Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Herumawan P A

Asli wong Yogya. Pernah menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Menyukai olahraga sepakbola, sedang belajar menjadi selengkapnya

Ospek Identik Kekerasan?

OPINI | 10 September 2013 | 17:22 Dibaca: 278   Komentar: 0   0

Kaget dan miris setiap kali melihat ospek yang selalu berakhir dengan tewasnya mahasiswa baru. Hampir rata-rata penyebabnya adalah kekerasan dari para senior. Ini jelas berbeda dengan ospek yang terjadi pada Adik saya sekitar dua tahun lalu. Ketika itu, Adik saya diterima di salah satu Universitas negeri di Yogyakarta. Sebagai mahasiswa baru, Adik saya harus menjalani ospek.

Dalam ospek itu, Adik saya diharuskan membawa toga dari kertas koran bekas dan membuat papan nama dari kertas putih untuk digantungkan di leher. Lalu membuat dua buah pantun pada kaos putih. Satu pantun ditulis di bagian depan kaos dan satunya lagi di belakang kaos. Hingga membawa dua lembar kertas karton coklat. Semua itu akan digunakan dalam kegiatan ospek.

Ospek yang terjadi pada Adik saya ketika itu memang menyenangkan dan tidak terasa memberatkan untuk seorang mahsiswa baru. Memang begitu seharusnya ospek. Barang-barang yang diharuskan dibawa oleh para mahasiswa baru seharusnya mudah didapat serta tidak mahal. Dan ketika melakukan ospek pun, tidak boleh ada kekerasan.

Ospek pada hakekatnya adalah sarana pengenalan kampus. Dalam kegiatan ospek ini, mahasiswa baru harus nyaman dan merasa dimanusiawikan. Kalau ada kesalahan, tidak perlu menghukum secara berlebihan. Ketegasan terhadap mahasiswa baru memang diperlukan sekedar mengingat kalau kehidupan kampus tidak sama sewaktu masih di SMA dulu.

Dalam kegiatan ospek, mahasiswa baru juga akan diperkenalkan pada beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa yang biasanya ada di kampus. Tak ketinggalan pula, partai-partai mahasiswa juga ikut menyebarkan pengaruhnya untuk membidik suara di Pemilwa yang akan memilih pengurus BEM dan SEMA nanti. Bahkan salah satu Universitas negeri di Yogyakarta pada ospek tahun lalu mewajibkan para mahasiswa barunya menggunakan angkutan transpotasi umum seperti trans Jogja ketimbang kendaraan pribadi ketika sedang atau sesudah ospek. Ini menggambarkan ospek bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

Untuk itu jangan apriori dengan ospek. Karena ospek tetap berlangsung sesudah calon mahasiswa dinyatakan diterima menjadi mahasiswa. Kini yang perlu kita bersama mengantisipasinya adalah masalah kekerasan dalam ospek. Semua itu tentunya bergantung pada pihak-pihak yang menangani ospek.

Pengawasan ketat mutlak dilakukan. Otoritas kampus seperti dosen diharapkan bisa turun langsung mengawasi. Tujuannya agar segala bentuk kekerasan tak terjadi dalam ospek. Lalu senior diharapkan tak membalaskan dendam kepada para mahasiswa baru karena dulu pernah disakiti dalam ospek. Begitu juga para mahasiswa baru dituntut bisa mematuhi peraturan dalam ospek. Dengan demikian, ospek akan bisa berjalan aman dan nyaman. Semoga,

Salam Kompasiana.

Tags: freez ospek

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 4 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 6 jam lalu

Lagu Anak Kita yang Merupakan Plagiat …

Gustaaf Kusno | 8 jam lalu

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman dalam …

Tubagus Encep | 9 jam lalu

Ahok Narsis di Puncak Keseruan Acara …

Seneng Utami | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Cinta Sejati …

Adhikara Poesoro | 8 jam lalu

Mengenal Air Asam Tambang …

Denny | 8 jam lalu

Afta dan Uji Kompetensi Apoteker …

Fauziah Amin | 8 jam lalu

Demo BBM vs Berpikir Kreatif …

Rumahkayu | 8 jam lalu

Revolusi dari Desa (Paradigma Baru …

Ikhlash Hasan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: