Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ngainun Naim

Seorang pengajar di IAIN Tulungagung Jawa Timur. Menyukai dunia menulis. Pengelola http://ngainun-naim.blogspot.com

Belajar Disiplin untuk Kemajuan Nasional

OPINI | 30 July 2013 | 17:23 Dibaca: 183   Komentar: 2   1

Oleh Ngainun Naim

Saya menggunakan kata ”belajar” di judul tulisan ini karena menurut saya—maaf jika ada yang tidak setuju—masyarakat kita belum memiliki budaya disiplin. Yang disebut budaya itu adalah sebuah perilaku yang telah mengakar dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Karena telah menjadi budaya, ia akan dilakukan dalam kondisi apapun. Jadi disiplin itu akan tetap dilakukan saat ada yang mengawasi ataupun tidak.

Tetapi fakta di masyarakat tampaknya belum menunjukkan kalau disiplin itu telah menjadi budaya. Budaya yang justru berkembang adalah budaya melanggar aturan. Saya ambil satu contoh sederhana, yaitu berkendara. Traffic light yang ada tulisan Belok Kiri Mengikuti Isyarat Lampu Lalu Lintas pada kenyataannya banyak dilanggar. Sudah tidak terhitung kalinya saya mengamati pelanggaran yang dilakukan. Pernah seorang pelanggar dengan bangga bercerita bagaimana ia harus berurusan dengan polisi karena ternyata sekitar 50 meter dari lampu lalu lintas ada polisi yang mengintai. Sontak, ia terkejut dan tidak bisa menghindar.

Polisi itu menanyakan surat-surat yang kebetulan lengkap. Lalu bertanya mengapa melanggar, dan jawabnya enteng saja, ”Saya tidak tahu kalau ada bapak di sini. Kalau tahu tentu saya tidak akan melanggar”. Cerita ini secara jelas menunjukkan bagaimana aturan hanya ditaati karena ada yang menjaga. Begitu yang menjaga tidak ada, aturan akan dengan santai dilanggar.

Kalau mau dibuat daftar ketidakdisiplinan, waduh mungkin akan sangat capek untuk menghitungkan karena hampir di setiap bidang kehidupan ini, tidak terlalu sulit untuk menunjukkan perilaku tidak disiplin. Ya sudah, itulah fakta yang harus kita terima dengan lapang dada. Saya sendiri bukan orang yang disiplin. Saya ingin menyebut diri saya sebagai orang yang sedang belajar disiplin.

Suatu ketika saat lewat di dekat markas militer di Kota Malang, saya menemukan sebuah tulisan yang menggugah, DISIPLIN ITU INDAH. Saya tersentak membacanya. Kata-kata itu cukup indah dan menyentuh. Betul juga jika disiplin itu menjadi budaya, pasti akan terasa indah. Saat di jalan raya, tidak ada sopir ugal-ugalan; antri tiket berjalan secara tertib; merokok di tempat yang telah ditentukan, dan berbagai bentuk kedisiplinan lainnya.

Tetapi sayangnya, masyarakat kita belum menyadari terhadap keindahan disiplin. Jika bangsa ini ingin menjadi bangsa yang maju, saya kira tidak bisa tidak, kita harus mulai membangun budaya disiplin. Disiplin harus menjadi ciri yang melekat sekaligus menjadi identitas nasional. Jepang misalnya, terkenal sebagai bangsa yang memiliki tingkat disiplin yang sangat tinggi. Bahkan tulisan-tulisan tentang disiplin di negara matahari terbit itu sampai seolah menjadi mitos. Bagaimana tidak karena begitu disiplinnya kereta api pun datangnya tepat waktu, tidak hanya pada menitnya tetapi juga sampai detiknya.

Darimana mulainya? Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Dari pemerintah? Ya, pemerintah harus menjadi teladan dalam budaya ini. Tetapi JANGAN MENJADI PROYEK. Disiplin itu harus dilakukan sebagai gerakan bersama yang massif yang dibuktikan dengan contoh nyata. Kalau sekadar gerakan bersama yang simbolik dan berhenti di slogan, disiplin itu tidak akan terwujud. Apalagi kalau kemudian menjadi proyek pengadaan kaos, baju, spanduk, dan sejenisnya secara nasional. Tentu kita masih ingat bagaimana pemerintah di masa lalu pernah membuat GERAKAN DISIPLIN NASIONAL (GDN) yang kurang berhasil. Memang, waktu itu gaungnya cukup lumayan, tetapi aparat yang memakai atribut itu sendiri banyak yang membiarkan ketidakdisiplinan terjadi. Bahkan tidak jarang aparat itu sendiri yang melakukan ketidakdisiplinan.

Sekarang harus dimulai dari aparat pemerintah dalam menegakkan aturan. Kantor-kantor pemerintah harus berbenah. Mereka harus disiplin dalam melayani masyarakat. Polisi misalnya, harus menindak pelaku pelanggaran. Masyarakat akan semakin sering melakukan pelanggaran karena mereka tahu tidak ada sangsi atau memang dibiarkan polisi. Dinas Perhubungan harus memberi sangsi tegas terhadap angkutan umum yang jelas-jelas merugikan masyarakat. Dinas Kesehatan harus memantau terhadap fenomena pengobatan alternatif yang merugikan masyarakat. Pihak terkait harus menegakkan regulasi yang berkaitan dengan aktivitas sosial yang berkaitan dengan masyarakat luas. Begitu seterusnya.

Nah, yang sesungguhnya jauh lebih penting adalah diri kita masing-masing. Tidak ada artinya disiplin itu dibicarakan dan dianjurkan jika masing-masing individu kurang menyadari akan arti dan makna penting disiplin. PENGETAHUAN saja tidak cukup. Saya kira mereka yang melakukan pelanggaran itu tahu dan paham terhadap aturan. Pelaku suap itu juga tahu kalau suap itu melanggar, penjudi itu juga tahu kalau judi itu melanggar aturan, dan (semua) yang melanggar aturan itu juga tahu kalau melanggar aturan itu salah. Tetapi pengetahuan saja tidak cukup. Dibutuhkan hal yang jauh lebih substansial lagi setelah pengetahuan, yaitu KESADARAN. Disiplin harus menjadi kesadaran diri. Kesadaran itu akan menjadi ”Kompas” untuk mematuhi aturan. Jadi, ada atau tidak ada yang mengawasi, disiplin akan tetap ditegakkan.

Perpaduan antara ”pengetahuan” dan ”kesadaran” ini akan semakin kokoh ketika didukung oleh sistem yang juga mapan serta mendukung bagi terciptanya disiplin. Konsistensi untuk menegakkan aturan bersama harus dijaga. Jangan sampai hanya sekadar omongan pemanis bibir saja.

Saya melihat bahwa banyaknya persoalan sosial di masyarakat terjadi karena disiplin tidak ditegakkan. Banyaknya balapan liar yang dilakukan geng motor di berbagai daerah terjadi karena polisi tidak segera menindak saat masih menjadi fenomena kecil. Begitu menjadi fenomena massal maka ia menjadi sulit diatasi. Hal yang sama juga terjadi pada berbagai pelanggaran sosial lainnya.

Saya bermimpi jika disiplin telah menjadi budaya maka kemajuan nasional itu akan betul-betul terwujud. Dan mimpi itu bukan sekadar mimpi kosong. Saya yakin kita bisa mewujudkannya. Setidaknya di Kompasiana ini saya melihat banyak orang disiplin membuat tulisan. Setiap hari saya menikmati tulisan Kompasioner yang begitu disiplin menerbitkan tulisan. Ini modal sosial besar yang mampu menginspirasi dan menggerakkan perubahan. Saya sangat yakin akan kekuatan tulisan, sebab PERUBAHAN BESAR ITU SELALU DIMULAI DARI IDE. Salam.

Ngainun Naim

www.ngainun-naim.blogspot.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung Flora di Malang …

Abdul Malik | | 02 August 2014 | 08:36

Yuk Kenali Serba-serbi Njagong …

Giri Lumakto | | 01 August 2014 | 23:14

Akankah 3-5-2 Menggeser Tren 4-2-3-1? …

Muhamad Rifki Maula... | | 01 August 2014 | 23:30

Di Balik Akasia …

Langit Senja | | 01 August 2014 | 08:37

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Koalisi Merah Putih Tetaplah Merah Putih, …

Hanny Setiawan | 13 jam lalu

Jokowi Belum Dilantik, PKB Sudah Nagih Jatah …

Ikhlash Hasan | 14 jam lalu

Libur Lebaran, Bertemu Bule dan Supir Isteri …

Hendry Sianturi | 18 jam lalu

Membuat Tanda Salib di Pusara Ir. Soekarno …

Kosmas Lawa Bagho | 19 jam lalu

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: