Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Mobit Warsono Atmojo

Mendengarkan, Belajar, Mengajar, Menulis. Suka memerhatikan pendidikan, bahasa, budaya dan sosial. Mengajar di FKIP Universitas selengkapnya

Gobak Sodor, Hiburan Murah di Kampungku

OPINI | 09 July 2013 | 13:53 Dibaca: 314   Komentar: 4   2

Setiap orang punya cerita manis dan indah pada masa kecilnya. Masa-masa itu adalah masa emas, karena kita benar-benar dikondisikan dengan berbagai macam ide murni dan permainan yang tradisional. Masa itu adalah masa adu kreatifitas. Bagi kita yang kreatif, melihat, meniru dan mencoba untuk membuat menjadi proses indah maka akan bisa berbaur bersama dengan teman-teman sebaya.

Satu hal yang tak mungkin terlupakan adalah kebiasaan kita bermain permaian tradisional (kampung). Ada beberapa permainan tradisional yang sering saya dan teman-teman mainkan ketika itu. Permainan yang berbeda kadang kita mainkan di waktu yang berbeda pula. Sebenarnya tidak masalah memainkan jenis tertentu yang bukan waktu yang pas, tapi apabila waktunya kurang pas jadi nggak enak juga. Jadi kita main sesuai waktu, mood dan ketersediaan materi.

Jenis-jenis mainan yang sering saya mainkan bersama teman-teman di kampung (Wonogiri)  misalnya Gobak Sodor, Gamparan, Benthik, Egrang, Macanan, Tiga, Oncleng dan Plorotan di lereng jurang sungai. Dari jenis  permainan itu, ada yang dimainkan secara individu maupun kolektif. Individu misalnya satu lawan satu. Kolektif berarti paling tidak harus sama jumlahnya, seperti Gobak Sodor.

Permainan Gamparan, Benthik, Macanan, Tiga biasanya kami mainkan ketika sedang angon (menggembala) di oro-oro (tanah lapang). Sambil menunggu gembalaan (sapi, kerbau dan kambing) kami bermain ramai-ramai. Oncleng biasanya kami mainkan saat sedang ngarit (mencari rumput) untuk menunggu waktu pulang. Egrang kami mainkan pada sore hari saat tidak bal-balan (bermain bola). Permainan yang paling seru adalah Gobak Sodor. Mungkin jenis permainan ini juga tersebar di beberapa daerah hanya saja namanya yang berbeda.

Gobak Sodor itu permainan kolektif yang memerlukan kerja sama (kekompakan) yang baik antar anggota kelompok. Selain dimainkan secara kelompok Gobak Sodor juga diperlukan kelihaian, keberanian, strategi, pun kekuatan fisik. Pemain Gobak Sodor harus lihai memancing lawan agar “tertipu” oleh gerakan kita sehingga yang menang bisa menerobos garis yang dijaga ketat oleh yang kalah. Demikian juga yang sedang kalah harus lihai berstrategi agar bisa menangkap yang menang.

Saya dan kawan-kawan  biasanya memainkan permainan ini pada malam Minggu atau malam-malam saat sekolah libur bertempat di halaman yang agak luas. Halaman di kampung masih berwujut tanah, berarti kondisi tanah harus kering. Garis-garis hanya dibuat dengan mengucurkan air dengan kendi atau ketel. Karena permainan ini perlu penerangan, minimal sinar rembulan, biasanya kita bermain saat ada sinar bulan. Maklum ketika itu di kampungku belum ada cahaya listrik seperti saat ini. Sehingga Gobak Sodor adalah permainan yang selalu ditunggu-tunggu oleh teman-teman saya saat seperti itu.

Berbeda dengan anak-anak jaman sekarang atau kota, saat itu televisi masih hitam-putih dan masih jarang. Di kampungku hanya ada satu TV, dan saat muncul sinar bulan biasanya kami memilih untuk bermain Gobak Sodor.

Gobak Sodor tidak hanya dimainkan oleh anak-anak lelaki, tetapi juga perempuan. Suatu saat anak-anak perempuan juga ikut bergabung bermain, bahkan banyak orang-orang tua yang menonton permainan saya dan teman-teman hingga tengah malam. Ya, saya dan teman-teman saya sangat betah bermain Gobak Sodor, bahkan kadang hingga jam 12.00 malam atau bahkan lebih dari itu.

Gobak sodor bukan hanya menghibur tetapi juga menyehatkan kami, karena kami harus berlari dari kotak ke kotak yang lain, mengejar dan menangkap lawan-lawan bermain. Setelah permainan selesai kami semua berkeringat dan bahagia luar biasa. Maka, wajarlah orang-orang kampung itu badannya kuat-kuat dan sehat.

Maka tidak jarang, setelah selesai bermain, kami, para pemain (terutama yang laki-laki) menggelar tikar di tempat itu  dan tidur di tempat itu sampai pagi. Itulah indahnya bermain permainan tradisional. Kami benar-benar merasakan kebersamaan yang tak mungkin dapat kami lupakan hingga saat ini. Masa itu, dimana kebersamaan, kreatifitas, kerjasama, cinta budaya sendiri dan  kesederhanaan menjadi sebuah karakter keIndonesiaan yang patut dibanggakan dan diuri-uri (rawat) hingga saat ini.

Dalam menggalakkan Indonesia Travel sudah selayaknya pemerintah memerhatikan permainan-permainan kreatif itu sebagai media untuk memperkaya budaya bangsa di tengah-tengah gegap gempitanya permaian modern dan berbasis tehnologi seperti saat ini. Lagi, permainan-permainan itu akan menjadi objek yang menarik bagi para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Semoga permainan-permainan itu, dan jutaan permainan dari daerah lain akan mendapatkan tempat yang tepat kembali dan menjadi identitas keIndonesiian kita.

Hidup Indonesia!!!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Island Getaway ala Robinson Crusoe ke Nusa …

Ivani Christiani Is... | | 25 July 2014 | 14:32

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Rilis UNDP: Peringkat Pembangunan Manusia …

Kadir Ruslan | | 25 July 2014 | 15:10

Yuk Bikin Cincau Sendiri! …

Ahmad Imam Satriya | | 25 July 2014 | 15:03

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 5 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 9 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 10 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: