Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Radixx Nugraha

Endless Learner [--------------------------------------------------------------------------------------------------------------] “Man jadda Wa Jadda Man Shabara Zhafira” "Kita semua hidup dalam ketegangan, dari waktu ke selengkapnya

Salatiga Jakarta Naik Kereta Ekonomi AC

REP | 18 September 2013 | 21:58 Dibaca: 2405   Komentar: 4   1

By: Radixx Nugraha

Sabtu hari kemarin (14092013) saya pergi ke Jakarta, menengok saudara.

4 hari sebelumnya, setelah menimbang nimbang antara waktu tercepat, kedekatan dengan tempat saudara, dan keuangan, saya memutuskan untuk mencoba naik kereta ekonomi AC. Saya segera membeli tiket kereta api di Indomaret. Saya mendapatkan kursi duduk di kereta api Tawang Jaya, berangkat hari sabtu pk 7 malam.Harga tiket tersebut 45 rb, tetapi saya diharuskan membeli juga 1 mie indomaret seharga 7500. Total biaya yang saya keluarkan adalah 52500.Saya segera menyerahkan uang tersebut beserta identitas diri KTP saya kepada kasir.

Sebagai Backpacker amatir, hari Jumat Malam saya berangkat ke Pasar Sapi Salatiga, tempat bis bis kecil yang mengangkut penumpang dari Salatiga ke Stasiun Poncol berada. Saya mensurvei harga perjalanan dari Salatiga ke Stasiun Poncol semarang, dan saya mendapatkan perkiraan harga di kisaran 8 rb. Saya segera pulang untuk bergegas menyiapkan perjalanan.

Sabtu pkl 3 sore saya segera bergerak ke pasar sapi salatiga dan berangkat ke semarang dengan minibis merah dengan nomor H 1712 C. Pkl 3.30 sore. Sang kondektur menagih uang 10 rb. Penumpang yang lain ada yang ditarik 12 rb. Saya sebenarnya hendak protes karena Jumat malam saya sudah survei harga, tetapi karena saya hendak melakukan perjalanan jauh, saya ikhlaskan saja uang 2 rb tersebut. Hitung hitung membayar doa sang kondektur agar saya sampai dengan selamat dan dimudahkan sampai Jakarta.

1379514125357853998

Minibis H 1712 C.

Sang kondektur, dengan tubuh yang gemuk tertawa tawa, serta berkata kepada para penumpang yang lain bahwa ia berencana mendapatkan untung satu juta rupiah pada perjalanan pulang pergi salatiga semarang ini, serta dia memiliki posisi tawar yang kuat untuk menaikan harga karena dia adalah kendaraan terakhir yang mengangkut penumpang dari Salatiga ke Stasiun Poncol, dan waktu untuk kereta berangkat kurang tiga jam lagi.

Minibis terus berjalan dan semakin lama semakin penuh sesak orang, di sebelah saya ada penumpang yang membawa bayi usia 7 bulan berusaha meredakan tangisnya. Suhu didalam minibis cukup panas karena jalur lalu luntas macet di Bawen dan Ungaran, serta minibis yang saya tumpangi membawa penumpang sebanyak 3 kali lipat jumlah yang bisa dia tanggung. Saat itu saya seperti dapat merasakan apa yang dialami pindang ketika dia dimasak sampai dijual ke pasar. Didalam hari saya membatin, hmm… pantas bisa mentarget untung satu juta.

Pkl 6 sore, sampailah saya di stasiun poncol. Disana saya menukarkan struk belanja di Indomaret dengan tiket resmi dari stasiun. Saya segera bergegas memasuki kereta api Tawang Jaya, walaupun didalam kereta saya harus menunggu 1 jam sampai kereta berangkat. Saya penasaran, seperti apakah kereta api ekonomi AC rasanya.

13795142812118113087

Stasiun Poncol Semarang

13795144751655845221

Tiket Kereta Api Resmi Dari Stasiun

Kereta Tawang Jaya memiliki 4 buah gerbong, dimana tiap gerbong terdiri dari 23 deret kursi warna hijau, Tiap deret kursi menampung 5 orang. Saya mendapati urutan saya di gerbong no 2 dengan deret kursi no 13 c. Tiap deret kursi genap dan ganjil disusun berhadap hadapan dengan jarak antar kaki 10 cm. Sepanjang malam saya tidak dapat meluruskan kaki saya karena kaki penumpang lain menghalangi..

1379514814446951519

Deretan kursi Kereta Tawang Jaya

137951494462676275

Kursi Kereta Berhadap hadapan

Fasilitas kereta api Ekonomi ini adalah 2 buah colokan listrik di tiap baris kursi, serta 3 buah dudukan air mnum. Kereta ini menggunakan AC rumah tangga yang terpasang di plafon kereta. Sepanjang malam saya kedinginan karena AC nya bekerja optimal dan saat tidur suhu tubuh menurun saat tidur. Toilet di kereta adalah toilet Jongkok dan disertai semprotan untuk buang air. Sedikit lebih baik daripada Bis pikir saya.

1379515462625047725

Dudukan air minum dan stop kontak

1379514894107766926

AC KA Tawang Jaya

1379515687474522687

WC dan Semprotan Air KA Tawang Jaya

13795157581008500061

Wastafel KA Tawang Jaya

Keretapun melaju dengan kencang, saya memaksakan diri untuk tidur walaupun penumpang lain bercakap cakap dan tertawa tawa, teringat saya akan penduduk desa waktu ronda sewaktu saya kuliah kerja nyata di Tawangmangu dahulu. Beberapa penumpang mengomentari AC kereta ini, katanya dahulu penumpang berdiri berdesakan tiada AC, sewaktu Pak Dahlan Iskan menjabat menjadi menteri, harga tiket kereta naik 30 % disertai penambahan fasilitas AC dan semua penumpang mendapat tempat duduk. Entah benar entah tidak cerita mereka, saya tidak tahu. Saya sendiri hanya mendengarkan sembari mengantuk karena perjalanan naik minibis tadi,

13795159291128386100

Suasana di Gerbong KA Tawang Jaya

Tiga jam berlalu, pk 10 malam petugas kereta menawarkan dagangan kepada para penumpang. Nasi goreng seharga 15 rb, segelas kopi seharga 5rb, air hangat 1 rb. Saya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala ketika ditanya apakah hendak memesan. Saya sedang menghemat uang mas, kata saya didalam hati.

1379516031561183413

Petugas KA Menawarkan Dagangan ke Penumpang

Kereta terlambat 1 jam, dijadwal yang tertera, seharusnya pk 2 dia sampai, tetapi Pukul 3 am saya baru tiba di stasiun Pasar Senen, namun walaupun begitu saya turun dari kereta dengan rasa puas. Semarang Jakarta 6 jam perjalanan dengan uang 45 rb disertai menggigil karena AC tidaklah buruk. Kondektur minibis salatiga semarang yang menagih 10 rb memang agak keterlaluan. Indomaret yang mengharuskan membeli mie indomaret seharga 7500 bisa dimaklumi. Total uang yang saya keluarkan pada perjalanan salatiga jakarta ini adalah 62.500. Semoga coret coretan saya ini dapat menjadi referensi atau minimal hiburan bagi penduduk kota salatiga yang hendak ke Jakarta dengan kereta ekonomi AC.

1379516135121103169

Suasana Stasiun Pasar Senen Jakarta

Sekian dari saya, semoga bermanfaat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

10 Tanggapan Kompasianer Terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 14 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 15 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Wailissa Anggota BIN? …

Prabu Bolodowo | 8 jam lalu

Ketika Berada di Bukit Wantiro …

Voril Marpap | 8 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Selamat Ulang Tahun Baru Hijriah 1436 H …

Imam Muhayat | 8 jam lalu

Membaca Membuat Pintar …

Nitami Adistya Putr... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: