisa saya bagikan kepada teman-teman. Saya tidak pernah berdoa dengan kuat saat mengikuti tes CPNS, karena saya tidak pernah memaksakan kehendak saya kepada Tuhan untuk menjadi aparatur negara (CPNS/PNS). Itu sebabnya dalam doa saya menjelang mengerjakan soal tes CPNS pun, tak banyak kata yang saya ucapkan, saya hanya memohon agar kehendak Tuhan yang terjadi di bumi seperti di sorga. Apabila di sorga sana, Tuhan telah menetapkan saya untuk menjadi aparatur negara, maka saya akan menjadi aparatur negara di bumi ini. Namun, apabila di sorga sana, Tuhan tidak menetapkan saya untuk menjadi aparatur negara, maka saya pun tidak akan merengek dan berontak selama di bumi ini. Kini, setelah tiga tahun berlalu, ucapan syukur yang kuat selalu saya naikan kepada Tuhan, karena telah menetapkan saya untuk menjadi aparatur negara di bumi ini.

Selamat berjuang teman-teman, kiranya setiap usaha yang dilakukan diberkati oleh Sang Entah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Proses Kreatif Desainer Kover Buku The Fault …

Benny Rhamdani | | 24 October 2014 | 14:11

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 4 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 5 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 7 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Ada Esensi Pembelajaran Hidup dalam Lagu …

Yunety Tarigan | 8 jam lalu

Aplikasi Info KRL Anti-ketinggalan Kereta …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Review “The Giver” : Kegagalan …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Sudah Siapkah Indonesia Menghadapi AFTA …

Ira Cahya | 8 jam lalu

Brisbane akan jadi “Ibu Kota …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: