Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Herumawan P A

Asli wong Yogya. Pernah menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Menyukai olahraga sepakbola, sedang belajar menjadi selengkapnya

Ospek Identik Kekerasan?

OPINI | 10 September 2013 | 17:22 Dibaca: 280   Komentar: 0   0

Kaget dan miris setiap kali melihat ospek yang selalu berakhir dengan tewasnya mahasiswa baru. Hampir rata-rata penyebabnya adalah kekerasan dari para senior. Ini jelas berbeda dengan ospek yang terjadi pada Adik saya sekitar dua tahun lalu. Ketika itu, Adik saya diterima di salah satu Universitas negeri di Yogyakarta. Sebagai mahasiswa baru, Adik saya harus menjalani ospek.

Dalam ospek itu, Adik saya diharuskan membawa toga dari kertas koran bekas dan membuat papan nama dari kertas putih untuk digantungkan di leher. Lalu membuat dua buah pantun pada kaos putih. Satu pantun ditulis di bagian depan kaos dan satunya lagi di belakang kaos. Hingga membawa dua lembar kertas karton coklat. Semua itu akan digunakan dalam kegiatan ospek.

Ospek yang terjadi pada Adik saya ketika itu memang menyenangkan dan tidak terasa memberatkan untuk seorang mahsiswa baru. Memang begitu seharusnya ospek. Barang-barang yang diharuskan dibawa oleh para mahasiswa baru seharusnya mudah didapat serta tidak mahal. Dan ketika melakukan ospek pun, tidak boleh ada kekerasan.

Ospek pada hakekatnya adalah sarana pengenalan kampus. Dalam kegiatan ospek ini, mahasiswa baru harus nyaman dan merasa dimanusiawikan. Kalau ada kesalahan, tidak perlu menghukum secara berlebihan. Ketegasan terhadap mahasiswa baru memang diperlukan sekedar mengingat kalau kehidupan kampus tidak sama sewaktu masih di SMA dulu.

Dalam kegiatan ospek, mahasiswa baru juga akan diperkenalkan pada beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa yang biasanya ada di kampus. Tak ketinggalan pula, partai-partai mahasiswa juga ikut menyebarkan pengaruhnya untuk membidik suara di Pemilwa yang akan memilih pengurus BEM dan SEMA nanti. Bahkan salah satu Universitas negeri di Yogyakarta pada ospek tahun lalu mewajibkan para mahasiswa barunya menggunakan angkutan transpotasi umum seperti trans Jogja ketimbang kendaraan pribadi ketika sedang atau sesudah ospek. Ini menggambarkan ospek bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

Untuk itu jangan apriori dengan ospek. Karena ospek tetap berlangsung sesudah calon mahasiswa dinyatakan diterima menjadi mahasiswa. Kini yang perlu kita bersama mengantisipasinya adalah masalah kekerasan dalam ospek. Semua itu tentunya bergantung pada pihak-pihak yang menangani ospek.

Pengawasan ketat mutlak dilakukan. Otoritas kampus seperti dosen diharapkan bisa turun langsung mengawasi. Tujuannya agar segala bentuk kekerasan tak terjadi dalam ospek. Lalu senior diharapkan tak membalaskan dendam kepada para mahasiswa baru karena dulu pernah disakiti dalam ospek. Begitu juga para mahasiswa baru dituntut bisa mematuhi peraturan dalam ospek. Dengan demikian, ospek akan bisa berjalan aman dan nyaman. Semoga,

Salam Kompasiana.

Tags: freez ospek

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bangsa Tiongkok Besar karena Budaya Literasi …

Eko Prasetyo | | 01 March 2015 | 20:35

Kisah Sedih Sepiring Nasi …

Mira Marsellia | | 01 March 2015 | 18:32

Pentingnya Belajar Geografi …

Gordi | | 01 March 2015 | 14:47

Bale Woro, Ruang Tunggu Unik di RSUD …

Mawan Sidarta | | 01 March 2015 | 19:02

Kompasiana - SKK Migas-Kontraktor KKS Blog …

Kompasiana | | 14 February 2015 | 13:45


TRENDING ARTICLES

Sejuta “Ahok” Lagi Akan Lahir …

Tjiptadinata Effend... | 2 jam lalu

Congor, Akal dan Iman Ahok …

Gan Pradana | 5 jam lalu

Calon-calon Pesakitan KPK Kasus Dana Siluman …

Salman | 8 jam lalu

Komplotan Begal DPRD …

Irham Rajasa | 8 jam lalu

Beraninya Pak Ahok …

Kamaruddin Mustari | 8 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: