Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Herumawan P A

Asli wong Yogya. Pernah menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Menyukai olahraga sepakbola, sedang belajar menjadi selengkapnya

Ospek Identik Kekerasan?

OPINI | 10 September 2013 | 17:22 Dibaca: 274   Komentar: 0   0

Kaget dan miris setiap kali melihat ospek yang selalu berakhir dengan tewasnya mahasiswa baru. Hampir rata-rata penyebabnya adalah kekerasan dari para senior. Ini jelas berbeda dengan ospek yang terjadi pada Adik saya sekitar dua tahun lalu. Ketika itu, Adik saya diterima di salah satu Universitas negeri di Yogyakarta. Sebagai mahasiswa baru, Adik saya harus menjalani ospek.

Dalam ospek itu, Adik saya diharuskan membawa toga dari kertas koran bekas dan membuat papan nama dari kertas putih untuk digantungkan di leher. Lalu membuat dua buah pantun pada kaos putih. Satu pantun ditulis di bagian depan kaos dan satunya lagi di belakang kaos. Hingga membawa dua lembar kertas karton coklat. Semua itu akan digunakan dalam kegiatan ospek.

Ospek yang terjadi pada Adik saya ketika itu memang menyenangkan dan tidak terasa memberatkan untuk seorang mahsiswa baru. Memang begitu seharusnya ospek. Barang-barang yang diharuskan dibawa oleh para mahasiswa baru seharusnya mudah didapat serta tidak mahal. Dan ketika melakukan ospek pun, tidak boleh ada kekerasan.

Ospek pada hakekatnya adalah sarana pengenalan kampus. Dalam kegiatan ospek ini, mahasiswa baru harus nyaman dan merasa dimanusiawikan. Kalau ada kesalahan, tidak perlu menghukum secara berlebihan. Ketegasan terhadap mahasiswa baru memang diperlukan sekedar mengingat kalau kehidupan kampus tidak sama sewaktu masih di SMA dulu.

Dalam kegiatan ospek, mahasiswa baru juga akan diperkenalkan pada beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa yang biasanya ada di kampus. Tak ketinggalan pula, partai-partai mahasiswa juga ikut menyebarkan pengaruhnya untuk membidik suara di Pemilwa yang akan memilih pengurus BEM dan SEMA nanti. Bahkan salah satu Universitas negeri di Yogyakarta pada ospek tahun lalu mewajibkan para mahasiswa barunya menggunakan angkutan transpotasi umum seperti trans Jogja ketimbang kendaraan pribadi ketika sedang atau sesudah ospek. Ini menggambarkan ospek bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

Untuk itu jangan apriori dengan ospek. Karena ospek tetap berlangsung sesudah calon mahasiswa dinyatakan diterima menjadi mahasiswa. Kini yang perlu kita bersama mengantisipasinya adalah masalah kekerasan dalam ospek. Semua itu tentunya bergantung pada pihak-pihak yang menangani ospek.

Pengawasan ketat mutlak dilakukan. Otoritas kampus seperti dosen diharapkan bisa turun langsung mengawasi. Tujuannya agar segala bentuk kekerasan tak terjadi dalam ospek. Lalu senior diharapkan tak membalaskan dendam kepada para mahasiswa baru karena dulu pernah disakiti dalam ospek. Begitu juga para mahasiswa baru dituntut bisa mematuhi peraturan dalam ospek. Dengan demikian, ospek akan bisa berjalan aman dan nyaman. Semoga,

Salam Kompasiana.

Tags: freez ospek

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Proses Kreatif Desainer Kover Buku The Fault …

Benny Rhamdani | | 24 October 2014 | 14:11

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 4 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 5 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 7 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Ada Esensi Pembelajaran Hidup dalam Lagu …

Yunety Tarigan | 8 jam lalu

Aplikasi Info KRL Anti-ketinggalan Kereta …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Review “The Giver” : Kegagalan …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Sudah Siapkah Indonesia Menghadapi AFTA …

Ira Cahya | 8 jam lalu

Brisbane akan jadi “Ibu Kota …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: