Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Gio Sugiyono

Peminat dan penikmat segala macam seni. Aktif sebagai direktur di sebuah lembaga bahasa Inggris. Alumni selengkapnya

Orang Jalanan

OPINI | 27 August 2013 | 17:35 Dibaca: 117   Komentar: 0   0

Orang jalanan, orang kantoran, orang rumahan, orang kampungan, orang…..

Benak saya selalu tertegun sejenak setiap kali memperhatikan para pedagang asongan dari trotoar ke trotoar, pengamen dan pengemis di bawah lampu-lampu merah, polisi swadaya alias orang-orang tak berpagkat yang sukarela mengatur lalu lintas di perempatan-perempatan, calo-calo angkot dan bus di terminal-terminal, siapa saja menghabiskan sebagian besar harinya di jalanan.

Orang jalanan. itulah titel yang selalu disematkan orang pada mereka. Tentu bukan sebuah julukan yang mengundang orang untuk berfikir sesuatu yang baik. Kata ‘jalanan’ selalu menyeret presepsi orang untuk membayangkan yang negative dan jelek. Kasar, kumuh, dekil, kotor, tak teratur, itulah yang selalu identik dengan kata ‘jalanan’. Sehingga sering kita mendengar orang mengatakan “dasar orang jalanan!”, “Kamu ini seperti orang jalanan saja!” Dan sebagainya. Tapi pernahkan kita sejenak saja berempati, dan berpfikir hal-hal yang positif tentang ‘jalanan’-tentang orang-orang jalanan.

Karena kita hanya memandang dari sudut pandang mata yang hanya sampai pada permukaan kulit mereka. Atau kita hanya berhenti pada indra telinga yang mendengar Bahasa mereka. Namun jarang, atau bahkan tidak perna kita meraba apa yang ada di balik bungkus kulit dekil berdebu itu. Apa yang berdegub di balik kata-kata kasar dan sembarangan itu. Apa yang tersembunyi di balik tatap-tatap tajam nan nanar itu.

Orang-orang jalanan hitam, berdebu, dan kotor karena mereka harus bersentuhan langsung dengan kejujuran dunia, yaitu terik matahari, debu, asap, dan gaung suara segala benda. Sementara orang kantoran bersih dan rapi, karena mereka hanya bersentuhan dengan layar monitor, ballpoint, AC, dan telephon.

Lihatlah cara orang jalanan mendapatkan upah rupiah: dari balik kaca kendaraan bahkan kadang di lempar, kadang mereka harus memungutnya dari aspal, bukan dari anvelop yang terbungkus rapi, atau langsung ditransfer ke rekeningnya.

Jalanan adalah sebuah arena sejujur-jujurnya dunia. Selugu-lugunya semesta.

Tangerang, 27 Agustus 2013, 12:27 P.M

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 9 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 10 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 11 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 12 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 10 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 10 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 10 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 11 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: