Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Susantosalim

Owner & Master trainer @ Smartnusa Training System

Al Quran & Kecerdasan

OPINI | 20 September 2013 | 11:49 Dibaca: 339   Komentar: 0   0

Alam pemikiran manusia berkembang begitu pesat dari zaman ke jaman .Setiap jaman memiliki pemikir yang menghasilkan temuan temuan baru sesuai dengan yang dibutuhkan oleh jamannya, jika kita ingin meneliti lebih jauh , sesungguhnya perkembangan peradaban manusia sangat erat hubungannya dengan dua kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan fitrahwi manusia untuk terus berfikir dan kebutuhan hidup manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu kebutuhan Makan, Seks dan Aktualisasi.

Kebutuhan berfikir manusia pada hakikatnya berfikir tentang dua hal yaitu, berfikir tentang Tuhannya dan berfikir tentang dirinya, namun karena kebutuhan makan , seks dan aktualisasi membawa kenikmatan dan dapat dirasakan secara langsung hasilnya membuat manusia terus saja terjebak olehnya dan melupakan kebutuhan dasar yang pertama yaitu berfikir tentang Tuhan dan Dirinya, pada saat itulah makan, seks serta aktualisasi yang seharusnya menjadi media dalam meniti jalan menuju pengertian yang lebih mendalam tentang Tuhan dan Dirinya terkubur sudah, pada saat itu manusia ibarat tikus yang berjalan pada labirin, lupa jalan kembali serta tidak jarang banyak yang mati dalam labirin rona kehidupan ataupun mati pada jalan yang dikiranya sudah tepat dan benar.

Kesemuanya itu adalah gambaran sederhana tentang akibat dari pemikiran manusia yang kerap berjalan liar tanpa panduan yang jelas dalam meniti kehidupan ini.

Sifat pikiran yang terus mencari karena didorong oleh rasa keingintahuan yang tinggi itu telah membuat manusia menciptakan berbagai teori dan penemuan dalam hal yang berhubungan dengan kehidupan Fisik dan Psikis manusia.

Dalam pembahasan ini kita tidak membahas tentang teori dan pemikiran  manusia dalam hal Fisik akan tetapi teori dan pemikiran manusia dalam hal Psikis, karena Kecerdasan manusia amat sangat erat berhubungan dengan keadaan Psikis manusia.Dimensi Psikis adalah keadaan yang tak terlihat walaupun diproses oleh organ yang terlihat yaitu otak , namun ketika kita berbicara tentang frekwensi pikiran, implus otak , dan lain sebagainya hal tersebut menjadi hal yang bersifat Psikis, termasuk bila kita berbicara tentang kecerdasan yang akan kita kaji dalam tulisan ini, tentang apakah kecerdasan itu , apakah hubungan kecerdasan dengan hidup dan prikehidupan manusia, apa saja yang mempengaruhi keberadaan kecerdasan manusia menjadi tidak seimbang satu dengan yang lainnya, dan apa saja kecerdasan yang dimaksud

KECERDASAN DALAM KACA MATA BARAT

Perkembangan pengetahuan dan Psikologi di dunia barat jauh lebih berkembang bila dibandingkan dengan dunia belahan timur,  dunia barat telah membentuk pola kehidupan manusia yang dididik dengan dasar Rationalitas yang lebih tinggi ketimbang dunia Timur yang dididik dengan pola pikir emosi yang dominan,seorang Psikolog barat Daniel Goldman pada abad 21 menemukan bahwa manusia memiliki tujuh kecerdasan yang dibawa oleh manusia sejak ia lahir yaitu : Kecerdasan Linguistic, Mathematic, Spatial, Art, Kinesthetic, Intrapersonal dan Interpersonal, akan tetapi pada bukunya tersebut tersirat bahwa ada dua kecerdasan lagi yang dibawa oleh manusia sejak dilahirkan yaitu kecerdasan Natural dan Universal.Sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan adalah apakah Sembilan kecerdasan yang disebutkan diatas adalah murni hasil dari perenungan dan penciptaan barat ataukah mereka hanya menemukan apa apa yang sudah ada dalam diri manusia dikarenakan kemauan mereka yang kuat untuk meneliti lebih dalam tentang hidup dan kehidupan ini ? sebuah perenungan , apabila kita yakini bahwa yang menciptakan alam semesta beserta segenap isinya adalah Allah SWT dan atas kehendak Allah pulalah Al quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan disebutkan didalamnya bahwa Al quran adalah Huda ( petunjuk ) , Bayyinah ( penjelas ) dan Furqan ( pembeda ) bagi orang orang yang imaninya, maka kita akan menyadari pula bahwa tidak ada satupun yang ada didunia ini lepas dari penjelasan Al quran, persoalannya adalah dari sisi manakah kita memandang Al Quran dan apakah kita mau untuk tetap konsisten menemukan hal hal yang terkandung didalamnya, bila tidak, maka Quran akan menjadi sebuah buka yang berbahasa Arab yang cukup disimpan dan dibaca kemudian kita merasa sebagai orang yang telah beriman setelahnya, itulah yang terjadi pada diri kita yang telah melihat Islam sebagai sebuah Agama ansich bukannya sebuah system kehidupan yang Universal dan quran yang menjelaskannya sebagai sebuah kitab suci tok  yang pantang di lihat dari sisi yang berbeda tanpa ilmu bahasa Arab yang mumpuni.

Kenyataan yang kita hadapi saat ini dari pola pemikiran yang telah ditanamkan oleh adat serta budaya ke Islaman di tanah air ini , telah berakibat terjadinya perbedaan persepsi manusia dalam memandang dan mencermati Al Quran, perbedaan tersebut dapat diakibatkan oleh paham  “kesucian” kitab suci yang di terima oleh kita sama seperti agama agama yang lain yaitu secara dogma atau ansich tanpa boleh kita kaji atau tafsirkan lebih lanjut lagi, hal ini didorong oleh latar belakang masyarakat yang menerima pengajaran Al quran , sedang pemikiran masyarakat tersebut lebih dipengaruhi oleh Adat budaya dan norma yang berkembang pada masyarakat tersebut, ditambah dengan pola pikir masyarakat timur yang lebih condong kepada hal hal yang mistik ketimbang keinginan untuk mengkaji secara rational sesuai dengan fakta fakta kehidupan yang ada, entah didorong oleh paham animisme yang sudah mengakar dalam masyarakat timur ataupun bisa jadi karena hormat dan patuh yang terlalu berlebihan kepada budaya, nilai, norma dan agamawan yang ada sehingga tertutup keinginan untuk mengembangkan tingkat kwalitas diri lebih dari manusia rata rata, padahal kata “ Mufflih “ yang ada di awal awal surah Al Baqarah meng isyaratkan sebuah arti bahwa seorang pemenang adalah seorang pemimpin dan seorang pemimpin berarti adalah manusia yang memiliki kemampuan diatas rata rata dan seorang pemimpin adalah manusia yang jumlahnya sangat sedikit, karenanya seorang pemimpin itu pastilah seorang manusia yang memiliki kecerdasan yang diatas rata rata manusia yang lainnya, dari sinilah kita dapat mengerti bahawa kecerdasan manusia amat sangat berhubungan erat dengan sifat serta prilaku yang diperlihatkannya di dalam kehidupan yang nyata, bukan dalam kehidupan angan angan ataupun harapan harapan semu.

Tulisan ini membahas tentang kecerdasan manusia yang paling mendasar serta penjelasan Al quran tentang nya , di jelaskan dengan tepat, cermat dan akurat , sesuai dengan fakta fakta yang ada dan hanya dapat di terima oleh nalar manusia yang ingin lebih mengenal dirinya dan Tuhannya serta maksud penciptaan dirinya dimuka bumi dengan segala kecerdasan yang telah dibawanya sejak lahir.

Semoga tulisan ini dapat membawa kita untuk lebih mengenal diri kita dan Allah lebih jelas lagi , sehingga apa apa yang ada dalam tulisan ini tidak menjadi sekedar ilmu pengetahuan bagi kita tapi lebih dalam lagi adalah menjadi sifat dan terapan yang membawa kita untuk mehjalani kehidupan ini lebih baik dan benar lagi.

PENDAHULUAN

Manusia adalah penciptaan yang yang sempurna “ Ahsani Taqwim “ semua keberadaan manusia secara fisik dan Psikis sudah diberikan oleh Allah secara lengkap dan siap guna, hanya saja keberadaan ini sering kali tidak disadari oleh manusia secara utuh, tanpa disadari kegiatan rutinitas  dalam dunia kehidupan ataupun dunia perburuan kebutuhan hidup telah membuat manusia membatasi ke – Taqwim man yang ada dalam dirinya.

Al quran telah mengatakan secara gamblang bahwa bila manusia mau untuk sedikit saja berusaha untuk memaksakan dirinya lebih baik ketimbang keadaan yang ada saat ini maka ia akan mendapatkan kwalitas ( ajron ) yang berlipat sebagaimana perumpamaan pohon yang setiap cabangnya mengeluarkan tujuh cabang dan tujuh cabang tersebut menghasilkan tujuh cabang yang lainnya, dengan kata lain bila kita meningkatkan satu saja kemampuan diri kita maka dari yang satu tersebut akan menumbuhkan pula kemampuan yang lainnya yang kita sadari ataupun tidak.

Demikian pula pada bilangan hari, seorang manusia yang meningkatkan kemampuan dirinya ( integritas diri kepada Allah ) akan memiliki bilangan hari yang bukan lagi 24 jam dalam sehari tapi satu hari yang bernilai seribu bulan.seperti yang ternukil dalam Surah Al qadar ayat : 3, hal yang demikian  itu adalah sangat memungkinkan bagi setiap perangkat yang ada dalam diri kita apabila kita mau untuk cermat terhadap segala bentuk kejadian dan keberadaan yang ada disekitar kita .setiap kejadian adalah untuk menjelaskan keberadaan Allah dan pesan pesan yang ingin Allah sampaikan kepada kita melalui media peristiwa.

PINTU GERBANG KECERDASAN

Kecermatan kita dalam memperhatikan apa apa yang terjadi di luar dan didalam diri kita merupakan sebuah proses pembelajaran untuk membangkitkan kecerdasan kita yang tertidur ataupun belum aktif , secara tidak langsung bila hal ini kita lakukan secara terus menerus akan membuat kita menjadi latif ( peka ) terhadap segala ayat ayat Allah yang berkelindan dalam keseharian hidup kita, kemampuan Latif adalah persyaratan utama untuk membangkitkan, mempergunakan dan mengkontrol setiap kecerdasan yang ada dalam diri manusia.

Dapat kita lihat dalam kehidupan sehari hari bahwasanya banyak sekali manusia yang mempergunakan kecerdasan yang diberikan oleh Allah hanya untuk mencari kebutuhan hidupnya semata, sebagai contoh, kemampuan matematika yang merupakan bagian dari kecerdasan yang ada pada diri manusia lebih banyak dipergunakan   untuk menghitung untung rugi dalam berbisnis , ataupun dalam mengukur serta menilai manusia yang lain, padahal kemampuan matematik tersebut seharusnya dipergunakan untuk menghisab ( menghitung ) sejauh mana kemampuan diri kita untuk membaca Quran, atau menghisab diri kita atas apa apa yang telah kita lakukan dalam hidup ini.Adapun kecerdasan kita dalam beretorika yang merupakan bagian dari kecerdasan Linguistic lebih banyak kita pergunakan untuk mempengaruhi manusia dalam rangka membeli barang atau produk yang kita miliki ketimbang mengajak manusia untuk berada tetap di jalan Allah. Dari contoh diatas`dapatlah kita sadari bahwasanya telah terlalu jauh kita simpangkan setiap kecerdasan yang kita miliki hanya untuk kepentingan pribadi yang ringkih serta bersifat fatamorgana, dan sangat jarang sekali kita untuk mempergunakan Kecerdasan Spasial kita untuk berfikir tentang sesuatu yang pasti dalam hidup ini yaitu kematian dan lebih sering kita pergunakan untuk memuaskan angan angan fantasi kehidupan kita untuk menggapai kenikmatan yang semu.Padahal ketika kita ingat dengan kematian maka kita sesungguhnya kita sedang memperkuat pondasi kecerdasan yang kita miliki agar tidak jauh melenceng dari fungsi kecerdasan itu sesungguhnya.

INGAT MATI DAN KECERDASAN

Rasullullah SAW sering sekali mengatakan kepada kita bahwa dengan banyak banyak mengingat mati maka diri kita akan semakin cerdas, lalu kita bertanya lagi , mengapa dengan mengingat mati kita akan semakin cerdas ?

Kematian amat dekat dengan waktu dan ruang , seperti saat kita kita mendengar tentang berita kematian seorang kawan atau orang orang yang kita kenal sudah mati maka pertanyaan yang kerap sekali kita ajukan adalah kapan ia mati, mengapa ia mati, dan dimana ia mati, pertanyaan kapan ia mati adalah pertanyaan yang bersifat waktu, waktu ia mati, lalu pertanyaan mengapa ia mati adalah salah satu bentuk pertanyaan proses yang berhubungan dengan waktu pula , sedang pertanyaan dimana ia mati adalah pertanyaan yang bersifat ruang.

Terlepas dari siapa , apa , dimana, mengapa seseorang itu mati, tentunya ada suatu hal yang amat jarang kita tanyakan khususnya pada diri kita , yaitu kapan aku mati, bilamana aku mati , apakah yang sudah kuperankan sebelum aku mati, sebuah pertanyaan yang didasarkan pada kesadaran diri bahwa kematian itu adalah yang yang pasti diatas pasti dan pasti terjadi.Pada saat kita telah masuk ke pertanyaan tersebut maka pikiran kita akan terus bekerja untuk memproses sebuah informasi yang sangat mendasar  yaitu kematian, akibat dari perenungan tersebut akan mengakibatkan diri kita untuk terus berkarya , berbuat dan berkasih sayang untuk kepada orang orang disekeliling diri kita untuk semakin kuat dalam menghadapi kematian yang pasti tersebut.

Dari penjabaran diatas dapat kita ambil konsep dasar yang sangat sederhana sebagai hasil dari mengingat mati yaitu Self concept, Creativity, Active & Dynamic, dan Love and care  , bukankah secara ilmu pengetahuan modern ini adalah dasar bagi sebuah keberhasilan manusia dalam segala bidang yang ia lakukan, sebagai contoh seorang manajer yang baik ia harus mengerti tentang dirinya baik kekuatan ataupun kelemahan yang ia miliki ( Self concept ) agar ia dapat memimpin dengan baik, lalu manajer tersebut haruslah memiliki kemampuan berkreasi ( Creativity ) agar karyawan yang dipimpinnya dapat terus semangat dalam bekerja ,setelah itu Sang manajer itu sendiri haruslah terus bergeak untuk memantau pergerakan karyawan yang dipimpinnya serta memotivasi mereka secara terus menerus ( Active & Dynamic ) dan yang paling penting dari itu semua seorang Manjaer harus memiliki kecintaan dan keperdulian terhadap karyawan yang dipimpinnya. Penjelasan diatas adalah salah satu contoh bahwa bila kita ingin sedikit saja memikirkan tentang Quran ataupun hadits Rasullullah maka kita akan mendapatkan kecerdasan dalam bertindak dan bersikap , dan sekaligus membuktikan bahwa semua hal yang dipakai oleh para pemikir pemikir barat dalam berbagai bidang pada hakikatnya adalah konsepsi Al quran, hanya sayangnya merekatidak mengkaji penemuan dan teory mereka lebih dalam lagi, karena bila mereka mau mereka hanya tinggal selangkah lagi menuju pintu Dinul Islam, karena kemampuan kecerdasan yang dipergunakan oleh manusia yang memiliki rationalitas dan logika yang tinggi adalah persyaratan utama untuk mempelajari Al quran dan untuk memahaminya, apalagi untuk kita yang sudah berada dalam Sistem ke Islaman ini.

KE LATIF AN DAN KECERDASAN

Kecerdasan amat sangat membutuhkan kelatifan atau kepekaan manusia terhadap dirinya dan lingkungan karena hanya  kelatifan dapat membantu kecerdasan manusia untuk merangkai satu kejadian dengan kejadian yang lainnya , tentunya kepekaan yang bersifat universal yang dihasilkan oleh kemampuan hati kita dan bukannya kepekaan yang didominasi oleh alam rasa manusia, kerena perasaan manusia hanya dapat mendeteksi keadaan secara sektoral saja sedang kepekaan yang dihasilkan oleh hati memiliki kemampuan universal.

Seorang ibu memiliki kepekaan yang Universal karena ia memiliki kasih sayang yang dalam terhadap anaknya sehingga seiring dengan itu tidak jarang ibu lebih mengerti bahasa bayi yang tidak dapat ditangkap oleh bapak atau orang lain, akan tetapi ketika kasih sayang tersebut telah berubah menjadi kepemilikan terhadap anaknya , kepekaan yang dimilikinya menjadi tidak bersifat Universal lagi tapi telah berubah sektoral, sehingga tak jarang kita lihat di media cetak dan dan media yang lain semakin banyak Ibu yang membuang sampai kepada membunuh anaknya karena takut dirinya tidak dapat membahagiakan anaknya tersebut.na udzubillah mindzalik.

UMUR DAN KECERDASAN

Umur manusia yang terus berkelindan pun mengajarkan kecerdasan , ada dua hal yang mengikuti umur kita dari sejak lahir sampai dengan saat ini , yaitu Pengetahuan dan Pengalaman, kedua hal ini adalah sumber informasi bagi kecerdasan manusia dalam berkembang, dan umur pulalah yang membesarkan setiap kecerdasan yang kita miliki, seimbang ataupuntidak kecerdasan yang kita miliki pun di bentuk oleh lingkungan yang ada dalam pengalaman kehidupan kita serta pengetahuan yang kita miliki lewat apa apa yang kita pelajari, seorang manusia yang dilahirkan di kalangan pedagang biasanya akan lebih menonjol kecerdasan Linguistic, Spatial dan Mathematic nya ketimbang seorang manusia yang dilahirkan di kalangan pecinta seni tari yang lebih menonjol kecerdasan Art, Kinestetic, dan Intrapersonalnya.

Pengetahuan dan pengalaman  manusia merupakan ilmu dalam dirinya untuk menemukan sesuatu dibalik ilmu ataupun kejadian yang dinamakan sebagai Makna, banyak sekali manusia yang hidup menemukan pengetahuan dan pengalaman hidup namun amat sangat jarang manusia menemukan makna dari pengetahuan dan pengalaman yang didapatkannya, sedang jalan untuk menuju pengenalan diri dan Tuhannya itu berawal dari makna yang merupakan konsumsi bathinnya untuk berkembang, hanya Al Quran sajalah yang dapat merangkai pengetahuan dan pengalaman manusia menjadi ayat untuk lebih mengenal diri dan Tuhannya  , dengan kata lain bila ada manusia yang berusaha untuk menemukan diri dan maksud penciptaannya tanpa memakai Al Quran sebagai panduan , pada ujungnya ia tidak akan menemukan fakta yang benar sampai keakar akarnya karena sifat dari pikiran memiliki batasan , dan kecerdasan yang dipakai oleh dirinya tersebut tidak akan mencapai taraf dasar pemikiran karena tidak memiliki informasi Quran didalam sumber prosesnya.

Akhir kata, kita dapatkan kesimpulan bahwa barang siapa yang mengaku seorang Muslim dan membaca Al Quran haruslah Cerdas, bila dari hari ke hari tidaklah semakin cerdas berarti ada yang salah dalam proses dirinya ” Membaca” Al Quran, seorang Muslim tentunya harus memiliki Kedewasaan & Kecerdasan yang Universal karena Al Quran turun dalam keadaan yang Universal dan penuh dengan Mawaddah dan Warahmah, oleh karena itu, saat ini kita dapat menyadari dengan sebenar benarnya bahwa tujuan diturunkannya Quran adalah untuk diri kita, seluruh muslimin muslimat yang mengaku beriman kepada Allah, untuk mengkoreksi diri sendiri dan memperbaikinya (Qs 17:14) bukan untuk mencari apalah lagi untuk menilai kesalahan orang lain.

Allahu’alam Bisshowab

Jakarta, 04 Oktober 2011

*SS*

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Naik Mule di Grand Canyon …

Bonekpalsu | | 26 July 2014 | 08:46

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

[Surat untuk Jokowi] Dukung Dr. Ing. Jonatan …

Pither Yurhans Laka... | 5 jam lalu

Gaya Menjual ala Jokowi …

Abeka | 9 jam lalu

Jenderal Politisi? …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Tuduhan Kecurangan Pilpres dan Konsekuensi …

Amirsyah | 9 jam lalu

Gugatan Prabowo-Hatta Tak Akan Jadi Apa-apa …

Badridduja Badriddu... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: