Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Fajarbaru

menulis untuk melawan proses amnesia sejarah

Ketika 4 Anak Menjadi Yatim Piatu tanpa Pesan Ibu

REP | 12 July 2013 | 10:53 Dibaca: 1024   Komentar: 7   3

13736004201190244661

Diakon Lorens Ola, Putra Tanah Treket, Lembata berpose bersama kedua pimpinannya di depan Gapura menuju tempat upacara penahbisan

Pada 2-6 Juli 2013, saya bertolak dari Kota Ruteng menuju Kampung Tanah Treket untuk mengikuti upacara tahbisan/pelantikkan dua orang teman menjadi Pastor Gereja Katolik. Tanah Treket merupakan nama sebuah kampung di Pulau Lembata, tepat di pinggiran Kota Pelabuhan Lewoleba yang menjadi Ibu Kota Kabupaten Lembata. Kampung Tanah Treket adalah kampung asal Diakon Laurensius Ola yang akan ditahbiskan menjadi Pastor bersama dengan rekannya, Diakon Frans Lawe Danga yang berasal dari Hokeng Flores Timur, oleh Uskup Larantuka, Mgr Fransiskus Kopong pada 5 Juli lalu. Karena tujuan inilah maka saya melakukan perjalanan ke Pulau Lembata yang masih asing bagiku.

Perjalanan ini ditempuh dengan menggunakan bus dari Kota Ruteng melewati Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Maumere, dan Kabupaten Flotim sebelum mengambil jalur laut menuju Pulau Lembata dengan menggunakan kapal laut. Perjalanan ke Lembata dari ujung Barat Pulau Flores ke ujung timur dan dilanjutkan dengan pernyebarangan via transportasi laut memang sangat melelahkan tetapi terasa menyenangkan. Meskipun sedikit kelelahan oleh karena perjalanan darat yang berkelok-kelok dan panjang ini ditambah dengan kondisi jalan propinsi yang tidak terlalu mulus, saya pun sampai ke Tanah Treket pada 4 Juli 2013, sehari sebelum upacara tahbisan, dalam kondisi sehat.

Seperti lazimnya situasi kampung yang masih kental dengan suasana persaudaraan, saya diterima dengan penuh keramahan oleh warga kampung Tanah Treket dan khususnya oleh keluarga besar Suku Ruing yang salah satu keturunannya akan ditahbiskan menjadi pastor tersebut. Saya dan teman-teman yang lain yang menjadi tamu diterima dengan upacara adat Lamaholot di gerbang kampung dan dilanjutkan dengan menikmati segarnya air sadapan pohon lontar dan jagung titi yang menjadi kekhasaan setempat. Hari pertama di Tanah Treket di tengah Suku Ruing terasa menyenangkan dan membuat betah karena saya merasa diterima sebagai anak atau keluarga sendiri di tengah-tengah mereka.

Menurut jadwal panitia seperti tercantum dalam undangan yang kuterima, pada hari kedua, persisnya tanggal 5 Juli 2013, upacaya tahbisan untuk kedua calon pastor dalam Gereja Katolik tersebut akan dilangsungkan persis pada pukul 08.00. Upacara ini berlangsung meriah karena dihadiri oleh ribuan umat Katolik dari Hadakewa, Lewoleba, dan sekitarnya. Hadir juga dalam upacara ini para pastor, suster, bruder, atau  biarawan-biarawati yang berkarya di Keuskupan Larantuka (karena Lembata masuk dalam wilayah Gereja Keuskupan Larantuka). Selain itu, hadir juga para anggota DPRD, Bupati, Wabub, dan jajaran SKPD Kabupaten Lembata. Upacara berjalan lancar diiringi Paduan Suara umat Stasi Tanah Treket yang menyanyikan lagu-lagu koor berbahasa daerah, Indonesia, dan Latin secara bergantian diiringi alat musik tradisional yang dipadu dengan alat-alat musik modern.

13736006261354000728

Suasana Upacara Tahbisan kedua Diakon Menjadi Pastor dalam Gereja Katolik oleh Uskup Larantuka

Namun, ada sebuah peristiwa memilukan yang menimpa salah seorang Ibu anggota paduan suara yang mengiringi upacara/perayaan Ekaristi tahbisan ini. Pada saat Paduan Suara sedang khusuk menyanyikan lagu Kirye Eleison (Bahasa Latin=Tuhan Kasihanilah Kami) tiba-tiba dari barisan Alto seorang Ibu paruh bayah terjatuh dan pingsan. Sementara anggota paduan suara terus menyanyi, seksi kemananan upacara menggotong ibu yang pingsan tersebut ke luar ruangan Gereja. Ia dilarikan ke RSUD Lewoleba yang jaraknya sekitar 15 menit dari Tanah Treket. Tetapi ternyata nyawahnya tidak tertolong karena ia menghembuskan nafas terakhirnya di perjalanan menuju rumah sakit, sehingga dikembalikan dari RSUD dalam kondisi sudah tidak bernyawah lagi.

Belakangan sesudah upacaya tahbisan berakhir, baru saya ketahui bahwa ternyata ibu yang meninggal ini adalah seorang janda dengan empat orang anak: dua putra dan 2 putri. Sama seperti suamianya yang meninggal tanpa pesan pada 2011 silam karena terjatuh dari pohon Lontar, ibu ini pun berpulang tanpa meninggalkan pesan-pesan terakhir bagi keempat anaknya yang masih belia. Anak yang paling besar, seorang putra baru lulus SMK tahun ini, Putri kedua masih duduk di bangku kelas dua SLTP, Putri ketiga baru duduk di kelas lima SD, sedangkan putra bungsunya baru duduk di kelas 3 SD. Dengan kematian ibunya, keempatnya langsung menjadi yatim piatu dan sama seperti anak ayam yang kehilangan induk nasib mereka seolah tanpa pegangan dan harapan.

Suasana suka cita oleh karena tahbisan langsung berubah total bagi seluruh warga Tanah Treket dan tamu undangan. Setelah upacaya tahbisan dan resepsi berakhir pada pukul 15.00 siang, semua tamu undangan menyempatkan diri melayat ke rumah duka ini. Di dalam sebuah rumah, persisnya di ruangan tamu nan sederhana berlantai tanah, berukuran kecil, dan berdinding pelupu (rancahan bambu) yang telah tua dimakan usia, di atas ranjang beralaskan tikar anyaman lontar terbujur kaku jenasah Ibu yang dikelilingi oleh keempat anaknya yang menangis meraung-raung sambil menyentuh tubuh ibunya seolah berusaha membangunkannya kembali. Suasana duka dan kehilangan mewarnai isi rumah kecil nan sederhana tersebut.

13736008001219743628

Upacaya pemakaman Ibu Janda 4 anak oleh Pastor Lorens Ola yang baru ditahbiskan sehari sebelumnya dengan almarhumah sebagai salah satu anggota paduan suaranya. Di latar belakang ada keempat anak yatim yang telah kering air matanya meratapi kepergian ibu mereka.

Di tengah tangisan yang semakin memuncak oleh karena para pelayat yang kian berjubel pun ikut meratapi kepergian ibu tersebut, Bupati Lembata dan jajarannya pun menyeruak dari kerumunan para pelayat, memanggil keempat anak yang barusan menjadi yatim piatu dan beberapa orang perwakilan keluarga. Rupanya beliau menyaksikan sendiri secara langsung dan baru disadarkan bahwa saat itu ada rakyatnya yang adalah seorang janda miskin yang harus berjuang menghidupkan dan menyekolahkan keempat anaknya sendirian di pinggiran Ibu Kota Kabupaten Lembata. Dan kini, sang janda pejuang itu telah pergi dan harus meninggalkan keempat buah hatinya tanpa ada penanggung jawab utama. Beberapa keputusan langsung dikeluarkan oleh Sang Bupati kepada jajarannya dan keluarga anak-anak yatim pada saat itu yang didengar langsung oleh semua anggota keluarga dan para tamu undangan yang menyempatkan diri untuk melayat. Bupati Lembata memerintahkan Kepala Dianas PU untuk segera merenovasi rumah keempat anak yatim ini setelah masa perkabungan selesai (sesudah 40 hari kematian menurut tradisi setempat) agar lebih layak huni; menanggung peti jenasah dan semua biaya terkait upacara adat dan upacara pemakaman ibu anak-anak yatim tersebut; berjanji akan mempekerjakan putra sulung dari sang ibu; dan ketiga adiknya akan dimasukannya ke panti asuhan sesudah masa perkabungan berakhir. Bupati juga meminta agar seluruh keluarga besar sungguh-sungguh mempertimbangkan tawarannya itu demi masa depan keempat anak yang telah menjadi yatim piatu oleh karena ditinggalkan ibu tercinta, yang menjadi satu-satunya tempat mereka bersandar selama ini. Ia juga langsung memerintahkan Camat dan Kepala Desa mengawal perealisasian semua keputusannya pada hari itu demi nasib keempat anak sang ibu.

13736010481589059313

Ekspresi Putra Sulung Berkaos Putih ketika Jenasah ibunya telah dimakamkan. Sungguh mengiris hati.

Setelah disemayamkan semalam di rumah duka, keesokan harinya, 6 Juli 2013, janda yang meninggalkan empat anak belia ini pun dimakamkan di tanah pemakaman umum Tanah Treket dengan upacara menurut tata cara Gereja Katolik dan adat istiadat setempat.

Saya pun meninggalkan Tanah Treket dengan hati yang masygul sesudah mengantar jenasah ibu tersebut ke perisitirahatannya yang terkahir. Bayang-bayang tatapan kosong dari keempat anak baik di rumah duka maupun di lokasi penguburan masih terus membekas dalam kalbu. Dan berharap semoga keempat anak yang telah menjadi yatim piatu ini tetap tegar menatap hari esok meski telah kehilangan kedua orang tuanya dengan tanpa meninggalkan pesan oleh maut yang menjemput tanpa mengenal kompromi.

*catatan pilu atas pengalaman menyaksikan duka mendalam keempat anak Tanah Treket yang harus menjadi yatim piatu ketika mereka masih membutuhkan cinta, kasih sayang, perhatian dari satu-satunya sandaran hidup mereka.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 7 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 12 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 13 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 15 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Preman …

Bhre | 7 jam lalu

Bercanda, Berfilsafat! …

Wahyudi Kaha | 8 jam lalu

Persipura Punya 5 Kandidat Pelatih Baru …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Hujan …

Gusranil Fitri | 8 jam lalu

Renungan Malam Tahun Baru 1436H: Ketika Doa …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: