Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Iskandarjet

Memotret gempita Piala Dunia dan merekam euporia masyarakat di Rio dan Sao Paulo selama puncak selengkapnya

Tempat Wudhu di Amerika

REP | 11 July 2013 | 15:23 Dibaca: 2346   Komentar: 15   22

Selama berada di Amerika tahun lalu, saya bisa dengan nyaman menunaikan ibadah shalat, termasuk shalat Jumat di tiga kota: Washington DC, Salt Lake City dan San Francisco. Rasa syukur ini bertambah karena, meskipun tidak ada petunjuk arah kiblat di setiap kamar hotel yang saya tempati, saya punya bekal aplikasi kiblat yang memudahkan pengguna dalam menemukan di mana persisnya Ka’bah berada.

Terkait rutinitas shalat, saya merasa tinggal di Amerika, khususnya di musim panas, sungguh menyenangkan. Karena matahari bersinar lebih lama, jadwal shalat jadi lebih bersahabat dengan rutinitas kerja harian. Kalau di Jakarta, masyarakat sering terjebak macet dan mengabaikan azan Maghrib yang berkumandang sekitar jam enam sore. Di Amerika sana, jam segitu masih bisa tenang di jalan karena waktu Maghrib baru masuk jam tujuh lewat.

Tapi kalau musim panas dihubungkan dengan puasa di bulan suci Ramadhan seperti sekarang ini, tentu jadi tidak menyenangkan lantaran waktu puasa jadi lebih lama.

Yang menurut saya paling menarik untuk diceritakan terkait rutinitas sholat di masjid-masjid Amerika adalah tradisi mengeringkan badan usai wudhu. Di semua masjid yang saya kunjungi, tempat wudhunya dilengkapi dengan gulungan tisu lebar yang sering saya jumpai di toilet bandara atau mal besar. Gulungan tisu digeletakkan begitu saja di satu sudut. Jadi setelah berwudhu, orang-orang akan mengeringkan kaki dan tangannya dengan tisu tadi.

Awalnya saya merasa aneh, tapi ternyata tisu itu disediakan untuk menjaga kebersihan masjid. Kok bisa?

Seperti kita maklum, karpet di masjid mudah basah dan mengeluarkan bau pengap karena banyaknya ceceran air bekas wudhu yang menetes dari kaki dan anggota badan lainnya. Apalagi di masjid-masjid tradisional yang menyediakan kolom besar berisi air semata kaki yang dibuat untuk memastikan setiap kaki yang mau menginjak masjid benar-benar bersih dengan melewati kolom tersebut. Kaki memang bersih dari kemungkinan percikan najis di sepanjang jalan dari tempat wudhu ke masjid. Tapi masalahnya, lantai atau karpet masjid jadi lebih basah. Walhasil, bercak kaki menempel di mana-mana dan meninggalkan bau tak sedap. Dan kalau lantainya berkarpet lebih parah lagi. Bau apek menempel lama sampai karpetnya diangkat untuk dijemur di bawah terik matahari.

Kondisi ini saya alami di banyak masjid, termasuk di musholla-musholla eksekutif yang sudah menjamur di banyak pusat perbelanjaan di Jakarta. Meskipun ber-AC dan dihiasi dengan interior yang indah, tempat sholat di mal tetap tidak bisa mengatasi masalah ceceran air bekas wudhu. Apalagi kalau tempat sholat yang kecil itu berlokasi di basement, tanpa AC, tanpa ventilasi sama sekali. Aromanya dijamin bikin pusing kepala!

Nah, dengan mengeringkan badan sebelum keluar dari tempat wudhu, tidak ada lagi ceceran air dari kaki atau tangan. Masjid pun tetap kering dan lebih higienis. Budaya kering seperti ini memang sudah lama dianut oleh masyarakat Barat, antara lain bisa kita lihat dari penataan toilet di hotel dan pusat perbelanjaan yang selalu dijaga tetap kering. Pertama agar pengunjung tidak mudah tergelincir, kedua agar ceceran dari toilet tidak menetes di mana-mana.

Tags: ivlp amerika

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

Gratifikasi Natal dan Tahun Baru …

Mas Ukik | | 21 December 2014 | 10:01

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 10 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 11 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 12 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: