Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Wienndy

Suka baca, kayak pp-nya.. Suka pantai, jadi terbawa santai.. Suka tidur, tapi jarang bermimpi.. Karenanya, selengkapnya

Pengelola Website Penipuan Masih Harus Belajar Mengeja dan Menulis

OPINI | 15 August 2013 | 13:01 Dibaca: 491   Komentar: 4   1

Sebetulnya kejadian ini sudah cukup lama, sekitar beberapa hari menjelang lebaran. Saat itu saya menerima sms dari nomer 082211955068 yang mengatakan saya menang hadiah Toyota Avanza. Dan pemilik nomer itu mengirimkan link www.tsel-inforesmi2013.jimdo.com

Selain nomer yang bukan landline, alamat websitenyapun aneh. Seingat saya website Telkomsel sangat mudah yaitu www.telkomsel.com

Link yang dikirim itu saya buka dan tadinya setelah di-print akan saya berikan ke Grapari Telkomsel. Apakah akan mereka tindak lanjuti atau tidak, yang penting saya sudah menginformasikan langsung. Namun ternyata lalu lintas saat bulan puasa menyebabkan saya memilih langsung pulang daripada harus mampir-mampir dulu. Dan akhirnya print-out link itu baru saya lihat lagi hari ini.

Setelah saya perhatikan, ada beberapa hal yang menggelitik, antara lain :

1. Sebagaimana surat yang mengabarkan bahwa seseorang memenangkan sebuah undian, website itupun memuat (baca : mencatut) banyak foto dan nama orang-orang penting. Mungkin maksudnya untuk lebih meyakinkan yang menerimanya.

Contohnya : (Undian) Disaksikan Kapolri Jenral Timur Peradopo. Kok bisa sampai salah menulis nama Kapolri?

Ada juga foto Komisaris Besar Polisi Drs. Rikwanto, SH, Mhum, Kabid Humas Polda Metro Jaya. Ganteng fotonya, dengan seragam lengkap dengan bintang dan pangkat serta topinya.

Ditambah lagi foto Jokowi dan Basuki, sepertinya sesaat setelah pelantikan Gubernur dan Wagub tahun lalu. Apa hubungannya?

2. Kesaksian salah satu pemenang, Ani Suriani Marketing PT. Suracojaya Jakarta. Pin pemenang 512 x 512 x 46K. Itu PIN atau ukuran dimensi barang ya? Komentarnya, “Awalxa gue kira ini penipuan tp setelah sy liat di webset lansung call-motorxa ud di terima, pak gue bersukur dgn hadia ini. Kini kami sekeluarga ud menikmatixa. Terima kasih Telkomsel smg sll jaya.”

(Tulisan saya salin sebagaimana aslinya). Dan setelah saya cari, PT Suracojaya adanya di Makasar, dan saat mengetik Suracojaya Jakarta, terhubung dengan cerita tentang penipuan Indosat. Klop.

3. Acara pengundian kami siarkan LIVE di METRO TV Pukul 23.00 WIB (tanpa menyebutkan tanggal penayangan). Ini penipu tidak pernah liat acara MetroTV, karena setiap sejam sekali Metro menayangkan Headline News selama sekitar lima menit.

4. Menulis kota-kota pemenangpun masih ngaco. Contoh :

Sulawesi Selatang,

Bandar Lampun,

D.I Yokyakarta

5. Di menu awal website abal-abal ini, ada beberapa submenu yang juga salah tulis. Contohnya : TARIF PANGILANG (ilang apanya nih?),

SRVICES(srr srrr kenapa nih?),

ABOT (apa yang abot ya?),

ENTER PRISE (enter the wind kaliii..)

6. Kalimat-kalimat yang tertulis di website : “Mohon maaf bila pencantuman nomer pemenang tidak kami cantumkan secara lengkap, demi menghindari untus-unsur yang tidak bertanggung jawab (penggandaan nomer/pemalsuan pemenang. Kami tidak memberikan informasi pengundian demi mencegah unsur penipuan yang mengatasnamakan Telkomsel.”

Wah, ini sih maling teriak maling namanya. Sesama maling jangan saling menjatuhkan dong..

7. Dan yang paling spektakuler, batas pengambilan hadiah berlaku selama DUA hari saja.

8. Kepada pengelola Drs. Muhammat Yasim, apakah sudah mendapat mangsa dari kerja Anda ini? Tolong belajar mengeja dulu supaya websitenya benar dan cantik gitu…

Sekarang kalau ada yang mendapat kabar mendapat sesuatu hadiah, reaksinya tidak akan begitu heboh, karena sekarang segala macam penipuan banyak terjadi. Namun tentunya kita harus tetap waspada, karena mungkin kita tau hal ini, tapi teman atau keluarga lain tidak tau.

Hal serupa tapi tidak sama, yang menimpa ibu saya. Pendek kata, ibu saya panik karena katanya saya ditangkap tersangkut masalah narkoba, sekitar seminggu sebelum lebaran. Untung saja, penipu itu menelpon hampir tengah malam, yang membuat ibu saya tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada kendaraan yang bisa membawanya transfer Rp 25 juta yang diminta, supaya kasus saya tidak dilaporkan ke polisi dan saya bisa segera bebas. Untung juga saat itu hape saya lagi on, biasanya setelah jam 12 malam saya matikan. Penipu itu akhirnya meminta Rp 5 juta saja, walau akhirnya tidak mendapat seperserpun. Jadi, tidak ada salahnya jika keluarga ada yang menerima telpon semacam itu, katakan saja, “Tangkap saja anak saya, nanti biar saya tengok dia di kantor polisi. Sebut di mana kantor polisinya. Atau di penjara mana? Besok pagi saya ke sana…” Yang penting untuk selalu tetap tenang dan jangan panik.

Dasar penipu. Kapan sadarnya sih???

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 10 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 13 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 13 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 7 jam lalu

Si Jangkung Tokyo Sky Tree …

Firanza Fadilla | 8 jam lalu

Pompadour …

Yulian Muhammad | 8 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 8 jam lalu

Luka …

Ukonpurkonudin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: