Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Puasa 23 jam

REP | 14 July 2013 | 11:24 Dibaca: 690   Komentar: 4   2

“Iskandar, kamu tau siapa yang tidak sahur?” tanya teman saya yang baru sampai kantor.

“Kita” jawab saya ringkas

“Kamu tidak sahur juga?” tanya teman saya kaget.

“Iya” kami tertawa coba mencari kekuatan untuk berpuasa selama 19 jam.

Ahamdulillah sudah hari kelima berpuasa di negeri kincir angin. Puasa di negeri orang tidak mudah karena suasana dan linkungan yang berbeda. Tapi alhamdulillah, cukup banyak komunitas Muslim yang ada di Groningen sehingga susana puasa tetap dapat dirasakan. Selain banyaknya mahasiswa Muslim Indonesia, terdapat juga banyak komunitas Muslim dari Maroko, Turki dan negara-negara lainnya.

Seperti halnya di Indonesia, sebagian komunitas Muslim di Belanda mulai berpuasa pada hari Selasa, 9 Juli 2013. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag sudah jauh-jauh hari mengumumkan bahwa tanggal 1 Ramadhan  jatuh tanggal 9 Juli 2013. Begitu juga halnya dengan masjid (komunitas) Turki di Korweg, Groningen yang menggunakan sistem hisab sehingga kebanyakannya warga Muslim dari Turki mulai berpuasa hari Selasa.

Komunitas mahasiswa Indonesia di Groningen lebih mengacu ke masjid (komunitas) Maroko dikarenakan faktor jarak yang paling dekat dengan kampus dan tempat berdomisili. Tempat saya tinggal hanya berjarak sekitar 300 m dari masjid Selwerd yang mayoritas jamaahnya adalah warga Maroko dan mahasiswa Muslim dari berbagai negara, termasuk Indonesia.  Berbeda dengan Masjid Korweg, Masjid Selwerd lebih menggunakan sistem rukyat sehingga pengumuman 1 Ramadahan baru diumumkan setelah selesai solat isya’. Waktu isyá sendiri pada tanggal 8 Juli 2013 adalah jam 24.02 yang berarti sebenarnya sudah masuk hari Selasa, 9 Juli 2013.

Setelah terjadi disksusi panjang di milist mahasiswa Indonesia di Groningen tentang hari pertama puasa, Selasa dinihari diumumkan bahwa 1 Ramadhan menurut versi Masjid Selwerd jatuh tanggal 10 Juli 2013. Alhamdulillah saya menarik nafas lega karena masih ada satu hari untuk mempersiapkan diri menghadapi bulan puasa di musim panas. Hanya ada satu gambaran tentang puasa di musim panas, puasa 19 jam. Iya, puasa 19 jam, lebih lama dari negara yang tidak mengalami musim panas. Saat musim panas, malam menjadi lebih pendek dan siang menjadi lebih panjang. Waktu subuh masuk sekitar jam 3 pagi, waktu  maghrib jam 10 malam dan waktu isya’ jam 12 dinihari. Tidak ada kata lain, penuh tantangan.

Hari pertama puasa, saya berhasil bangun sahur jam 2.30 pagi. Alhadmulillah, saya berhasil melewati puasa 19 jam dengan baik. Hari kedua, ketiga, dan keempat, saya tidak diberi kekuatan untuk bangun sahur. Hari kedua, saya lupa untuk menyalakan weker, sehingga saya bangun jam 3.30 pagi, sudah masuk waktu subuh. Hari ketiga, saya tidak lupa untuk menyalakan weker jam 2.30 pagi. Tapi sekali lagi, saya tidak mendengar sebarang bunyi dan bangun jam 3.30 pagi. Hari keempat, saya mendengar bunyi weker lalu saya matikan dan tidur lagi. Saya terbangun jam 3.30 pagi. Hari kelima, juga terjadi hal yang sama, sekali lagi untuk 4 hari berturut-turut saya bangun jam 3.30 pagi. Luar biasa istiqamah tapi sayang sekali sudah masuk waktu subuh sehingga saya tidak sempat untuk sahur selagi empat hari berturut-turut. Mempertimbangkan waktu terakhir saya makan adalah jam 11 malam dan baru berbuka puasa jam 10 malam hari berikutnya, itu berarti saya tidak makan dan minum selama 23 jam dikali 4 hari. Subhanallah walhamdulillah karena saya berhasil melewatinya dengan baik. Saya hanya percaya bahwa bukan makan yang memberikan kenyang dan energi tapi adalah Allah yang memerintahkan hambanya untuk makan dan minum sebagai asbab untuk tetap bisa beraktifitas dengan baik. Masuk hari kelima, saya berharap saya bisa mengamalkan sunnah nabi yaitu bersahur sebelum menunaikan ibadah puasa. Amin.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Soal Pem-bully Jokowi, Patutkah Dibela? …

Sahroha Lumbanraja | | 30 October 2014 | 20:35

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | | 31 October 2014 | 11:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 3 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 8 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Jokowi Memenuhi Janjinya Memberantas Mafia …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Milad Himakom UNIFA yang ke-4: Himakom Dulu, …

Komunikasi Universi... | 8 jam lalu

Setelah Kelas Ibu Hamil, Ada Kelas Balita …

Imma Firman | 8 jam lalu

Positif Mengkritik Santun Memberi Saran …

Ferra Shirly | 8 jam lalu

Robohnya Kampus Kami …

Ardi Winangun | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: