Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Cahaya Hati

tukang nonton film, betah nulis dan baca, suka sejarah, senang jalan-jalan, hobi jepret, cinta lingkungan, selengkapnya

Alah Bisa karena (Biasa) Terpaksa

OPINI | 09 July 2013 | 19:16 Dibaca: 225   Komentar: 0   1

Saya setuju, perbedaan mulainya bulan Ramadan tidak perlu dipertajam. Yang satu percaya ini dan yang lain percaya itu, ya tentu akan sulit untuk menampung berbagai kepercayaan ini dalam satu wadah yang sama. Menurut saya, mencari perbedaan itu, walau hanya tipis akan lebih mudah dari mencari persamaan. Apalagi dalam hal penentuan awal bulan yang kritis, antara wujudul hilal, rukyatul hilal, imkanur rukyat mabims dan rukyat global, itu semua bagi saya merupakan ilmu yang sulit. Karena itu ketika saya di Indonesia, saya ikuti apa yang diumumkan pemerintah dan sekarang di Jerman, saya ikuti pengumuman mesjid di kota setempat.

Bulan puasa adalah bulan masak plus plus bagi saya, dilihat secara positif adalah bulan kreatif tapi bila dilihat fakta sih sebetulnya lebih ke bulan terpaksa, terpaksa kreatif. Kenapa terpaksa kreatif ?? Karena saat bulan puasa biasanya, keinginan mencicipi hal-hal yang tidak terbayang sebelumnya malah bermunculan dengan hebat. Lihat iklan makanan tergiur, lihat foto kudapan tergiur dan lihat resep pun tergiur. Berhubung, di sini jauh dari sumber yang membuat tergiur ini, maka dapur pun terpaksa diobrak-abrik untuk mewujudkannya.

Kenikmatan tradisi, berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan memang di Indonesia tidak ada duanya. Selalu ada mesjid yang mengingatkan saatnya shalat, detik-detik menjelang buka pun, menjadi hal yang berkesan, terutama saat kumandang adzan dari televisi atau mesjid terdekat mulai terdengar, tanpa dikomando semua menuju meja yang sama. Dengan kolak atau es buah di tangan, hamdallah dan doa berbuka pun diucapkan bersahut-sahutan. Lahapan demi lahapan kudapan berbuka, yang sedari kultum sudah sering dilirik, satu demi satu membasahi tenggorokan.

Kenikmatan selanjutnya ketika sajadah digelar bersama dan qomat mulai didengungkan. Shalat berjamaah di bulan Ramadhan pun terasa lain, lebih nikmat. Apalagi bila makan besar dimulai, anak-anak terlihat tergesa ke meja makan dan sudah tidak sabar untuk melahap apa saja yang ada di meja makan. Kenikmatan bersama menjadi bernilai lebih.

Selain itu, yang membuat saya kangen adalah suasana kantor di Indonesia. Bila biasanya kantin di kantor pagi hari ramai dikunjungi, di bulan Ramadan musholalah yang terlihat menjadi lebih semarak oleh shalat berjamaah dan lantunan ayat suci. Dan tentu saja, yang paling menyenagkan adalah jam kerja yang lebih pendek.

Satu hal yang saya tidak suka adalah terkonsentrasinya pula macet di waktu-waktu menjelang dan saat berbuka. Kemacetan akut ini membuat saya kapok untuk memenuhi undangan buka bersama di luar. Pernah suatu hari saya memenuhi undangan buka bersama di sebuah restoran hotel bintang lima di pusat kota Jakarta. Betul-betul mimpi buruk …. kami sampai telat berbuka karena macet berat di sepanjang jalan menuju restoran itu dan di dalam restorannya pun ramai seperti pasar, setiap kali mau mengambil makanan antri panjang. Ketika pulang pun lagi-lagi simpul macet masih membelit jalan-jalan, sungguh membuat kapok. Setelah itu, dengan halus saya selalu menolak undangan berbuka.

Walaupun makanan tersaji di rumah lebih sederhana dan bila saya tidak sempat membuat yang segar-segar, bahkan makanan pembuka saya beli cepat dari tetangga, tapi kenikmatan berbuka dengan anak-anak lebih terasa nikmat. Nah … berhubung di Jerman, tetangga yang berjualan kudapan berbuka, kolak atau es buah tidak ada, ya terpaksa kreatif di dapur.

Untuk itulah, peribahasa “alah bisa karena biasa” dalam hal masak-memasak tidak terlalu tepat bagi saya, namun “alah bisa karena terpaksa” terasa lebih cocok, mirip peribahasa Jerman Not macht erfinderisch yang terjemahan langsungnya adalah “kondisi darurat membuat kreatif” alias “alah bisa karena terpaksa” hehe. Apalagi sekarang ini untuk terpaksa kreatif, tersedia semua resep di internet, sehingga mencoba dan berkreasi di dapur juga menjadi ajang pengisi puasa yang menyenangkan.

Mencoba resep baru, kenapa tidak …. saya pun bukan yang terbiasa masak, baik dulu maupun sekarang, tapi bila rasa ingin sudah meluap dan kondisi lingkungan juga memaksa ternyata gudeg Jogja, pempek Palembang, siomay dan mie kocok Bandung, rendang, bakpao, mendoan tempe tahu, buntil, martabak manis dan asin, combro, tiramisu bebas alkohol dan telur dll bahkan rainbow cake juga ternyata bisa terjadi tuh kalau terpaksa hehe …. apalagi sekarang tidak butuh punya buku resep karena segala jenis resep berserakan di internet, semua tinggal tingginya keinginan dan keterpaksaan hehe. Slurp slurp … Maju terus pantang mundur. Selamat mencoba resep-resep dan menunaikan ibadah puasa, ya. (ACJP)

13733720441225058781

dok pribadi

13733721001427249339

dok pribadi

1373372125578331701

dok pribadi

1373372171983826214

dok pribadi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 9 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 16 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 17 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 17 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: