Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Syaiful Rohman

SEMANGAT, KESABARAN dan KEIKHLASAN, 3 (tiga) istilah yang membuat kita tetap BERKARYA di dalam kehidupan. selengkapnya

Pengajian Ramadhan (19)

REP | 28 July 2013 | 16:27 Dibaca: 126   Komentar: 0   0

Lailatul Qadhar telah dikaruniakan kepada umat ini (umatku) yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya.” Itulah salah satu uraian materi pengajian yang disampaikan oleh KH Moch Syamsuddin AM, Lc.

Pada pengajian shubuh kali ini (19 Ramadhan 1434 H), beliau menjelaskan tentang hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ketika Nabi berkhotbah menyambut bulan Ramadhan, Nabi bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, Allah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa pada bulan itu, pintu-pintu langit (surga) dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan pemimpin-pemimpin setan dibelenggu. Pada bulan itu, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang terhalang dari kebaikannya, berarti ia telah terhalang dari segala kebaikan.’” (HR al-Nasa’i).

Dari hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Nabi bersabda “Inilah bulan yang permulaannya (10 hari pertama) penuh dengan rahmat, yang pertengahannya (10 hari pertengahan) penuh dengan ampunan (maghfirah), dan yang terakhirnya (10 hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka.”

Pada bulan Ramadhan ini ada sebuah keistimewaan, yaitu terdapat 1 (malam) yang nilainya lebih baik dibandingkan dengan 1000 (seribu) bulan. Malam itu disebut dengan Lailatul Qadhar, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT surat Al Qadr ayat 1-5, yang artinya,” Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan?. Malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (Malam itu) penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad SAW bercerita kepada para sahabatnya tentang kisah orang sholeh dari Bani Israil yang telah menghabiskan waktunya selama 1000 (seribu) bulan untuk berjihad fisabilillah. Cerita ini membuat Nabi merasa takjub dan kagum, dan akhirnya Nabi berharap semoga umatnya bisa meniru perbuatan baik orang Bani Israil ini. Kemudian Nabi pun merenungkan usia umat-umat terdahulu yang lebih panjang daripada usia umatnya yang lebih pendek. Ini berarti amal ibadah umatnya paling sedikit dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Beliau pun bersedih karena mustahil umatnya dapat menandingi amal ibadah umat-umat terdahulu. Dari kisah ini, kemudian Allah berkehendak dengan mengaruniakan kepada mereka (umat Nabi Muhammad) sebuah malam, yaitu Lailatul Qadhar sebagai ganti dari beribadah selama 1000 bulan tersebut. Hal ini didukung oleh sebuah hadits dari Anas bin Malik bahwa Nabi bersabda, “Lailatul Qadhar telah dikaruniakan kepada umat ini (umatku) yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya.”

Menurut ahli sejarah Islam bahwa ada seseorang sebelum umat Nabi yang bergelar ahli ibadah selama seribu bulan. Namun karena kondisi umat Islam tentang masalah usia yang lebih pendek bila dibandingkan dengan umat-umat terdahulu. Oleh karena itu, maka Allah berkenan memberi sebuah malam, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu, jika umat Islam bisa menggunakan malam Lailatul Qadhar itu dengan amal ibadah dan perbuatan yang baik, maka orang itu bisa dikatakan sebagai ahli ibadah.

Pada ayat 1 diatas, menurut Prof. Dr. Qurais Shihab bahwa ketika Allah menyebut lafadz “Inna” (Kami), ini artinya tidak hanya peran Allah semata, tapi ada peran serta pihak lain (para malaikat). Hal ini terbukti dari 3 tahapan turunnya Al Qur’an, salah satunya tahap yang ke 2, yaitu turunnya Al Qur’an secara lengkap dari Laihul Mahfudz (tempat tertentu) ke Baitul Izzah (langit bumi) pada malam yang penuh barokah (Lailatul Qadhar).

Pada ayat 2, ketika ada sebuah pertanyaan tentang pengulangan lafadz “Laiatul Qadhar”, menurut ulama ini artinya ada penguatan terhadap ayat sebelumnya. Yang selanjutnya dijawab oleh Allah pada ayat ke 3 bahwa malam Lailatul Qadhar itu nilainya lebih baik dari seribu bulan. Ini dapat disimpulkan bahwa kedua ayat di atas (2 dan 3) menunjukkan tentang kebesaran, posisi dan status malam Lailatul Qadhar itu.

Seperti diketahui lafadz “Lailatul Qadhar”, berasal dari kata” Laila, yang artinya malam” dan “Qadhar, yang artinya keputusan”. Dari arti tersebut, menurut ulama ada 2 (dua) pendapat, yaitu (1) Allah mentaqdirkan sebuah keputusan untuk 1 (satu) tahun yang akan datang, (2) nilainya sangat mulia (barokah). Hal ini sesuai dengan surat Ad Dhukhaan ayat 4, yang artinya “ Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang berisi hikmah”

Selain itu, dalam sebuah hadist dinyatakan bahwa orang yang tekun beribadah pada saat Lailatul Qadhar hanya karena Allah SWT, dengan senang hati serta selalu mengharap ridhaNya, maka akan diampuni dosa-dosanya. Adapun bunyi hadistnya yaitu” Siapapun yang ibadahnya pada saat Lailatul Qadhar karena iman serta mengharap ridho Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah).

Menurut ulama, ada 3 (tiga) hadist yang mempunyai “makna” yang sama, (1) Man Shaum …. : siapapun yang berpuasa, (2) Man Qoma ….Qiyamul Lail : siapapun yang shalat malam (sholat tarawih), dan (3) Man Qoma …Lailatul Qadhar : siapapun yang ibadah di Lailatul Qadhar, INI artinya ketiga macam ibadah itu jika diniatkan karena iman dan mengharap ridho Allah SWT, maka akan diampuni dosa-dosanya.

Menurut Allah SWT (pada ayat 4 dan 5) bahwa malam Lailatul Qadhar adalah sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, malaikat Jibril dan para malaikat yang lain turun ke langit bumi untuk mencatat semua amal ibadah yang dilakukan oleh orang mukmin (sebagai tambahan pahala). Dijelaskan juga bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keselamatan, ketentraman dan keberkahan dari Allah SWT serta tidak ada kejelekan sama sekali. Adapun situasi dan kondisi ini berlangsung mulai matahari terbenam sampai terbitnya matahari.

Lalu muncul sebuah pertanyaan? Kapan terjadinya Lailatul Qadar itu?, Jawabannya: Tidak ada kepastian tentang kapan atau waktu terjadinya Lailatul Qadhar itu. Ada beberapa pendapat dari ulama, yaitu (1) terjadi pada 10 (sepuluh) hari terakhir Ramadhan, (2) terdapat pada malam-malam yang ganjil, antara lain: malam 17, 21, 23, 25, 27 atau 29 Ramadhan. Namun AGAR lebih mudah mengingatnya, maka umat Islam hanya ditunjukkan tanda-tandanya, yaitu (a) pada hari itu (subuh), matahari waktu terbit sangat jelas, tidak ada mendung, terang, cuaca tidak panas, tidak dingin dan sangat sejuk, (b) pada malam harinya langit nampak bersih, tidak nampak awan sedikitpun, suasana tenang dan sunyi.

Lalu muncul pertanyaan berikutnya? Kenapa Allah SWT menyembunyikan terjadinya Lailatul Qadar itu?, diantara hikmahnya adalah untuk memotivasi umat Islam agar terus taat dan beribadah, mencari rahmat dan ridho Allah, kapan saja dan dimana saja, tanpa harus terpaku pada satu hari saja.

SEMOGA BERMANFAAT. Aamiin ….

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haru Jokowi-JK di Kapal Phinisi …

Yusran Darmawan | | 25 July 2014 | 10:00

Terimakasih BPJS …

Guntur Cahyono | | 25 July 2014 | 06:54

Anonim atau Pseudonim? …

Nararya | | 25 July 2014 | 01:41

9 Tips Meninggalkan Rumah Saat Mudik …

Dzulfikar | | 24 July 2014 | 22:48

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: