Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Nur Setiono

Saya seorang pensiunan swasta, yg senang mengamati kehidupan sosial/kemasyarakatan. Sok merasa sibuk. Iseng suka tulas selengkapnya

Pensiun, ‘Nanti Bagaimana’ atau ‘Bagaimana Nanti’

OPINI | 28 July 2013 | 23:55 Dibaca: 718   Komentar: 35   12

Ada dua persiapan dalam mengahadapi masa pensiun, yakni terkait Mental/spiritual dan Ekonomi.  Dalam kontek tulisan ini hanya akan fokus pada pembahasan dari sisi ekonomi saja, karena realitanya banyak karyawan  yang terbelenggu pada  masalah ini pasca menerima SK Pensiun dari instansinya

####

Pensiun, dalam arti umum adalah berakhirnya secara hormat  ikatan kerja seorang pegawai pada suatu instansi atau lembaga tertentu dimana sebelumnya yang bersangkutan  telah bertahun tahun bertugas disitu. Berakhirnya ikatan kerja tersebut bisa karena sang pegawai memang sudah memasuki usia pensiun antara 55 – 60 tahun atau ada sebab lain yang lazim disebut ‘pensiun dini’.  Para pensiunan PNS umumnya  mendapat bantuan –santunan- biaya  hidup setiap bulannya secara tetap plus fasilitas asuransi kesehatan (askes) untuk diri dan keluarganya sampai hayat dikandung badan. Bagi para pegawai instansi swasta yang memiliki program pensiun sendiri, biasanya uang pensiun berupa pesangon akan diberikan secara lumsum  [sekaligus] atau pembelian anuitas melalui perusahaan asuransi tertentu sehingga yang bersangkutan akan menerima santunan biaya hidup yang diberikan oleh perusahaan asuransi dimaksud secara periodik setiap bulannya sepanjang hayat pula, sebagimana pensiunan PNS. Disamping itu pula mereka akan menerima pembayaran saldo Jamsostek yang dibayar tunai pada saat jatuh tempo pensiun tiba.

Pola pola santunan pensiun tersebut diatas merupakan upaya pemerintah dan atau perusahaan swasta dalam rangka memberi nuansa ketenangan, kenyamanan sekaligus jaminan kesejahteraan bagi para mantan pegawainya di hari tua kelak. Pertanyaannya,  bilamana kita sudah mendapat fasilitas  pensiun seperti diatas apakah ketika sudah jadi pensiunan kualitas hidup kita secara ekonomi masih sama atau meningkat dengan saat kita masih aktif?. Itu yang perlu direnungkan. Yang jelas  untuk mencapai kesejahteraan, kita tidak mungkin menyerahkan sepenuhnya kepada perusahaa/instansi  tempat dimana kita bekerja.

Ilustrasi

(maaf jika kurang tepat benar)

Contoh ilustrasi (5 tahun lalu), perolehan pensiun dibawah ini adalah satu pola perhitungan pensiun seorang pegawai sebuah perusahaan swasta yang dikelola oleh Yayasan Dana Pensiun (YDP) perusahaan tersebut.

Karyawan, sebut saja namanya  Andi, masa kerja > 30 tahun, jabatan terakhir Manager Operasi, pendapatan bersih pada akhir tugas +/- Rp. 215 jt/tahun (gaji + bonus + THR) setara Rp. 17,9 Jt/bulan diluar fasilitas/tunjangan lain non materi

Tercatat sebagai anggota YDP sejak 20 tahun sebelum masa pensiun dengan saldo awal +/- Rp. 21 Jt., pendapatan bersih Rp. 15 Jt/tahun. Iuran  untuk YDP 5 %  (pribadi) + 10 % (perusahaan) total 15 %  kali gaji yang bersangkutan per bulan.

Pada saat SK Pensiun tiba dia memperolah Total Saldo Pensiun dari YDP sebesar +/- Rp. 850 Jt dengan rincian penerimaan sbb. :

· Total Saldo    …………………….. Rp. 850 Jt

· Potong Pajak …………………….  Rp. 160 Jt

——————————————————– -

Hak Bersih (HB)   ……………….  Rp. 690 Jt

· Terima Cash 20 %  x HB …….   Rp. 138 Jt

——————————————————– -

Sisa Hak Bersih (SHB)  ………   Rp. 552 Jt

Sisa Hak Bersih (SHB) tersebut diatas harus dibelikan Anuitas keperusahaan asuransi tertentu dengan imbalan  4 - 6 % per tahun yg diterima setiap bulannya seumur hidup.

Dari ilustrasi diatas, bisa dibayangkan dengan perolehan uang pensiun yang nyaris sama dengan UMR Jakarta, bisa apa sang mantan manager menjalani masa pensiunnya. Jikapun semua Hak Bersih (HB) diterima secara lumsum (sekaligus), apabila yang bersangkutan tidak bisa mengelolanya dengan baik, tidak menutup kemungkinan dalam waktu singkat uang tersebut akan habis.

Masa Persiapan Pensiun,

Kapan kita berfikir atau melaksanakan persiapan pensiun?. Seyogyanya  sejak kita mendapat pekerjaan (penghasilan) yg dirasa mapan atau mulai kita berumah tangga, karena masa pensiun bukan pilihan tapi suatu kepastian. Masih beruntung jika memperoleh pensiun penuh, nah kalau pensiun dini akibat sakit terus menerus dan dianggap non produktif oleh perusahaan, bagaimana jadinya?.

Tips dibawah ini barangkali bisa membantu persiapan untuk pensiun :

· “Milikilah asset produktif sebanyak mungkin” (Safir Sinduk –perencana/konsultan keuangan). Artinya kita punya harta yang bisa menghasilkan uang, misalnya mobil selain bisa buat transportasi pribadi juga bisa disewakan dsb.

· Berusaha “dobel gardan”, punya usaha sampingan yang tidak mengganggu pekerjaan kantor, misalnya dikelola oleh isteri dan atau  keluarga di rumah

· Memaksa harus menabung secara teratur dan asuransi untuk keperluan anak anak

· Berinvestasi. Ini tidak mudah perlu konsultasi dengan pakar investasi atau konsultan perencana keuangan. Jika tidak mampu mengundang sendiri, rame rame patungan dengan kawan atau minta perusahaan untuk mendatangkan pakar atau perushaan dimaksud.

· Menyelenggarakan/mengelola dana pensiun sendiri. Sekarang banyak perusahaan atau bank yang melakukan usaha semacam ini dengan berbagai benefitnya

· Jika kita sudah tercatat sebagai anggota YDP perusahaan, kita bisa menghitung perkiraan uang pensiun ketika jatuh tempo nantinya, sehingga kita bisa secepat mungkin mengambil langkah langkah yang dianggap perlu.

· Harus punya perhitungan, jika masa pensiun tiba kita tidak sedang atau masih  mempunyai hutang terhadap fihak lain

· Minimun satu tahun sebelum masa pensiun tiba, kita merubah gaya hidup konsumtif, seperti seolah olah kita sudah pensiun dengan penghasilan jauh dibawah semula

Ada kata kata bijak yang saya kutip dari Mario Teguh, “janganlah melakukan pekerjaan yang semestinya dilakukan saat masih muda”.

Kalimat tersebut diatas saya makna’i sebagai peringatan bahwa justru saat kita sudah pensiun malah lebih bekerja keras, membanting tulang untuk mencukupi biya hidup hanya karena kita lalai merencanakan persiapan masa tua dan malah asyik terjebak pada zona nyaman sebagai orang gajian yang merasa mapan dengan berpengasilan lumayan. Oleh karena itu kita mesti berpola pikir “Nanti Bagaimana” bukan “Bagaimana Nanti”.

Salam, semoga bermanfaat.

Jakarta, 28 Juli 2013;

- Nur Setiono -

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Istiwak, Jam Kuno di Kota Solo …

Agoeng Widodo | | 23 September 2014 | 11:20

Perang Mulut di Talkshow TV (Mestinya) Cuma …

Arief Firhanusa | | 23 September 2014 | 11:04

Mempertanyakan Kebenaran Cerita Masril Koto …

Faizah Fauzan | | 19 September 2014 | 21:17

Buku Agama dan Kolonialisasi Bahasa …

Adian Saputra | | 23 September 2014 | 11:21

[Studio Attack] Mau Lihat Geisha Latihan …

Kompas Video | | 23 September 2014 | 11:00


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 5 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 7 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 9 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Tanam Tanaman dan Bunga Plastik …

Gaganawati | 8 jam lalu

Berkah Sepak Bola Palestina di Tengah Perang …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Si Cantik Jelita …

Nidaul Haq | 8 jam lalu

Billboard, Sarana Sosialisasi Redam Gepeng …

Cucum Suminar | 8 jam lalu

Bisnis Sebenarnya untuk Memanusiakan Manusia …

Agung Soni | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: