Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Suhindro Wibisono

. ~ ~ ~ ~ " a critical observer " ~ ~ ~ ~ ( selengkapnya

Sensitif || “AHOK Muslim Sejati Berjubah Nasrani”

OPINI | 07 September 2013 | 10:06 Dibaca: 3668   Komentar: 90   11

13785229972129052142

Image source : rickynjeldjaelani.blogspot.com

.
.

As-salāmu`alaykum,

k o m p a s i a n a, FATSAL-1 ; FATSAL-2. Isi dari fatsal-1 & 2 tolong lihat di : artikel sensitif …

“DEBAT-KUSIR CARI AGAMA BERGARANSI SURGA”

http://t.co/HdqRbsE2eE
.

BangsaKU - NegaraKU - BenderaKU - KotaKU - KampungKU - SekolahKU - KampusKU - GengKU - IdolaKU - KeluargaKU - AyahKU - IbuKU - IstriKU - AnakKU - SaudaraKU - TemanKU - PacarKU - …….. - A G A M A K U

Itulah akhiran “KU” yang bisa menyebabkan nyawa tidak ada harganya, karena bisa menyebabkan rela menjadi teroris, perkelahian perorangan, perkelahian antar kelompok, perkelahian antar kampung, perkelahian antar fans, perang saudara sebangsa, bisa menimbulkan perang antar negara, atau bahkan perang dunia !

Bukan main, begitu pentingnya EGO kita sebagai manusia harus dikendalikan, dan untuk itu tentu saja akan sangat arif kalau kita tidak mempertentangkannya bukan ?

Ketika aku mengatakan : agamaku paling sempurna ; Allahku lah yang punya kuasa di Surga dan di bumi ; Allahku adalah ALLOH SWT, sedangkan tuhan agama lain diciptakan oleh Alloh SWT dan akan kembali kepada Alloh SWT.

Jelas memang aku harus “ber-anggapan” begitu, karena itulah pengajaran untuk meneguhkan ke-iman-nan, dan percayalah bahwa mereka yang beragama selain agamaku juga akan begitu, membuat pernyataan bahwa Tuhan-nya lah yang paling Esa dan menganggap Tuhanmu tidak sebenar Tuhannya.
Aku-Kamu-Dia juga menganggap bigitu bukan ?

Dan sesungguhnya, ketika aku menyangsikan Tuhan dari agama lain, apalagi aku mengatakan Tuhan-nya adalah ciptaan Tuhan-ku, jelas sekali aku membuat pernyataan yang tidak memahami, atau aku sebetulnya hanya membenarkan sesuai versiku sendiri.
Begitu juga mereka yang tidak membenarkan Tuhan-mu, mereka juga hanya membenarkan sesuai versinya sendiri.
Logikanya bagaimana, ketika isi kitab sucinya hampir sama, yang kalau istilah modern-nya sekarang ini adalah copyright(copas)-nya satu sumber, terus yang satu mengatakan tidak mengakui sumber-nya ? Bukankah itu juga berarti bahwa yang tidak mengakui juga tidak mengakui sumber dari kitab sucinya itu sendiri ? Atau juga bisa diartikan, kalau salah berarti keduanya juga salah bukan ?

Lalu kalau kita cermati pada QS 2; (1-5). Yang taqwa itu adalah ia yang (1)… (2)… (3)… (4) mengimani kitab (Qur’an) dan kitab-kitab sebelumnya … , (5)…
Maaf kalau salah kasih contoh, karena kalau benar begitu, berarti ada keterkaitan sumbernya bukan ?

Kalau kita simak disemua artikel ttg agama, yang ujung-ujungnya pemberian tanggapan, tidak ada yang happy ending, pasti berantem karena selalu tidak ada pihak yang mau mengalah. Bahkan banyak sekali menggunakan kata-kata layaknya “kebun binatang”, apakah sesudahnya akan melegakan untuk semuanya ? Saya sangat yakin TIDAK !.

Tapi itulah yang terjadi, dan akan selalu ber-ulang, sepertinya engga ada capeknya. Agama memang sungguh sangat dahsyat, itulah sebabnya bahkan banyak yang rela melakukan bom bunuh diri untuk keyakinan agamanya, yang justru orang lain menganggapnya kesia-sia’an. Sayang sekali memang, pemanfaatan kurangnya wawasan oleh mereka yang mampu mencuci otak generasi muda agar dengan senang hati melakukan kehendaknya. Sungguh luar biasa, penghilangan nyawa yang bahkan sangat murah harganya, dibanding ketika ada orang tua yang mau menjual organ tubuhnya untuk bisa menebus ijasah anaknya yang masih tertahan di yayasan.
Kenapa tidak dinyatakan haram saja perbuatan teroris di “Indonesia”, apakah tidak boleh menyatakan begitu ? Untuk kepentingan bangsa Indonesia sendiri. Maaf, atau memang halal ?

Dan ketika ada teroris yang tertangkap, lalu menjalani persidangan, kenapa tim pembelanya hanya itu-itu saja, betulkah mereka sebetulnya murni menegakkan UU ttg pembelaan tersangka, bukan meng-amin-ni pergerakkannya ?, dan alangkah baiknya kalau pembelanya tidak memberi nama …….. Muslim, walaupun memang tidak melanggar peraturan yang ada, tapi apakah itu mewakili semua muslim ?
Ketika ada ribut-ribut soal Ahmadiyah, saya kurang memahaminya memang, tapi yang saya tangkap adalah, banyak dari kita menghendaki Ahmadiyah jangan menggunakan label Islam ?, apakah case tsb (muslim~islam) tidak boleh disepadankan ? Mohon pencerahannya, saya hanya ingin memahami, mohon maaf jika pertanyaan-pertanyaan saya kurang berkenan, dan bahkan kalau MAYORITAS pembaca menghendaki paragraf ini dihapus, akan dilaksanakan.

Kembali kedebat kusir yang sebetulnya ingin saya tulis, bukankah ternyata mereka yang sangat ngotot berdebat ttg kebenaran agama, yang juga sangat yakin bahwa mereka sangat memahami apa yang diperdebatkan, karena kalau tidak begitu maka tidak ada perdebatan, dan tentu saja tidak ada ke-fanatik-an, padahal sejatinya mereka kebanyakan tidak benar-benar memahami tentang agama yang diperdebatkan itu. Entah tentang agamanya sendiri, terlebih agama yang dijelekkan.

Begini pembuktiannya….

Mereka biasanya lupa melihat kedalam, lupa melihat dirinya sendiri, atau lebih tepatnya lupa mengukur pengetahuannya sendiri ttg agama yang sedang diperdebatkan tsb.

Penggambarannya begini, pada agama Islam misalnya, kita mengenal tokoh seperti Gus Dur, Prof.Dr. Ahmad Syafii Maarif, KH. Ahmad Hasyim Muzadi, dan banyak lagi tokoh lainnya yang hebat-hebat, bahkan juga banyak yang hebat dipendidikan formalnya ( misalnya profesor, doktor, dll ).
Begitu juga dengan tokoh-tokoh di agama lain, entah itu Kristen, Katholik, Budha, Hindu …. pastinya banyak tokoh-tokoh hebat dan juga tidak kalah berpendidikan yang ada didalamnya.
Kenapa ya dari mereka kok saya tidak mendengar mereka menjelekkan agama lain ? Bukankah seharusnya mereka lebih pandai soal agama dari kita ? Atau jangan-jangan ttg agama, kita yang lebih hebat dari mereka ? Hehehehe ….. Apakah kita tidak keterlaluan ?

Atau kita masih mau berdalih, ah mereka para tokoh tsb sebetulnya kan cuma jaga gengsi saja, mereka kan cuma jaga hubungan baik saja, cuma JAIM, cuma ewuh pekewuh, cuma jaga tata krama, cuma saling menghormati, apa lagi lah …. terserah kita mau mendiskripsikannya ……

Seandainya saya jadi salah satu tokoh tsb, saya tentu akan berpikir begini, aku kan juga mau masuk surga, begitu juga istri/suami dan anak-anakku, maka aku akan benar-benar mencari tahu sebisa-bisaku, selogika-logikaku, apakah agama yang sedang saya jalani ini salah atau tidak. Kalau salah ya tentu saja aku akan pindah dari pada harus masuk neraka.
Bukankah begitu seandainya Anda juga ? Bahkan tidak diposisi tokoh itupun, kita juga begitu bukan ? Dan kalau toh Anda memutuskan tidak pindah agama, itu berarti Anda yakin akan kebenarannya, seperti tokoh-tokoh hebat tsb, juga seperti saya.
Bukankah ada ungkapan, walau saya adalah perampok, saya tentu mengharap anak saya jadi ustad/pendeta/biksu … atau jadi dokter/pengusaha/…, atau setidaknya jangan seperti saya !.

Banyak bukti ketidak mengertian kita terhadap agama lain, walau terkadang kita meng-klaim telah memahami agama yang kita jelekkan, itu juga tercermin ketika ada yang memberi tanggapan atas artikel-artikel kehebatan wagub DKI ~ AHOK, juga berita ttg Ahok memberi biaya ibadah umroh ke-penjaga makam Pangeran Wijaya Kusuma, antara lain tanggapannya begini :
- Ahok itu muslim kalau berserah diri mengatakan ’serahkan pada Tuhan’
- Ahok seorang Nasrani tapi berperiliku sangat Islami.
- Inilah muslim sejati.
- Ahok, sayang sekali kenapa kamu bukan muslim.
- Ahok adalah muslim sejati dengan jubah nasrani.
- Dan lain-lain yang justru mengundang senyum bukan ?.

Menganggap kebaikan hanya ada pada agama tertentu saja, bukankah itu sangat mencerminkan ketidak pahaman kita tentang agama orang lain yang sering kali kita klaim lebih jelek dari agama kita ?.
Bukankah itu juga bisa mencerminkan kehausan kita, kehausan akan kebaikan ?!.

Itulah sebabnya, mengapa kita begitu sibuk tereak menomor satukan agama kita, tidak cukupkah kita yakini dan pahami sendiri saja.
Lalu ayo kita berbuat baik, jujur, tidak anarkis, apalagi mencelakakan orang lain dengan menjadi teroris, jangan pula tereak akan menumpas koruptor kalau ternyata malah ditangkap KPK sebagai koruptor itu sendiri.
Apa yang dilakukan Jokowi, Ahok, Ruhut, Fathanah, Luthfi, dan lain-lain, termasuk saya, kamu, dia, itu adalah mencerminkan dirinya masing-masing, dan secara tidak langsung juga termasuk didalamnya AGAMA kita masing-masing bukan ?.
Jadi kalau menurut saya, kalau kita ingin meng-iklankan agama kita, bukan dengan melakukan sweeping, mengobrak-obrik, memaksakan kehendak, meneror, supaya ditakuti, supaya dihormati, dll.
Percayalah itu semua menerbitkan ketakutan kepada khalayak umum, dan juga otomatis memberi penilaian ttg agama yang menakutkan, APAPUN ITU AGAMANYA.

Bukankah itu akan berbanding terbalik dengan yang kita harapkan ? Maaf kalau memang sebetulnya justru itu yang diharapkan, lalu dimana letak rahmatan lil‘aalamiin ( agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta ), atau jangan-jangan kita juga salah memahami ttg agama kita masing-masing ?

Jadi untuk apa kita harus menjelekkan agama lain, apakah kita masih ngotot dan tidak malu, untuk mengatakan kita lebih pinter dari tokoh-tokoh hebat yang memang sudah terkenal, atau kita selama ini lupa menggunakan logika, bahwa ternyata kita telah disesatkan oleh mereka-mereka yang selama ini menceramahi kita, yang mengajarkan kekerasan, mengajarkan penghujatan, mengajarkan ke egoisan, mengajarkan kebencian kepada umat lain, atau bahkan mengharapkan kita menjadi teroris untuk mewujudkan negara syariat, atau kita merasa hebat ketika dijadikan laskar bringas dan bisa melakukan sweeping yang bahkan sangat tidak mencerminkan akhlakul karimah (segala sifat atau perbuatan yang baik) ?.

.

Terkadang kita suka berpegang pada keajaiban-keajaiban untuk meyakinkan bahwa itulah tanda kebenaran yang membuat kita menjadi yakin tentang agama kita, dan memang harus begitu, tapi hendaknya keyakinan tsb tidak membuat kita menjadi fanatik seperti pakai kaca mata kuda.
Karena percayalah, keajaiban-keajaiban itu juga terjadi disemua agama.

Sebelumnya saya infokan, bahwa saya tidak anti terhadap orang yang ingin merubah masa depannya, terlebih menyangkut kehidupan akhirat-nya, maka ketika ada orang pindah agama, terkadang kita mengatakan ybs mendapat hidayah, sungguh tidak salahkah kita semudah itu memberi penilaian ? Atau karena kita memberi penilaian karena seolah-olah kita memenangkan suatu perlombaan ? Atau dengan kepindahannya itu kita merasa mendapat dukungan kebenaran pilihan ?
Percayalah bukan itu semua ukurannya, jangan-jangan ybs pindah agama karena untuk memenuhi permintaan calon istri/suami-nya, atau karena ingin memudahkan ketenaran apalagi kalau itu dilakukan oleh warga negara asing, sepertinya itulah cara instan untuk menjadi bintang bukan ?. Jadi betulkah kita mengatakan itu hidayah, bukan pemanfaatan ? (Maaf kalau salah)

Tentang pindah agama, ini pun juga banyak terjadi ke agama lain. Hanya mungkin kita tidak mencermati karena bukan tokoh penting yang pidah agama, sehingga terluput dari cap murtad. Atau bahkan harus dibunuh karenanya, maaf saya kurang terlalu paham. Karena setahu saya, pada banyak agama lain, agama selalu bisa ditafsirkan sesuai dengan kontek zaman-nya, sehingga agamanya masih tetap relevan. Itu berarti dengan tetap berpegang teguh nurani kebaikan, mempersepsikan(tafsir) ulang hal-hal yang bisa jadi sudah sangat tidak relevan lagi di-zaman ini, termasuk menganggap sesuatu yang tidak harus dihukum mati ketika ada umatnya, atau bahkan tokohnya yang pindah agama sekalipun, seperti misalnya ada pendeta, romo, biksu, ustad … yang mengundurkan diri atau bahkan pindah agama.

Bukankah penghilangan nyawa itu sendiri sangat kontradiktif dengan pengajaran Agama apapun ? Dan bukankah Agama adalah ajaran/jalan pribadi berhadiah surga yang tidak bisa diwakili oleh siapapun ? Saya pernah membaca artikel, ketika seorang yang setingkat dai/pastur/pendeta/biksu ditanya, apakah ybs mendapat “panggilan” atas perannya sekarang ?. Jawabannya sungguh luar biasa : sebaiknya dilihat saja - ketika nanti saya meninggal dunia - apakah posisi saya masih seperti sekarang ?

Kita sering kali mendengar banyak tokoh mengatakan “kafir” terhadap orang/tokoh lain diluar agamanya, apakah betul pemahaman terhadap agamanya sendiri tidak salah ? Bukankah justifikasi kafir itu untuk mereka yang se-agama tapi mereka ‘mbalelo’ ?. Karena justifikasi tsb sungguh kurang nyaman didengar, dan tentunya juga kurang menyenangkan untuk yang dituju.
Agamaku untukku, agamamu untukmu - apakah itu bukan bermakna bahwa kita tidak berhak meng-kafir-kan umat dari agama lain ?
Mohon pencerahannya …..

.

Wassallam, (SPMC SW, © Agu~Sep 2013. All rights reserved )

*****************************
Rekomendasi kunjungan artikel :
.

BASUKI, SELAIN KRISTEN, CINA LU !

http://t.co/0duYoZiEvW
.
.

BASUKI TJAHAJA PURNAMA, SELAIN CINA, KRISTEN PULA !

http://t.co/LG7kReVb6p
.
.

SENSITIF || DEBAT-KUSIR CARI AGAMA BERGARANSI SURGA

http://t.co/HdqRbsE2eE
.
————————–
www.kompasiana.com/suhindrowibisono
————————–

CATATAN PINGGIR :

Judul artikel ini diambil dari suatu tanggapan yang di edit, dengan pertimbangan lebih “menjual”, harap maklum …..

————————

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Dari Kompasianival: Strategi Ahok, Emil, dan …

Ninoy N Karundeng | | 23 November 2014 | 08:22

Urusan Utang dan Negara: Masih Gus Dur yang …

Abdul Muis Syam | | 23 November 2014 | 05:39

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 4 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 12 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


Subscribe and Follow Kompasiana: