Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Amirsyah

Abdi Negara/Pelayan yg berpindah2 tugas di Nusantara. Minat: Keuangan Negara, Akuntansi, Auditing, IT & banyak selengkapnya

Permainan Tradisional Daerah Asalku

OPINI | 13 July 2013 | 15:24 Dibaca: 645   Komentar: 4   0

Setiap kali ditanya “Aslinya Mana?” saya bingung harus menjawab apa. Bila asli ditujukan bagi tempat kelahiran maka saya akan menjawab Palembang, karena lahir sampai dengan SD tinggal di Palembang. Bila asli berarti lama tinggal maka akan saya menjawab Jakarta karena SMP hingga kuliah di Jakarta. Bila asli menunjukkan asal muasal orang tua, maka saya menjawab Sulawesi Selatan karena orang tua, nenek dan kakek lahir di Sulawesi Selatan, asli suku bugis.

Dari tiga yang bisa disebut sebagai daerah asal saya, hanya Palembang dan Sulawesi Selatan yang memberikan kenangan terkait permainan tradisional yang sering dimainkan. Di Jakarta lebih banyak bermain dengan permainan modern seperti ding dong, game boy dan playstation.

Dua Permainan Tradisional dari Palembang: “Cabut” dan “Benteng”

Saat masa kecil di Palembang, saya dan teman-teman paling sering bermain Cabut dan Bentengan. Keduanya adalah permainan kelompok atau tim yang saling beradu strategi, keberanian dan kekuatan fisik. Kekuatan fisik yang dimaksudkan adalah kecepatan berlari dan menghindar dari tangkapan atau sentuhan lawan.

Permainan pertama adalah Cabut, dalam versi Pulau Jawa biasanya disebut Gobak Sodor. Di Palembang kami menyebutnya Cabut karena tim yang bermain duluan harus meneriakkan kata Cabut saat memulai permainan ataupun saat berhasil memenangkan permainan. Setiap tim bisa terdiri dari 3, 4 atau 5 orang tergantung anak-anak yang mau memainkannya. Permainan dilakukan di lapangan dengan membuat area permainannya berupa kotak yang diberi garis lurus sejajar dengan jarak sekitar 2-3 meter yang dibuat sebanyak yang akan bermain, dan garis tengah yang membelah kotak permainan untuk jalur pemain yang merupakan pemimpin tim yang sedang berjaga. Setiap tim memiliki seorang pemimpin yang biasanya dipilih berdasarkan kepintaran dan kecepatan larinya.

13737031561004770592

Pemimpin tim yang berjaga boleh menggunakan semua jalur garis dari depan sampai ke belakang dan garis tengah yang membelah kotak permainan. Pemain lain tidak boleh menggunakan garis tengah tersebut. Anggota tim hanya boleh menggunakan jalur garis lurus yang memanjang ke dari kiri ke kanan dalam menjaga lawan agar jangan sampai mampu melewati garis jalur tersebut lalu berpindah ke area berikutnya. Pemimpin tim memberi aba-aba kepada anggotanya untuk bergerak ke arah mana saja, khusus menjaga siapa saja dan bila perlu melepaskan pemain lawan dalam rangka memenangkan permainan. Ketua Tim yang bermain juga menentukan strategi bersama anggotanya mengenai siapa yang harus duluan, siapa yang masuk dari sebelah kanan atau kiri dan saat berada dalam satu kotak yang dijaga saling memberi kode kapan saatnya melakukan gerakan untuk menipu lawan agar bisa lepas melewati garis yang sedang dijaga.

Tim yang bermain tidak boleh keluar dari kotak permainan, bila keluar maka dianggap kalah dan harus gantian berjaga. Definisi keluar atau tidaknya harus disepakati dulu, apakah satu kaki dinyatakan keluar ataukah dua kaki. Selain itu juga dibuat kesepakatan dikatakan menyentuh bila telak mengenai anggota tubuh lawan atau cukup hanya mengenai bajunya. Bila tidak, maka kadang-kadang ada pemain atau tim yang berusaha berbuat curang, berdalih dengan berbagai alasan karena tidak mau berjaga, seperti tidak mengakui bila sudah tersentuh (kena) dengan alasan cuma terkena baju atau merasa belum keluar dari arena permainan karena hanya satu kaki yang keluar.

13737017621589007828

Strategi dan kecepatan lari menjadi faktor menentukan kemenangan. Selain itu biasanya setiap kelompok menginginkan anggota kelompoknya adalah anak-anak yang lebih tinggi karena biasaya mempunya tangan yang lebih panjang untuk memudahkan menyentuh tim lawan. Pembagian tim yang dilakukan dengan suit kadangkala menghasilkan dua tim yang tidak berimbang, bila demikian maka kedua tim bermusyawarah untuk menukar dan membagi anggota tim agar merata kekuatannya, sehingga permainan berlangsung lebih seimbang yang tentu saja lebih menantang dan menarik. Tim yang bermain dikatakan menang bila semua anggotanya berhasil melewati semua garis secara bolak balik tanpa tersentuh Tim penjaga. Tim penjaga bertugas menghalanginya dan berusaha menyentuh tim lawan agar bisa bergantian menjadi tim yang bermain.

Permainan kedua adalah Benteng. Juga dilakukan di tanah lapang seperti halaman sekolah, halaman masjid bahkan lapangan bola. Para pemain dibagi menjadi dua kelompok/tim. Sama seperti permainan cabut, anak-anak melakukan suit untuk membentuk dua tim, jika kedua tim yang terbentuk dinilai belum berimbang maka dilakukan musyawarah untuk membagi dan menukar anggota tim agar sama-sama seimbang. Setiap tim memilih bentengnya yang saling berhadap-hadapan, benteng tersebut bisa pohon, tiang listrik, tembok rumah atau bila tidak ada bisa juga sandal atau sepatu yang diletakkan di tanah atau cukup membuat bentuk kotak atau lingkaran di tanah. Setiap tim menjaga benteng masing-masing jangan sampai disentuh lawan karena menandakan kekalahan. Disamping itu setiap tim juga mengatur strategi bagaimana caranya agar bisa menyentuh benteng lawan untuk memenangkan permainan.

137370370381352084

Setiap Tim juga berusaha menawan anggota tim lawan satu demi satu atau juga membebaskan anggotanya yang ditawan. Kadangkala ada tim yang berstrategi mengorbankan anggotanya untuk memancing penjaga benteng lawan agar mengejarnya, saat itulah anggota tim lainnya berusaha menguasai benteng yang ditinggalkan. Usaha menguasai benteng lawan ini membuat setiap tim menjalankan strategi yang unik misalnya mencari jalan yang memutar jauh atau bersembunyi di dekat benteng lawan atau jalan menjajari/dibelakang orang dewasa yang lewat agar tidak terlihat lawan. Yang paling akhir menyentuh bentengnya memiliki kekuatan yang lebih besar sehingga bisa menawan tim lawan yang berhasil disentuh. Tim lawan dapat membebaskan anggotanya yang ditawan dengan menyentuhnya sambil waspada jangan sampai tersentuh tim penawan yang baru saja menyentuh bentengnya.

13737037601726361643

Permainan Tradisional Mengundang Tawa dari Suku Bugis: “Bise’ bise’ang”

Permainan ini juga adalah permainan tim. Setiap tim terdiri dari dua orang. Alat permainannya adalah sarung. Ya, sarung yang merupakan pakaian/kain tradisional yang sangat familiar bagi masyarakat Indonesia khususnya bagi suku Bugis. Permainan ini bisa dimainkan dimana saja di dalam ruangan atau tempat terbuka namun dengan lantai yang tidak bertanah/berpasir, karena dapat membuat kotor atau merobek sarung dan membuat sakit pantat.

Cara memainkannya adalah dua orang dalam satu sarung duduk berhadap-hadapan sambil menjalinkan kaki dengan kaki dan tangan dengan tangan. Selanjutnya sesuai aba-aba masing-masing tim berlomba untuk menuju garis finish yang ditentukan dengan cara bergeser secara bergantian. Meskipun permainan ini sangat sederhana namun cukup menguras tenaga karena harus menggeser atau mengangkat pantat untuk bergerak secepatnya mencapai garis finis. Bila tidak hati-hati maka pemain akan jatuh bergulingan atau bahkan dapat merobek sarung. Mereka yang menonton pertandingan ini dipastikan akan tertawa tergelak-gelak karena selalu ada saja kejadian-kejadian lucu seperti pemain yang terguling atau saat finis para pemain menepuk-nepuk pantatnya karena merasa pegal. Bila khawatir permainan ini akan merobek sarung, maka bisa juga memainkannya tanpa menggunakan sarung dengan teknik dan cara yang sama namun akan berkurang kelucuannya karena tingkat kesulitannya sudah berkurang.

1373703849796123207

Permainan bise’ bise’ang dimaksudkan sebagai hiburan saat berkumpulnya anggota keluarga. Permainan ini melambangkan kegigihan para nelayan suku bugis yang dengan perahu sederhana berani mengarungi lautan luas menerjang ombak yang terkadang sangat besar, untuk mencari ikan demi menafkahi anggota keluarganya. Dengan permainan ini keletihan para nelayan seolah-olah sirna berganti dengan canda dan tawa yang makin mengakrabkan sesama keluarga nelayan.

Sangat disayangkan banyak permainan tradisional Indonesia mulai ditinggalkan bahkan tidak dikenali lagi oleh anak-anak jaman sekarang. Anak-anak dijaman teknologi sekarang ini lebih senang dengan permainan modern yang lebih menonjolkan individualisme karena bisa dimainkan sendirian, bahkan permainan-permainan tersebut banyak yang tidak mendidik seperti mengajarkan kekerasan yang vulgar. Sangat berbeda dengan permainan tradisional Indonesia yang penuh dengan nilai-nilai moral seperti kerja keras, kejujuran, kerja sama dan kekeluargaan. Permainan tradisional perlu disosialisasikan dan diajarkan kembali kepada anak-anak Indonesia. Ada baiknya website www.indonesia.travel yang merupakan penyedia informasi tempat-tempat wisata dan even-even wisata di Indonesia, juga menyediakan halaman khusus yang menjelaskan hal-hal terkait budaya-budaya di Indonesia termasuk berbagai permainan tradisional khas masing-masing daerah. Link halaman khusus tersebut bisa diberi nama Culture of Indonesia dan diletakkan di bawah tautan lainnya dalam kelompok Indonesia Travel. Jika boleh usul, nantinya dalam Indonesia Travel akan tampak seperti gambar di bawah ini.

13737031231961037902

Semoga permainan tradisional Indonesia tetap lestari meskipun Indonesia telah menjadi negara maju dan modern. Jangan sampai Indonesia menjadi seperti negara-negara maju lainnya yang justru kehilangan budaya dan kearifan lokal nenek moyangnya. Melestarikan permainan tradisional Indonesia adalah wujud pelestarian budaya Indonesia sebagai bukti kecintaan kepada Indonesia!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perjalanan Malam Hari di Jalur Pantura …

Topik Irawan | | 24 July 2014 | 15:41

Berlibur Sejenak di Malaka …

G T | | 24 July 2014 | 15:51

Indonesia Bikin Kagum Negara Tetangga …

Apriliana Limbong | | 24 July 2014 | 20:51

Taman Bunga Padang Pasir …

Ferdinandus Giovann... | | 24 July 2014 | 19:07

Permohonan Maaf kepada Ahmad Dhani …

Kompasiana | | 24 July 2014 | 20:27


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: