Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Wahyu Hidayanto

Wong Ndeso, Wong Cilik, Rakyat Jelata yang Rindu Terwujudnya Keadilan dan Kemakmuran

Lampu Sein

OPINI | 14 September 2013 | 21:19 Dibaca: 462   Komentar: 6   3

Hampir setiap hari saya pulang-pergi dari tempat saya studi ke rumah nenek. Mau mencari kost-kost-an tanggung, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Sayang jika harus bayar uang kost, uang yang dipakai untuk bayar kost dan beli makan, lebih baik diberikan kepada nenek untuk tambahan beli bumbu dapur. Selain sedikit menghemat, juga sekalian menemani nenek yang tinggal sebatang kara. Karena tidak kost, jadinya saya bolak-balik dari rumah nenek ke tempat saya studi.

Dalam perjalanan, baik perjalanan ke tempat studi atau perjalanan touring pasti selalu menyisakan cerita yang menarik. Selain menarik terkadang juga ada cerita yang membuat bergidik. Cerita yang menarik versi saya adalah adanya pemandangan yang menyegarkan mata, tanaman yang menghijau dan tingkah lucu para pengendara. Cerita yang membuat bergidik versi saya adalah kecelakaan, baik yang maut sampai menelan korban maupun yang hanya luka-luka ringan. Seperti yang sedang ramai diberitakan beberapa hari yang lalu, yaitu kecelakaan maut tol jagorawi. Itu semua mengerikan.

Di sini saya tidak akan banyak bercerita tentang kecelakaan, tapi saya lebih memilih bercerita tentang lampu sein. Yang menurut saya, kesalahan menghidupkan lampu sein juga akan berpotensi menimbulkan kecelakaan. Lampu sein adalah lampu yang dipasang dikendaraan bermotor, baik roda dua, roda empat maupun roda banyak, biasanya dipasang disisi kanan dan kiri kendaraan, yang fungsinya sebagai tanda atau isyarat kalau kendaraan mau belok kiri atau kanan. Kalau mau berbelok ke kanan, maka lampu sein kanan yang dinyalakan, dan berlaku sebaliknya. Menurut KBBI, lampu sein artinya  lampu isyarat pada kendaraan (untuk belok atau berhenti dan sebagainya).

Terkait dengan lampu sein, saya sering sekali heran, kaget, terharu, terkesima dan respon yang lain ketika ada orang yang kurang tepat dalam menyalakan lampu sein. Sering sekali orang yang sebenarnya mau belok ke kanan dan menyalakan lampu sein sebelah kanan, nyala lampu sein nya suah benar, tapi sayangnya orang tersebut malah minggir ke kiri. Hal itu akan menyulitkan pengendara yang berada dibelakangnya, mereka akan kebingungnya menentukan sikap, mau menyalip lewat sebelah kanan takut nabrak, mau lewat sebelah kiri takut kalau tiba-tiba orang yang sudah menghidupkan lampu sein kanan akan berbelok ke kanan. Kalau saya biasanya lebih baik mengalah saja menunggu orang tersebut benar-benar berbelok ke kanan, itupun kalau kondisi saya tidak sedang ngebut. Kalau ngebut lain lagi ceritanya.

Menemukan orang yang seperti itu, saya jadi bertanya-tanya, apakah orang itu sudah buat SIM (Surat Izin Mengemudi)? Atau membuat SIM nya nembak secara kolektif tanpa melewati tes? Entahlah. Kalau menurut kakek saya, “kalau menjumpai orang seperti itu, lebih baik kita lewat sebelah kiri saja, kalaupun orang itu tertabrak, kita menang secara hukum. Mungkin orang itu belum pernah membuat SIM atau kalaupun sudah pasti buat SIM nya nembak” begitu kata kakek saya.

Ada juga orang yang malah menyalakan lampu sein sepanjang perjalanan, baik yang kiri maupun yang kanan, padahal tidak mau berbelok. Hal ini juga akan  membingungkan pengedara yang lain. Orang yang seperti itu ada baiknya diingatkan, biar tidak mengganggu kenyamanan pengendara yang lain.

Ada lagi cerita terkait dengan lampu sein, dengan dalih sudah menyalakan lampu sein seorang pengendara menyalip kendaraan yang ada di depannya tanpa mempedulikan pengendara yang berlawanan arah dari depannya. Dengan modal lampu sein dan klakson orang itu menyerobot jalan orang lain dan nyaris menyelekakan diri sendiri dan orang lain. Ada salah satu teman saya yang ketika menjumpai orang yang menyerobot hak guna jalan orang lain, maka teman saya akan berteriak mengumpat pengendara tersebut. Hal itu juga tidak bisa dibenarkan, apalagi jika umpatannya sampai keluar kaki empat penghuni kebun binatang. Tapi masih mendingan, daripada dilempar batu, kan masalahnya jadi makin runyam.

Cerita yang berbeda ketika saya sendiri yang menyalakan lampu sein. Waktu itu saya mau belok kekanan dan menyalakan lampu sein kanan dari jarak yang lumayan jauh dari belokan. Saya berjalan ditengah-tengah jalan, ketika sudah sampai belokan, saya membelokkan sepeda motor saya, tiba-tiba ada sepeda motor yang melaju dengan kecepatan sedang dari belakang dan lewat sebelah kanan saya. Padahal saya mau berbelok ke kanan dan sudah menyalakan lampu sein, hampir saja saya ketabrak. Untung saya mengendarai sepeda motornya dengan pelan-pelan. Jadi sebelum belok banget ke kanan, orang itu sudah melewati sepeda motor saya. Dan selamatlah saya dari kecelakaan. Alhamdulillah.

Terakhir, mari kita berhati-hati dalam menyalakan lampu sein. Jangan sampai gara-gara lampu sein malah mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Mari fungsikan lampu sein dengan sebagaimana mestinya.

Klaten, 13 September 2013

Salam

WH

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Gaharu di Hutan Perbatasan …

Dodi Mawardi | | 29 November 2014 | 11:18

Jokowi Tegas Soal Ilegal Fishing, …

Sahroha Lumbanraja | | 29 November 2014 | 12:10

Menjadikan Produk Litbang Tuan Rumah di …

Ben Baharuddin Nur | | 29 November 2014 | 13:02

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak? …

Wahyu Indra Sukma | | 29 November 2014 | 05:44

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 7 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 10 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Pulau Penyengat, Pulaunya Masjid Raya Sultan …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu

Gerdema: Saatnya Desa Mandiri, Saatnya Desa …

Amelya I. Fatma R. | 8 jam lalu

Selingkuh …

Mamang Haerudin | 8 jam lalu

Miskonsepsi: Fasilitator Pendidikan vs Orang …

Zuhda Mila Fitriana | 8 jam lalu

Analisis Dua Cerita Ulang Imajinatif: Asal …

Astari Kelana Hanin... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: