Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Gaganawati

Wanita Indonesia di Jerman, ibu rumah tangga, 3 anak; menanam kebaikan saja tidak cukup, teruslah selengkapnya

Tips Agar Anak Rajin Sikat Gigi

OPINI | 26 June 2013 | 15:17 Dibaca: 1026   Komentar: 11   11

Anak-anak kami teramat beruntung karena cara Jerman memperhatikan kesehatan gigi mereka sedari kecil, amatlah tinggi.

Berbeda dengan saat saya kanak-kanak dahulu. Selain belum ada tindakan dan peraturan seperti di Jerman, masyarakat kala itu masih belum begitu memperhatikan biji-biji putih didalam mulut ini.

Ternyata kempeng dan dot/botol bisa menyebabkan karies dan letak gigi yang tidak baik/benar pada anak. Antisipasinya, menyusui bayi hingga bisa makan dan minum sendiri dan mulai mengajari pentingnya kesehatan gigi.

Lalu, cara Jerman sudahlah bagus, ada lagi satu tips yang saya temukan untuk membuat mereka sangat merawat gigi … menggunakan sikat gigi elektrik!

1372233692451354765

Sikat gigi elektrik, manjur

***

Begini kebiasaan kami di Jerman, dalam merawat gigi anak-anak:

Pertama, peraturan untuk setidaknya sekali hingga dua kali setahun untuk mengecek kondisi gigi-geligi, amat membantu orang tua ekstra ketat memperhatikan anak-anak. Sekali lupa, pihak praktek dokter langganan yang memiliki data kami sekeluarga, akan segera menelpon. Bahkan mereka langsung memberikan tanggal Termin (jadwal). Padahal untuk membuat jadwal ini biasanya tidak mudah. Kalau kita telepon hari ini, minta besok atau minggu ini misalnya, belum tentu dikasih. “Maaf, penuh“. Bisa menunggu barang seminggu bahkan sebulan! Jadwal segera hanya jika sangat sakit/akut giginya. Untuk sekedar memeriksa, menambal, membersihkan … tidak demikian. Antri.

Kedua, pihak diknas bekerjasama dengan departemen kesehatan lewat dokter gigi setempat, datang secara rutin memeriksa anak-anak TK/SD. Disanalah mereka diberi penyuluhan tentang gigi, makanan dan minuman yang baik untuk gigi (banyak buah dan sayur, makanan yang lembut, ma-mi tidak memiliki zat pewarna) dan tentu saja … cara menyikat gigi secara baik dan benar (kiri-kanan, atas bawah, memutar, berkumur). Sebagai hadiah, setiap anak mendapatkan satu batang sikat gigi baru yang bergambar lucu.

13722338451319484624

Cara menyikat gigi yang baik dan benar

Pemberitahuan tentang sidak gigi kepada orang tua, biasa berupa selembar kertas kuning. Misalnya catatan bahwa si anak giginya berlubang, harus segera diantar ke dokter gigi untuk penanganan lebih lanjut. Atau gigi anak kuning, jauhkan dari makanan dan minuman berwarna dan seterusnya. Tanda tangan orang tua pada surat tersebut akan diberikan kembali kepada sekolah yang bersangkutan.

Ketiga, anak-anak TK dibiasakan meminum hanya air putih dari sekolah. Gembes atau botol minuman dari rumah dilarang dibawa. Kesan mendalam menempel di ingatan anak ragil, pernah sekali ia diperingatkan gurunya tidak boleh membawa botol minuman dari rumah. Selama dua tahun ini, justru ia yang memperingatkan saya bahwa tidak boleh dibekali. Ooo … Pihak TK takut bahwa isi didalamnya mengandung gula atau warna lain yang bisa mempengaruhi gigi. Memang sih, anak-anak pikir bahwa mereka masih bisa meminum yang manis dan berwarna (jus) jika berada di rumah. Tetapi tentu saja kebiasaan ini bagus terbiasa, lantaran beberapa anak TK ada yang dititipkan dari pagi sampai sore hari ketika orang tuanya pulang kerja baru diambil. Berarti seharian, hanya minum air putih (sesekali teh tanpa gula).

Sayangnya, beberapa balita masih disumbat dengan kempong atau dot. Meski ini agar membuat anak tenang, menjadikan anak kecanduan tanpanya. Semoga para guru TK bisa melepasnya.

Keempat, beberapa SD mewajibkan anak didiknya untuk sikat gigi setelah istirahat atau makan siang (jika sampai sore hari). Sikat gigi dan pasta gigi disediakan pemerintah. Misalnya ini dilakukan di SD Ottfried Preußler Schule di kota Balgheim. SD yang mendapat sokongan pemda ini patut menjadi proyek percontohan.

1372233749289649861

Gigi tanggal disimpan untuk peri gigi

Kelima, anak usia 5 tahunan keatas biasanya gigi susu akan tanggal. Tradisi menyimpannya dalam sebuah kotak kecil agar peri gigi bisa menemukan dan mengganti dengan yang baru secepatnya masih menjadi impian anak-anak Jerman. Mulai dari mertua saya, suami saya … budaya ini diteruskan ke anak-anak kami. Kalau di negeri kita kan dibuang ke atap/genting rumah kalau gigi tanggal atas. Kalau tanggal bawah dibuang ketanah. Kalau kebalik buangnya, ada anak yang takut gigi yang tumbuh salah. Hehe.

Keenam, anak-anak suka memakai pasta gigi yang berwarna dan berasa. Kalau perlu gambar bungkusnya yang menarik (hewan atau putri-putrian). Biasanya anak-anak suka yang rasa stroberi, merah jambu. Yang jeruk dan sitrus tidak begitu disuka. Baiklah, yang pedas untuk kakak sulung, ayah dan ibu saja.

Ketujuh, membiasakan gigi pada anak-anak kami sebelum kesekolah pada pagi hari dan nanti malam sebelum berangkat tidur. Untuk sehabis makan-minum yang manis belum terbiasa. Padahal ini berbahaya bisa mengundang bakteri dan menggali lubang didalam gigi. Lalu saya ada ide, mengajak ketiga anak (13, 7, 4 tahun) berbelanja untuk keperluan makan dan minum selama seminggu, sekaligus mencari sikat gigi elektrik. Mereka memilih sendiri warna dan gambarnya. Waaaa … agak mahal. Satu batang 10 €! Yaiy! Bagian atasnya yang mungil dan pendek bisa diganti yang baru kalau sikat sudah amburadul. Badannya, berumur lebih panjang dari sikat gigi biasa yang memenuhi sampah. Baterei beli yang bisa di-charge lagi. Lebih hemat.

Sempat diskusi dengan suami, akhirnya sepakat, tidak mengapa … toh ini untuk kesehatan gigi. Beli!

Walhasil, sejak itulah anak-anak rajin menggosok giginya usai makan coklat, biskuit, roti dan makanan ringan lainnya. Itupun tanpa disuruh. Untung saja mereka tahu bahwa kalau sudah tidak digunakan, tombol dimatikan agar tak boros baterei.

Nah … berhasil! Anak-anak kami semakin rajin gosok gigi, mandiri. Semoga kalau besar nanti giginya tidak seperti saya, jelek dan rusak. Tapi ya itu … sikat gigi bukan 2 kali sehari tapi 5-7 kali sehari. Sensasi getarannya mereka suka. Riwa-riwi ke kamar mandinya, terlalu sering. Arghhh … saya geleng kepala. Yo wis, lah, biar saja daripada malas lebih baik rajin. (G76)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 6 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 10 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 10 jam lalu

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 10 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 11 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 12 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: