Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Tebe

"Hidup itu....Tuhan yang menentukan. Kita yang menjalaninya. Dan orang lain yang mengomentari (kepo)." (tebe)

Bernostalgia Dengan Penjual Makanan dan Mainan di Masa Kanak-kanak

REP | 08 August 2013 | 19:45 Dibaca: 168   Komentar: 9   2

Bernostalgia dengan Penjual Makanan dan Mainan di Masa Kanak-kanak

1375968905441199192

salah satu penjual makanan agar-agar masa kanak-kanak saya yang saya abadikan :-D

Apa yang paling membahagiakan saat kita sedang disesaki oleh rasa penat, jenuh maupun boring? Bernostalgia, jawabannya!

Ya, itulah jawabannya—yang saya rasakan saat ini. Apalagi tepatnya di Hari Kemenangan (08/08), di Lebaran tahun ini. Kenangan lama itu kembali berputar. Kenangan pada masa kanak-kanak  saya. Bernostalgialah saya saat itu.

Saat itu ketika rumah saya kedatangan “pasukan krucil-krucil”. Alias, keponakan-keponakan yang bertandang ke rumah untuk silaturahim pada nenek mereka sekaligus saya sebagai pamannya. Keponakan-keponakan dari kakak laki-laki dan kakak perempuan saya itu datang berbarengan. Dan menjadi ramailah yang terjadi. Hingga kehadiran keponakan-keponakan serta cucu dari orangtua saya menjadi tambah klop bernostalgia.

Apalagi saat itu nostalgia saya tambah sempurna ketika kedatangan penjual agar-agar, es lilin potong dan kue cubit (kue yang terbuat dari campuran tepung terigu dan telor) yang saat itu ada di tengah-tengah keponakan-keponakan saya di halaman rumah. Mungkin karena penjual-penjual makanan itu melihat keponakan-keponakan saya—yang rata-rata masih berusia tiga tahun sampai tujuh tahun menganggapnya sebagai ladang rezeki di Hari Lebaran tahun ini.

Hal itu pun mencuri perhatian saya!

Apalagi saat itu melihat keponakan-keponakan saya sedang mengerububungi penjual agar-agar, es lilin potong dan kue cubit. Saya pun ikut bergabung. Ikut meramaikannya. Tapi ada juga ikut merasakannya.  Ikut membelinya. Dan bangkitlah kenangan lama saya ketika masih kanak-kanak saat bergabung dengan penjual-penjual makanan dan mainan itu.

Saya masih ingat kenangan itu, di mana saya masih duduk di bangku Empat SD. Saya membeli es lilin potong dan kue cubit dengan harga 10 sampai 15 perak. Saat itu tahun 1989 saya mengalami hal itu. Bukan hanya itu saya juga membeli agar-agar sekaligus mainan ular tangga dan gambaran. Itu saya membeli juga pakai uang logam. Bisa seharga 25 perak sampai 50 perak.

Mungkin harga saat itu jika dibandingkan seharga itu kecil sekali dan sangat di bawah standar. Tapi tidak di zaman saat itu. Harga nominal tertinggi uang saat itu mungkin 10 ribu rupiah dan harga terkecil 5 perak. Namun di zaman itu saya sangat bersyukur dan bahagia sekali. Karena di saat itu, di zaman saya tidak ada mainan bertekhnologi canggih (baca: modern). Pun dengan adanya handphone, BB, android serta tablet. Benda-benda macam itu tak satu pun ada di zaman saya. Kalau pun ada hanya telpon rumah dan telepon umum dengan uang logam dimasuki.

Itulah kenyataannya di zaman saya yang terjadi. Jangan tanya tentang kecanggihan alat komunikasi, permainan modern dan juga penjual-penjual makanan dan mainan yang berisikan hotdog, fried chicken serta kebab. Yang ada hanya penjual agar-agar, kue cubit dan es lilin potong serta ada pula bakso, siomay dan bubur ayam. Jika bicara penjual mainan hanya ada monopoli, ular tangga, gambaran, dan permainan kartu.

Memang walau pun norak dan kuno bagi saya sangat mengasyikan. Apalagi tidak ikut-ikutan melupakan permainan dan makanan asli pada masa kanak-kanak saya yang asli buatan nusantara. Dan betapa indahnya masa kanak-kanak saat itu.[]ruangtanpatelingadanmata,08082013

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Reportase Festival Reyog Nasional XXI Hari …

Nanang Diyanto | | 21 October 2014 | 17:45

Rodhi, Pelukis Tunadaksa Ibu Negara, Titisan …

Maulana Ahmad Nuren... | | 21 October 2014 | 17:36

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Kok, Jokowi Lari di Panggung? …

Gatot Swandito | | 21 October 2014 | 10:26

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 9 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 9 jam lalu

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengenal Festival Ancak dari Desa Jeladri, …

Cak Uloemz | 7 jam lalu

Liga Tarkam, Rusuh Kok Budaya? …

Aprillia Lita | 7 jam lalu

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Sri Mulyani Jadi Mentri Jokowi dapat …

Alfons Meliala | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: