Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Atika Rahma Hartanti

welcome to my word world.. :) happy reading guys!

Hai! Sang Pembully, Kita Bertemu Lagi…

OPINI | 27 July 2013 | 23:12 Dibaca: 717   Komentar: 24   4

Sering banget denger orang-orang ngomong kata “Bullying”

atau mungkin kita sendiri sering ngomong kata “Bullying”

atau bahkan kita sendiri pernah ngalamin di “Bullying”

termasuk saya..

dan saya bukannya bangga pernah mengalami hal yang bisa di bilang buruk dan sampai sekarang masih belum bisa di lupakan, tapi karena memori tentang peristiwa itu tidak sengaja timbul ke permukaan akibat acara buka puasa bersama teman-teman SMP saya tadi, jadi keingetan lagi deh..

sebenarnya, apa sih arti dari kata bullying itu sendiri??

menurut Mbah Google sih, ini..

Bullying berasal dari kata bully yang artinya penggertak, orang yang mengganggu orang yang lemah. Beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang seringkali dipakai masyarakat untuk menggambarkan fenomena bullying di antaranya adalah penindasan, penggencetan, perpeloncoan, pemalakan, pengucilan, atau intimidasi (Susanti, 2006)”

“Suatu hal yang alamiah bila memandang bullying sebagai suatu kejahatan, dikarenakan oleh unsur-unsur yang ada di dalam bullying itu sendiri. Rigby (2003:51) menguraikan unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian bullying yakni antara lain keinginan untuk menyakiti, tindakan negatif, ketidakseimbangan kekuatan, pengulangan atau repetisi, bukan sekedar penggunaan kekuatan, kesenangan yang dirasakan oleh pelaku dan rasa tertekan di pihak korban”
dan mungkin banyak definisi-definisi yang lain tentang “Bullying”
tapi sebenarnya apa aja sih yang bisa di bilang “Bullying” itu? ternyata ada jenis-jenisnya loh..

1. Fisik

jenis ini menyerang langsung fisik si korban dengan meninggalkan luka, atau bekas lainnya. Contohnya memalak, memukul, menjewer, menampar, dsb.

2. Verbal

jenis ini memang tidak melukai fisik, tapi tetap saja menyakiti hati. Misalnya mengejek nama orang tua, mencemooh, menyindir kelemahan mental orang, dsb.

3. Psikologis

tipe ini juga tidak kalah menyakitkan. Efeknya langsung menyerang batin si korban. Contohnya memfitnah, menyebarkan gosip, mempermalukan korban di depan umum, dan menolak si korban.

Dan saya pribadi, ngalamin semua itu waktu SMP, gak fisik, gak batin, gak psikologis, ada semua lengkap waktu SMP dulu, dan saya masih terus menangisinya sampai detik ini..

Kenapa sih seseorang itu bisa melakukan “bullying”?

Kebanyakan sih para pelaku bullying itu puas dan seneng banget kalo bisa menindas seseorang, terutama yang lebih lemah dari mereka. Ia merasa lebih kuat, lebih berkuasa, lebih cakep, lebih tajir, lebih cantik, lebih lebih lebih deh pokoknya, mungkin karna itu semua orang-orang pada takut, dan biasanya orang-orang yang gak takut sama mereka itulah yang di bullying, biasanya ya.. Tapi kayaknya kenyataan nya enggak gitu, kalo mereka udah lihat seseorang takut sama mereka, ya mereka bakal bullying orang itu terus, bahkan bisa sampai ke tahap memanfaatkan, entah apapun yang bisa mereka dapat, lebih ke keuntungan pribadi sih.  Bisa jadi ia punya pikiran kalo ia bakalan dapat popularitas disekolah karena ditakuti oleh semuanya. Padahal sesungguhnya ia akan dibenci oleh orang-orang yang gak setuju sama tindakannya, bahkan mungkin ada yang dendam, dan gak bisa di pungkiri pihak yang gak suka itu bisa melakukan hal yang diluar batas kewajaran, neror misalkan, atau nyuruh seseorang untuk mencelakakan yang pernah ngebully dia, banyak.. dan udah ada kok fakta dan kejadian nya, dan sang pembully, biasalah.. minta maaf dan menyesal di saat-saat yang terakhir, memang penyesalan itu datangnya belakangan ya..

Trus, kenapa kita bisa jadi korban bullying?

ini dia nih yang saya juga pikirin dari dulu, “kenapa harus gue yang kena?? kenapa mereka gak ngincer yang lain?? apa salah gue?? kenapa mereka bersikap kaya gitu ke gue??”

sampai nangis mikirin nya, sampai sakit banget ngerasain nya, dan sampai nyesek banget ngingetnya..

Orang yang biasanya dijadiin korban bullying itu orang yang punya perbedaan mencolok dibandingkan yang lain, bisa dari fisik, agama, ras, gaya berpakaian, dan perilaku seseorang. Banyak banget kok contohnya, misalkan rebutan cowo, ngerasa salah satu pihak lebih cantik atau lebih segala-segalanya, ya pasti dia bakal menyingirkan saingan nya itu, sayangnya bukan dengan cara yang sportif, tapi pakai “bullying”, entah kekerasan secara fisik, batin, ataupun psikologis, lalu fenomena kakak kelas ke adik kelas, fenomena iri karna pangkat jabatan, dan lain-lain..

Trus, apa sih dampak dari bullying??

Dampak dari bullying itu udah pasti membuat para korban-korban nya merasa benci sama dirinya sendiri, mereka ketakutan menghadapi dunia luar, mereka gak percaya diri, mereka gak bisa betah lama-lama di suatu perkumpulan, mereka mengurung diri dari semuanya, mereka juga bisa merasa depresi, stress, dan gak jarang semua itu bisa mempengaruhi kesehatan mereka, dan yang paling parah, mereka bisa loh sampai bunuh diri karena merasa udah gak tahan lagi sama tekanan yang ada.

Apalagi kalo abis ketemu sama sang pembully itu sendiri,

saya contohnya..

saya yang sangat amat baru bertemu dengan sang pembully di acara buka puasa bersama teman-teman SMP tadi sore, batin ini sebenarnya ngomong “hello?? gue masih inget banget loh waktu lo ngebully gue dulu, jangan dikira gue lupa woi!!”

kesel juga sih rasanya, kalau bukan karna sudah mengikat janji dengan seorang teman, saya gak akan datang di perkumpulan itu, jujur saya bilang kepada diri saya sendiri dan kepada orang lain.. “saya benci masa-masa SMP saya, saya gak pernah suka masa-masa itu..”

padahal kan mungkin banyak juga masa-masa yang indah waktu saya SMP dulu, cuma karna peristiwa “bullying” itu bisa menepuk rata semuanya menjadi “masa-masa yang gak enak”

selama acara itu berlangsung, gak tau kenapa ada perasaan ingin menangis, ada perasaan sesak, dan ada perasaan kesal..

mungkin itu adalah hal yang wajar, walaupun sebenarnya gak wajar-wajar juga karna saya masih terus bersikap seperti itu sampai sekarang saya kuliah sudah semester 5, mungkin karna itu peristiwa tidak menyenangkan pertama kalinya buat saya, jadi memori otak merekam hal itu sangat erat, dan saya berharap itu untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya untuk saya, untuk itulah kenapa saya gak pernah bisa membuka hati dan perasaan saya untuk hal yang menyangkut masa-masa SMP saya, karna saya lelah harus terus berakting di depan semuanya, untuk itulah saya menolak dari awal, dan melanjutkan hidup saya kembali..

kata pak Mario Teguh,

“cara terbaik untuk membalas dendam terhadap orang yang menghina kita adalah menjadi lebih berhasil dari pada dia”

dan itu, benar adanya..

saya sangat amat mengalami itu, dan saya mungkin juga harus berterima kasih kepada sang pembully, karna dia lah saya menjadi lebih semangat dalam segala hal, niatnya sih mau supaya bisa lebih, lebih, dan lebih dari sang pembully, entah dari segi akademik, segi pekerjaan, dan dari segi-segi yang lainnya..

Dan Alhamdulillah, setidaknya kehidupan saya yang sekarang lebih baik daripada kehidupan mereka, sang pembully..

ada pikiran jahat yang terlintas untuk saya membalas perbuatan mereka, tapi saya urungkan..

karna kejahatan tidak akan pernah bisa terselesaikan dengan kejahatan..

saya tau mereka telah berbuat hal yang sangat amat merugikan saya, terutama masa-masa SMP saya, secara langsung mereka telah merusak masa-masa yang seharusnya indah buat saya, dan secara tidak langsung mereka telah membuat saya membenci masa-masa itu, tapi sekarang saya menjadi lebih punya semangat untuk tetap terus fokus pada apa yang sedang saya kerjakan, saya akan buktikan kepada mereka sang pembully bahwa saya bukanlah saya yang dulu, bukanlah seseorang yang mereka pernah bully dulu, saya bukanlah orang hina yang dulu bisa mereka tindas, dan saya bukan orang yang lemah yang bisa mereka sakiti..

Mereka tidak akan bisa lagi menampar saya, mereka tidak akan bisa lagi memukul saya, mereka tidak akan bisa lagi merebut paksa seseorang yang saya sayang, mereka tidak akan bisa lagi menghina saya dan orang tua saya, mereka tidak akan bisa lagi menyentuh saya, dan mereka tidak akan bisa lagi mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk di katakan..

dengan tegas saya katakan, sekarang saya adalah orang yang kuat, sekarang saya adalah orang yang sukses, dan sekarang saya adalah orang yang terhormat.. saya akan buktikan hal itu dan akan melakukan apapun untuk itu, untuk dapat membuat masa-masa SMP saya terasa indah, untuk membuat orang-orang yang saya sayangi bangga, dan untuk bisa memaafkan kesalahan mereka, sang pembully..

biar bagaimana pun, kalian sang pembully, tetaplah teman saya..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

10 Tanggapan Kompasianer Terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 14 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Resep Kerupuk Seblak Kuah …

Dina Purnama Sari | 8 jam lalu

“Sakitnya Tuwh di Sini, di …

Handarbeni Hambegja... | 8 jam lalu

Kabinet Stabilo …

Gunawan Wibisono | 8 jam lalu

Sofyan Djalil dan Konsep yang Belum Tuntas …

Edy Mulyadi | 8 jam lalu

Dikelilingi Nenek-nenek Modis di Seoul, …

Posma Siahaan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: