Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Viona Viona

Seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di Jakarta yang saat ini sedang magang di Matahati Institute.

Perjalanan Tangguh Menuju Griya Alam Ciganjur

REP | 04 September 2013 | 15:23 Dibaca: 669   Komentar: 0   0

Jakarta, ibukota dari Indonesia yang selalu sibuk dan sangat terkenal akan kemacetannya. Di kota inilah saya memiliki pengalaman perjalanan yang sangat tangguh karena saya berasal dari Palembang dan saya belum hafal seluruh ruas jalan di kota Jakarta. Meskipun saat itu saya telah tinggal di Jakarta selama hampir tiga tahun.

Saat itu adalah hari Sabtu, 29 September 2012. Seperti biasa, saya selalu pergi ke daerah Jelambar untuk mengajar. Saya selalu menghabiskan waktuku dari pukul 09.00-12.00 setiap minggunya untuk mengajar. Berhubung saya tinggal di Sudirman, saya harus berangkat dari rumah pukul tujuh lewat lima belas menit agar saya tidak terlambat sampai di tempat mengajar. Saya menggunakan bis 213 jurusan kampung melayu-grogol dan dilanjutkan dengan naik bemo 07 dengan rute grogol-fajar.

Sabtu kali ini merupakan Sabtu yang berbeda. Pada hari itu, saya diwajibkan oleh kampus untuk mengikuti latihan dasar kepemimpinan (LDK) karena saya saat itu memiliki jabatan di Public Speaking Club sebagai ketua. Namun berhubung saya mengajar, saya tidak bisa berkumpul bersama teman-teman di kampus untuk berangkat bersama-sama ke tempat pelaksanaan kegiatan LDK. Pada saat itu kampusku memilih Griya Alam Ciganjur sebagai tempat pelaksanaan.

Berhubung kegiatan LDK tersebut bersifat wajib, maka saya pun berusaha menuju Griya Alam Ciganjur sendiri setelah selesai mengajar. Sebelum hari pelaksanaan LDK, saya telah menemui panitia LDK untuk memberitahukan bahwa saya tidak dapat berangkat bersama-sama dari kampus serta meminta petunjuk jalan untuk menuju Ciganjur agar saya sampai tujuan tanpa tersesat.

Pihak kampus waktu itu hanya memberitahukanku bahwa Griya Alam Ciganjur tidak terlalu jauh dari Kebun Binatang Ragunan. Petunjuk yang diberikan saat itu adalah saya harus mengambil arah kanan sebelum pintu masuk Kebun Binatang Ragunan. Setelah itu saya diminta untuk mengikuti arah jalan yang ada. Selain itu, pihak kampus memberikan nomor handphone salah satu panitia sehingga apabila saya tersesat saya akan dengan mudah dipandu.

Setelah saya selesai mengajar, saya mencari warung terdekat untuk makan siang. Kemudian, saya langsung naik bemo menuju Grogol untuk naik transjakarta menuju Ragunan. Sebelum saya menuju halte Jelambar, saya melihat bahwa sepatu saya sebentar lagi akan terpisah dengan bagian alasnya. Karena hal itu, saya pun mencari tukang sol sepatu terlebih dahulu sebelum saya berangkat menuju Ciganjur (mengingat kegiatan LDK yang padat dengan kegiatan di luar). Ternyata sol sepatu memakan waktu yang lumayan lama (lebih kurang 25 menit).

Setelah sepatu saya selesai disol, saya pun langsung menuju halte transjakarta Jelambar. Dari halte Jelambar, saya harus transit terlebih dahulu di halte Harmoni, kemudian pindah bus transjakarta dengan rute Blok M-Kota yang menuju Blok M, lalu saya harus transit sekali lagi di halte Dukuh Atas I dan berjalan menuju halte Dukuh Atas II yang lumayan jauh ditambah lagi saya membawa tas yang berisi barang-barang keperluan LDK seperti peralatan mandi, baju ganti, topi, ponco, dan masih banyak barang lainnya, dan hal terakhir yang harus saya lakukan adalah mengantri untuk masuk ke bus rute Dukuh Atas Ragunan. Didalam bus, saya pun terpaksa berdiri karena penumpang bus saat itu cukup padat.

Akhirnya, saya pun sampai di Ragunan setelah 40 menit menempuh perjalanan dari Dukuh Atas. Total waktu yang saya habiskan untuk menuju Ragunan adalah dua jam. Saya memulai perjalanan dari Grogol pukul 13.30 dan saya sampai di Ragunan pukul 15.30. Perjalanan yang cukup panjang, namun saya masih belum mencapai tempat tujuan saya yaitu Griya Alam Ciganjur.

Dalam perjalanan saya menuju Ragunan, saya mencoba menghubungi nomor telepon yang diberikan oleh pihak kampus untuk meminta petunjuk jalan lebih lanjut. Sayangnya, panitia pemilik nomor telepon tersebut tidak pernah mengangkat telepon dari saya. Ketika saya sampai di Ragunan pun saya kembali mencoba menghubungi nomor tersebut, namun hasilnya nihil.

Setelah menunggu sambil kembali mencoba menghubungi beberapa teman yang telah sampai di Griya Alam Ciganjur, saya pun mendapatkan ide untuk menghubungi teman-teman serta staf kampus yang lain. Saat itu, saya bahkan tidak mengetahui bahwa tempat berlangsungnya LDK adalah Griya Alam Ciganjur.

Pertama saya menghubungi teman kos saya yang juga mengikuti LDK, jawaban yang ia berikan adalah bahwa ia juga tidak ingat jalan menuju tempat LDK serta mereka telah memulai kegiatan dan sudah diminta cepat-cepat untuk ganti baju. Kemudian saya mencoba menghubungi staf kampus yang dulu pertama kali saya temui sebelum saya mendaftarkan diri ke kampus tempat saya menimba ilmu sekarang. Sayangnya nomor telepon staf kampus yang ingin saya hubungi ini tidak aktif. Saya pun masih mencoba menghubungi nomor tersebut beberapa kali.

Saya kemudian menghubungi teman yang lain yang juga menjadi peserta LDK namun respon yang saya dapatkan sangat beragam. Ada yang tidak mengangkat, ada yang hanya mengatakan bahwa ia tidak tahu, dan beberapa respon lainnya. Setelah itu, saya mencoba menghubungi mantan ketua klub 4C (salah satu klub yang ada di kampus yang bergerak di bidang lingkungan). Teman saya yang ini juga tidak mengetahui di mana lokasi LDK namun ia mereferensikan untuk menghubungi Stanley. Karena lelah, saya pun hampir putus asa dan ingin langsung pulang ke tempat kos.

Namun saya ingatkan kembali diri saya bahwa saya sudah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan serta telah tiba di Ragunan, saya harus sampai di tempat tujuan dan mengikuti LDK. Akhirnya saya pun mencoba menghubungi Stanley yang ternyata juga turut serta sebagai panitia LDK. Dari Stanley, saya hanya mendapatkan anjuran untuk naik taksi. Selain itu, salah satu teman sekelas saya juga menyarankan saya untuk naik ojek. Karena saya sulit mempercayai supir taksi atau tukang ojek untuk menuju tempat yang baru, saya pun akhirnya mencoba menghubungi teman saya yang lain.

Saya teringat bahwa dua orang teman saya yang senior di Public Speaking Club memiliki kontak bbm dari panitia inti LDK serta nomor telepon panitia inti LDK yang lain. Dari dua teman inilah akhirnya saya diberikan nomor telepon panitia inti serta diberitahukan alamat lengkap dari Griya Alam Ciganjur. Setelah itu, saya bertanya kepada beberapa orang di sekitar tempat saya menunggu mengenai cara untuk menuju Griya Alam Ciganjur.

Dari warga, saya diberitahu untuk naik mikrolet warna merah lalu saya berhenti di persimpangan dan kemudian saya harus naik mikrolet yang lain yang berwarna biru dan berhenti di depan jalan menuju Griya Alam Ciganjur. Saya pun mengikuti arahan warga tersebut dan akhirnya saya sampai dengan selamat di Griya Alam Ciganjur pukul 17.45 serta saya dapat mengikuti LDK.

Inilah pengalaman perjalanan paling tangguh yang pernah saya alami selama saya berada di Jakarta.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Wisata Purbalingga] Sepotong Kisah Lingga …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 16:24

Percuma Merayakan Hari Ibu! …

Wahyu Triasmara | | 22 December 2014 | 11:58

Tumbangnya Pohon Beringin Tanda Bencana …

Cariefs Womba | | 22 December 2014 | 20:33

Melatih Anak Jadi Kompasianer …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 23:47

Ibu Renta Itu Terusir …

Muhammad Armand | | 22 December 2014 | 09:55


TRENDING ARTICLES

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 8 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 10 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 12 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 13 jam lalu

Gabung Kompasiana, Setahun Tulis 8 Buku …

Gaganawati | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: