Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Syukri Muhammad Syukri

Orang biasa yang ingin memberi sesuatu yang bermanfaat kepada yang lain…. tinggal di kota kecil Takengon selengkapnya

Balada Negeri Diatas Patahan Semangko

REP | 04 August 2013 | 04:26 Dibaca: 410   Komentar: 2   2

13755650531034634787

Anak-anak di lokasi pengungsian Desa Bah. Wajah polos itu tidak menyadari jika mereka tinggal diatas sesar Sumatera atau patahan Semangko.

Saudaraku, tidak perlu bersedih, gempa bukan hanya terjadi di Dataran Tinggi Gayo, tetapi sering dialami oleh negeri lain di berbagai belahan bumi. Dan, merasakan efek kegempaan dalam skala yang relatif kecil sudah menjadi bagian keseharian bagi warga Dataran Tinggi Gayo. Meskipun banyak warga yang belum menyadari bahwa mereka berdomisili di jalur ring of fire (cincin api). Gempa tektonik dangkal 6,2 SR yang terjadi sebulan lalu, tepatnya Selasa, 2 Juli 2013 pukul 14:37:03 WIB merupakan pernak pernik kehidupan berada di jalur ring of fire.

Sudah dapat dipastikan bahwa wilayah Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah berada diatas beberapa patahan yang potensial menimbulkan kegempaan kapan saja. Lebih ironis lagi, selain berada diatas patahan, daerah penghasil kopi arabika ini terletak dalam komplek gunung api. Selain berada dalam ancaman gempa tektonik, negeri yang indah itu juga terancam oleh gempa vulkanik, lahar panas sampai wedhus gembel. Dataran Tinggi Gayo yang bergelar The Paradise Land makin mencekam, tetapi semangat untuk bangkit terus menyala.

Membaca komentar para ahli diberbagai media massa tentang peristiwa gempa 6,2 SR yang terjadi sebulan lalu membuat kita merinding. Sepertinya bencana lebih dahsyat sedang mengintai warga yang tinggal di Dataran Tinggi Gayo, mengerikan! Mari kita simak komentar peneliti dari BPPT, Dr Agustan (Antara, 10/7/2013) yang mengatakan bahwa “Gempa yang terjadi di Gayo tidak terletak pada patahan utama, melainkan pada cabang-cabangnya.”

Benarkah? Mari kita simak juga komentar Faizal Ardiansyah, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh kepada okezonedotcom (3 Juli 2013) mengatakan bahwa gempa yang terjadi di Dataran Tinggi Gayo akibat pergerakan sesar Sumatera atau patahan Semangko. Untuk wilayah yang rawan gempa tektonik dari sumber gempa darat yaitu patahan semangko. Wilayah ini umumnya membelah bagian tengah Aceh searah dengan Bukit Barisan. Patahan Semangko juge memiliki sesar-sesar kecil yang menyebar pada beberapa wilayah Aceh baik di utara maupun selatan, seperti patahan Lokop-Kutacane, Blangkejeren-Mamas, Kla-Alas, Reunget-Blangkejeren, Anu-Batee, Samalanga-Sipopoh, Banda Aceh-Anu, dan Lamteuba-Baro.

Mencermati gambaran yang disampaikan Dr Agustan dan Faizal Ardiansyah, rasanya warga tidak tahu lagi memilih tempat yang aman dari bencana. Disisi yang lain, warga terlanjur jatuh cinta kepada lahan subur yang sekarang ditempatinya. Lahan itu telah terbukti memberi sumber penghidupan kepada mereka sejak dari tempo dulu. Dari tanah itu mereka memetik ribuan ton kopi arabika Gayo untuk diekspor ke luar negeri. Kopi bercitarasa tinggi itu menghasilkan lembaran dollar. Haruskan mereka bermigrasi dari negeri kaya yang indah dan subur itu? Tentu tidak, tetapi dengan pengetahuan kegempaan yang diungkapkan oleh para pakar tadi, maka warga Dataran Tinggi Gayo perlu menyesuaikan pola kehidupannya dengan kondisi geologi daerah itu.

13755841171180306934

Gedung sekolah yang hancur akibat hentakan gempa 6,2 SR sebulan lalu

Warga perlu belajar pengalaman bangsa Jepang menghadapi kegempaan. Mari kita simak penuturan Junanto Herdiawan seorang ekonom dan kompasianer yang bermukim di Jepang. Kepada Kompasdotcom (12/3/2011) dia bercerita bahwa hal menarik dari gempa di Jepang adalah perkara kesiapan pemerintah dan warganya dalam menghadapi bencana. Meski panik, mereka terlihat tenang dalam menyikapi bencana. Prosedur dan latihan bertahun-tahun membentuk ketenangan tersebut. Selain itu, budaya memikirkan orang juga patut dicontoh.

Kata Junanto, saat pulang semalam (setelah kejadian gempa Jepang tanggal 11 Maret 2011), meski jalanan padat oleh mobil, masyarakat menyerbu supermarket untuk makanan, warga mencari taksi untuk kembali pulang, mereka tetap melakukannya dengan tertib dan antri secara teratur. Di jalanan, meski macet total, tapi tidak terlihat ada yang menyerobot, bahkan menyalakan klakson.

Gempa 11 Maret 2011 itu adalah yang terbesar sepanjang sejarah gempa di Jepang. Namun mereka telah mempersiapkan kedatangan gempa itu jauh-jauh hari. Malang tentu tak dapat ditolak, tapi bagaimana menyikapi bencana tersebut menjadi penting. Dengan persiapan yang matang dan antisipasi yang baik, meski terdapat korban, jumlahnya bisa diminimalkan. Bayangkan bila Jepang tidak mempersiapkan diri, termasuk mempersiapkan ketahanan bangunannya. Korban mungkin bukan hanya akibat tsunami, tapi ditambah dengan akibat reruntuhan bangunan. Begitulah sepenggal penuturan Junanto.

Deskripsi yang disampaikan Junanto benar-benar telah membuka mata kita tentang upaya bangsa Jepang “berteman” dengan bencana. Bangsa Jepang tidak pernah meninggalkan negerinya, tetapi mereka menyesuaikan diri dengan potensi ancaman bencana. Dengan kondisi geologi Dataran Tinggi Gayo yang berada diatas sesar Sumatera atau patahan Semangko yang rawan gempa, tentu tidak mungkin menghindar dari realitas itu. Yuk hadapi kemungkinan terburuk dengan kesiapsiagaan seperti yang ditunjukkan bangsa Jepang. Terbentuknya tahap kesiapsiagaan harus melalui latihan bertahun-tahun. Inilah Balada Negeri Diatas Patahan Semangko.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 6 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 8 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 9 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: