Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Rian Pioriandana

My life is a gift, I wrapped it with a such beautiful package.

Jelajah Sumatera: Lintas Timur

REP | 02 September 2013 | 00:31 Dibaca: 896   Komentar: 2   4

Kejadian ini kami alami tahun 2011. Sebenarnya muncul dari keinginan pulang kampung ke rumah orangtua yang sudah 10 tahun belum bertemu. Namun karena peduli mengenai anak yang punya kebutuhan khusus, maka perjalanan kali ini kami tidak menggunakan moda transportasi  pesawat atau pun kapal laut. Kami lakukan memakai kendaraan mobil. Alasannya? Ya, tentu saja fleksibilitas, kenyamanan, petualangan seru, dan..  jika ada apa-apa dijalan dengan anak kami, tidak perlu merepotkan orang lain, toh kami sekeluarga saja yang terlibat.. jadi have fun saja.

Rumah orangtua kami ada di Sumatera Utara, tepatnya di kota Medan. Sedangkan kami bertempat tinggal di Bogor. Jika di lihat di google maps jarak keduanya sekitar 2075 Km. Hmm..  sudah terbayang aroma petualangan nanti dijalan. Tentunya persiapan perjalanan sudah jauh hari kami hitung dan pertimbangkan. Jangan sampai kehabisan bekal atau merepotkan keluarga jika kami ternyata terkapar di jalan.. hehe mati gaya deh!

Berhubung ini trip keluarga, perbekalan kami upayakan yang ringkas. Air gelas kemasan, tempat sampah, dan untuk makanan si abang (anak kami yang berkebutuhan khusus) karena agak selektif, jadi kita bawa bekal makanan kering atau roti yang dia suka. Untuk lainnya, makan besar dijalan saja deh. Paling kalau tempat dan waktunya tidak memungkinkan kita masak mie. Anggap saja sedang kemping, cari tempat enak untuk berhenti mobil, lalu gelar tiker. Sepertinya oke…

137805547456783547

Mobil kami rental dan baru dari bengkel.  Mobil sejuta umat, Avanza 1.3l silver keluaran 2008. Sudah ganti oli, semua kelengkapan mobil dan surat-surat saya cek semua ok. Kembang ban, rem, mesin, ban serep, kunci-kunci, air radiator… tidak ada masalah. Ada satu hal yang saya lupa cek waktu itu, aki mobil..  saya tidak lihat akinya, namun kalau dari start mesin lancar-lancar saja.  Tak dinyana, ternyata ini akan membuat perjalanan tambah seru…

Hari Pertama, Keberangkatan.

Saat hari H tiba, Jumat, 8 Juli 2011. Saya masih ada kerjaan dulu paginya, maklum, mencoba melowongkan 3 minggu kedepan supaya tidak diburu kerjaan di jalan. Semua barang berkaitan dengan yang harus dibawa sudah diurus istri. Celakanya karena bergadang kerjaan beberapa malam, badan saya pun demam! Flu mulai menyerang, ditambah sesak dari asthma saya. Duh! Bagaimanapun acara besar ini tak boleh ditunda..  Mengingat saya harus mampir dulu ke Serang rumah orangtua saya sebelum ke Medan dan menginap disana, kami pun berangkat dari Bogor siang itu. Udara kering konstan tak bercampur debu luar dari AC mobil membuat saya tidak bersin-bersin. Alhamdulillah, dua jam perjalanan melewati jalan Jampang – Ciseeng – Puspitek – BSD – Tangerang - Tol JakartaMerak – Serang Timur berhasil kami lalui. Saya bisa istirahat dulu disana sebelum besoknya pergi menyebrang ke Pulau Sumatera.

Meskipun bukan waktu mudik lebaran, tapi waktu itu adalah sessi liburan panjang anak-anak sekolah. Dari TV saya mendapat kabar bahwa penyeberangan ke Sumatera terhambat yang menyebabkan antrian panjang truk sampai jalan tol! Ditambah lagi menurut berita, saat itu di Sumatera tengah terjadi krisis BBM. Banyak SPBU kehabisan stok BBM… Duh, bagaimana kami nantinya?  Saya putuskan kami tetap pergi esok harinya.. que será será!

Hari Kedua, Menyeberang!

Sabtu, 9 Juli 2011. Setelah Istirahat cukup, penambahan bekal, mempersiapkan jerigen kosong kapasitas 10 liter untuk bensin cadangan, jam 9 pagi kami berangkat dari Serang. Satu jam kemudian di Tol Merak, kami berhenti di pintu keluar Cilegon Timur. Bukan karena ban kempes.. tapi macet! Antrian mobil truk terlihat mengular sejauh mata memandang.. Jadi berita kemarin benar! Namun tidak saya sangka akan sejauh ini macet antriannya(sampai pintu keluar Cilegon Timur). Saya melihat ada petugas polisi di depan sedang mengalihkan semua mobil pribadi keluar pintu keluar Cilegon Timur. Ya.. kami ikuti saja, mudah-mudahan ada jalur alternatif yang masih bisa kami lewati. Dan memang petugas tersebut menunjukkan jalur non-tol untuk kearah Merak. Jadilah kami melanjutkan perjalanan melewati jalur tersebut. Jalur ini relatif baik jalannya, dan yang penting lancar. Setelah satu jam lebih, kami sampai Merak. Masuk ke pelabuhan kami masuk jalur khusus kendaraan pribadi.

1378055635577518072

Rupanya kemacetan truk-truk ini karena memang terbatasnya kapal ferry (karena ada kapal yang rusak sedang diperbaiki) dan pihak pelabuhan Merak mendahulukan kendaraan pribadi dan umum. Antri sekitar sejam kami membayar 250 ribuan untuk tiket ferry satu mobil beserta suluruh penumpangnya. Alhamdulillah, jadilah kami diatas kapal ferry untuk menyeberang. Kurang dari sejam kapal ferry sudah berada di Bakauheuni. Akhirnya.. tanah Sumatera!

Satu hal yang saya lupa waktu itu dan baru sadar di tanah Sumatera ini adalah membawa peta.. duh! Jadi saya hanya mengandalkan apa yang saya ingat dan rambu-rambu lalu lintas yang ada. Kalau kota-kota besar yang akan kami lewati sudah saya tetapkan waktu di Bogor.  Intinya kami akan lewat jalur lintas Timur melewati Lampung, Palembang, Jambi, Pekanbaru, sampai ke Medan. Nah, berbekal itu kami teruskan perjalanan jalur hari ini sampai malam kami nanti istirahat adalah Lampung – lintas timur arah Palembang.

Kondisi jalan menuju Lampung baik, kami istirahat untuk sholat dan makan, isi bensin, lalu kembali meneruskan perjalanan. Hingga saat di Lampung terdapat kemacetan panjang, saya ambil jalur ke Metro untuk cari alternatif dan tembus ke Jalan Lintas Timur malam harinya. Jalur Metro ini sebenarnya malah menjauh ke selatan sehingga perjalanan ini bertambah lama. Dan jalur Metro – Lintas Timur ada kerusakan parah di kilometer terakhir. Tapi, ya kita bawa berpetualang saja. Sudah di Lintas Timur saya lega, karena memang jalan ini besar, baik kondisinya, dan ramai. Di jalan yang saya lewati sudah beberapa SPBU memasang tanda habis BBM.

Oya, hati-hati di jalan-jalan Sumatera, selain menghindari jalur-jalur rawan pada malam hari, masih banyak hewan-hewan liar melintas. Malam itu saya ingat menghindar dari semacam trenggiling yang nyebrang jalan. Malah waktu pulangnya saat dalam kecepatan tinggi, saya berpapasan dengan babi hutan besar berlari kencang melintas jalan setinggi kap mobil di siang hari! Untung tidak tertabrak…

Nah, di jalur ini ada jembatan yang putus, disambung hanya dengan lembaran baja dan hanya bisa dilintasi mobil-mobil pribadi berukuran kecil. Kami harus antri melewati titik penjagaan oleh pemuda setempat (dan diminta bayar Rp.10.000,- untuk lewat) juga ada beberapa Polisi (TNI?) di jalan yang menjaga dengan senapan ditangan yang meminta semua truk dan bis berhenti di pinggir jalan dan mengantri sejauh ratusan meter. Entah kapan truk-truk itu bisa lewat, kalau jembatannya putus seperti itu..

Setelah lolos dari antrian jembatan, saya fokus mencari penginapan di kota yang kami lalui.. sulit juga mencari yang baik, tidak banyak pilihan. Sempat berhenti dan ingin menyewa kamar, namun karena si Abang—anak kami yang berkebutuhan khusus—tidak menginginkan keluar dari mobil, kami akhirnya meneruskan perjalanan. Tapi bagaimanapun.. Saya tetap harus istirahat, jadi kami berhenti di sebuah SPBU besar, saya lihat banyak mobil dan truk yang parkir, saya ikut parkir dan kami istirahat disana. Lumayan bisa tidur 3 jam.. karena akhirnya si Abang bangun dan menangis lagi minta mobilnya jalan.. ya sudah kami meneruskan perjalanan. Palembang masih cukup jauh. Menurut beberapa orang yang saya ajak ngobrol di SPBU tadi masih sekitar 6 jam lagi..

Hari ketiga, Antri beli BBM

1378055882991252661

Minggu, 10 Juli 2011.  Jalur jalan menuju palembang kali ini banyak yang rusak. Kami menemukan lagi satu jembatan putus, di jalur kearah Palembang, tapi ada jembatan lain disisi kanan untuk lajur berlawanan yang terhubung. Memang infrastruktur jalan dan jembatan ini urgent sekali diperbaiki! (Mudah mudahan saat ini sudah diperbaiki..)

Posisi penunjuk indikator bensin mobil sudah tengah-tengah antara E dan ½ Penuh. Waktunya isi bensin. Sudah 1 SPBU saya lewati karena stok BBMnya kosong, akhirnya pagi itu kami bertemu SPBU yang buka.. tetapi antriannya  puaanjaang. Habis 45 menit kami antri dan baru akhirnya bisa mengisi penuh tanki bensin. SPBU disini tidak ada pengaturan pembelian di jerigen. Bahkan ada yang sampai terang-terangan bawa mobil pick up dengan tong-tong jerigen untuk diisi BBM. Mereka memberi tips lumayan untuk petugas pengisian BBMnya.. weleh, Pantas cepat habis! Dan saya lihat mereka menjual BBM itu di pinggir jalan bahkan dekat SPBU yang tutup dengan harga Rp.6.500 per liter (saat itu masih Rp. 4.500,-/liter). Ternyata “kelangkaan” BBM di Sumatera disamping karena psikologis massa yang melakukan “rush”, diperparah dengan beberapa orang yang memancing di air keruh..

1378055955998065006

Jalur ke Palembang kembali bagus, dan menjelang siang kami sampai di kota Palembang. Tidak lama kami di kota ini. Setelah melewati jembatan Ampera melintasi Sungai Musi yang besar, kami keluar kota meneruskan ke jalur Lintas Timur untuk pemberhentian kota berikutnya: Jambi.

Nah, jalur ke Jambi seingat saya kondisinya baik. Sempat isi bensin, Ishoma di tengah perjalanan. Mungkin karena tidak ada kejadian yang luar biasa, perjalanan lancar-lancar saja. Kami sampai ke Jambi pada sore menjelang malam hari.

Satu catatan saya di kota ini: membingungkan! Banyak rambu penunjuk arah tidak konsisten. Begitu masuk Jambi saya sudah putuskan kami akan menginap malam ini. Badan rasanya sudah lengket dan HP butuh di charge. Mulailah kita hunting hotel di kota. Aroma kelangkaan BBM sangat nyata. Karena disetiap SPBU yang kami lewati di kota itu semuanya antri ratusan meter kendaraan! Mencari penginapan yang murah dan baik agak sulit, karena baru ada pemadaman listrik oleh PLN akibat salah satu pembangkit listrik mereka meledak. Perbaikannya diperkirakan baru diatas 3 hari! Banyak hotel tidak menyediakan listrik. Jadilah kita akhirnya menginap di salah satu hotel yang ber-genset.. dengan harga yang sudah dirasionalisasi oleh pihak hotel.. si Abang sepertinya tidak enak badan. Badannya panas. Untungnya dia tidak menolak ketika saya gendong ke kamar hotel, dan langsung tertidur di kamar hotel..

Esoknya setelah sarapan, kami persiapan ingin melanjutkan perjalanan. Tapi mobil tidak bisa di start! OMG.. Apa lagi ini? Sempat kami menelepon kerabat siapa tahu ada yang punya pengalaman dengan kasus kami, tapi kami semakin bingung. Akhirnya, setelah memanggil seorang montir dari toko onderdil depan hotel diketahuilah penyebabnya. Aki mobil lemah! Karena perjalanan hampir non stop  dari kemarin, aki mobil ini habis terpakai oleh lampu dan stereo mobil. Kok bisa? Ya begitulah.. kondisi akinya ternyata jelek, ditambah mungkin juga sistem elektrik untuk pengisian batere dari putaran mesin mobilnya juga tidak dalam kondisi baik. Tengah hari baru kami bisa berangkat lagi… untunglah kami tak harus bermalam lagi disini..

Keluar dari kota Jambi tidaklah mudah. Kota ini sepertinya tidak ramah untuk orang-orang pendatang yang tidak tahu nama daerah-daerah di penunjuk jalan… Walhasil saya harus menghabiskan 2 jam hanya untuk keluar dari Jambi menuju jalur lintas timur yang kearah Riau, Pekanbaru. Itu pun setelah bertanya-tanya pada beberapa orang penduduk lokal.

1378056003471001797

Jalur di provinsi Jambi seingat saya masih baik. Namun begitu masuk provinsi Riau, kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir jalan rusak berat. Entah berapa kilometer kami melalui Jalan yang seperti gelombang dengan lubang-lubang besar. Kami memasuki jalur ini pun di tengah hujan lebat dan pada saat malam hari..

Setelah melewati jalur “neraka” kami istirahat ngebakso malam-malam di pinggir jalan. Ngobrol sama penjual baksonya yang ternyata orang pendatang juga dari tanah Jawa. Setelah konsultasi mengenai jalan, kami teruskan perjalanan untuk kota selanjutnya, kami akan bermalam di jalan untuk malam ini. Berarti cari SPBU yang ramai dan besar dan istirahat sejenak.

Hari Keempat, Kota Besar!

Senin, 11 Juli 2011. Setelah istirahat sejenak, perjalanan diteruskan dengan mencari masjid  untuk shalat subuh. Menurut Bapak penjual bakso kemarin, kota Pekanbaru akan kami temui sekitar 3 jam lagi. Jalan cukup ramai, meskipun masih sangat pagi. Kami meluncur cepat mencoba “menebus” kelambatan di Jambi dan perjalanan lambat melintasi jalanan rusak kemarin. Orangtua dua belah pihak sudah saling telpon menanyakan posisi dan kondisi kami semua. Alhamdulillah, malah flu saya sembuh, si Abang tidak panas lagi, dan kami semua masih excited dengan perjalanan panjang kami saat ini.

Pagi hari kami memasuki kota Pekanbaru. Sejauh ini baru kota inilah yang bisa saya sandingkan dengan nama kota besar. Jalan utama kota ini hampir sama dengan jalur Sudirman – Thamrin di Jakarta. Ada Boulevard dengan jalur lambat dan jalur cepat masing-masing 2 jalur. Bahkan beberapa titik di kota sedang ada pembangunan jembatan atau flyover. Sepintas saya lupa akan jalur “neraka” kemarin. Hehe..

Nice city, but we have to move on..

Siang itu kami sudah kembali berada di Lintas Timur Sumatera. Dari Orang tua di Medan kami diberi arahan kota-kota yang akan dilalui sebelum masuk provinsi Sumatera Utara nanti. Jadi, pemberhentian selanjutnya adalah Duri. Perjalanan lepas Pekanbaru ke Duri kondisi jalan baik, ramai lancar. Setelah melewati Duri kami melewati persimpangan ke Dumai, tapi kami tidak melewati kotanya. Jalurnya aspal kasar tapi tidak berlubang. Saya sempat istirahat sebentar di mobil, istri saya menggantikan.. setelah jalur kembali ke lintas biasa saya kembali take over setelah ishoma di sebuah SPBU besar.

Sore hari Perjalanan dilanjutkan melewati daerah “seribu gereja”. Hampir tiap beberapa puluh meter di pinggir jalan berdiri gereja. Hmm.. siapa bilang membuat gereja di Indonesia dipersulit? Tentu tergantung di wilayah mana..

Kami melewati jalur yang sudah makin ramai. Malam hari terlihat lampu mobil ramai berseliweran sepanjang jalan. Kondisi jalanpun baik. Ya, memang sebentar lagi kami memasuki wilayah Sumatera Utara… Malam itu di daerah Rokan Hilir saya mengantuk lelah, kami menepi, dan beristirahat.

Hari Kelima, Sumatera Utara

13780561201590507075

Selasa, 12 Juli 2011. Seperti biasa setelah cari masjid untuk shalat shubuh, kami kembali meluncur. Kebun sawit sudah mulai banyak menyapa kami di kanan-kiri jalan. Memasuki Sumatera Utara, ke Rantau Prapat.

Tak dinyana Jalur Sumatera Utara ini ternyata sangat panjang. Sempat singgah di warung makan siang itu, beberapa kali menepi di SPBU atau Mesjid untuk bolak-balik kami bergantian buang air ataupun sholat. Ya.. resiko perjalanan lama! Toh yang penting sekeluarga kami masih bisa menikmati perjalanan. Hingga tak terasa malam sudah mulai menyergap, masuk daerah Kisaran.

Sebenarnya saya tidak ada niatan mau bermalam lagi, toh Medan rasanya tinggal sebentar lagi sampai. Tapi untuk istirahat walaupun Cuma beberapa jam itu penting. Maka hari itu melihat kondisi jalan yang cukup ramai, saya teruskan perjalanan malam. Berhenti untuk istirahat jam 10 malam, jam 1.00 dini hari kami meluncur lagi.

Hari Keenam, Final Destination

1378056176567868448

Rabu, 13 Juli 2011. Meluncur dini hari memang tidak banyak yang dinikmati di jalan selain seliweran lampu mobil, dan cahaya dari rumah-rumah penduduk. Adakalanya kami melewati daerah antara 2 desa yang masih sepi.. untungnya mata ini masih bisa diajak kompromi untuk melototin jalan, sementara seluruh penumpang mobil tertidur lelap.. hehe nasib jadi sopir J

Setelah subuh, kembali kami melanjutkan perjalanan lewat Tebing Tinggi kearah Lubuk Pakam. Rasa mengantuk semakin mendera, sehingga kami harus menepi lagi pagi itu untuk refreshing sejenak. Jalur jalan yang kami ambil bagus relatif sepi. Sehingga kalaupun kami meluncur dengan sedikit menambah kecepatan pasti akan menolog kami menghemat waktu lebih cepat.

Semakin mendekati kota Medan, semakin ramai jalan yang kami lalui. Sempat terkena kemacetan di daerah Lubuk Pakam, dan kami melambat begitu masuk Medan. Yay!.. akhirnya perjalanan panjang ini sampai keujungnya.. !

Jelajah Sumatera Lintas Timur cukup menyenangkan, aman, dan banyak titik pemberhentian aman jika darurat.  tapi ada beberapa catatan untuk travelers terutama mengenai jembatan di dekat kota Palembang, jalan “neraka” di provinsi Riau, yang harus di cek lagi kondisi terkini untuk saat sekarang ini. Kondisi mobil alhamdulillah, walaupun aki batre ada masalah, namun untuk mesin saya puas akan “bandel” dan iritnya Avanza. Mungkin karena sebelum berangkat baru di ganti oli dengan ShellVPower!

Karena ingin memperbanyak pengalaman dan menghindari kondisi jalur neraka dan jembatan putus di Lintas Timur, Kami sepakat tidak lagi melewati jalur itu lagi sewaktu pulang ke Bogor. Kami ambil jalur tengah! Melewati Surolangun sampai melewati “jalur waspada” Lahat.  Ceritanya? Lain waktu saya resumekan lagi.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 13 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 13 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 14 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Donor Darah di Perancis …

Bayu Teguh | 11 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 12 jam lalu

Mitos-mitos Seputar Kenaikan Harga BBM …

Axtea 99 | 12 jam lalu

Menggali Potensi Diri dengan Travelling …

Detha Arya Tifada | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: