Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ujang Ilun

Seorang WNI di arab saudi

Nasionalisme yang Tergadaikan…

REP | 25 June 2013 | 03:31 Dibaca: 149   Komentar: 3   2

Obrolan hangat di sore hari yang memang masih terasa panas, ya saat ini wilayah Arab Saudi memang sedang mengalami musim panas. Untuk wilayah jeddah suhu udara di sore hari selepas ashar bisa mencapai 38 derajat celcius. Selepas sholat ashar berjamaah di mesjid, saya menyapa salah seorang tetangga yang berkebangsaan Yaman. Biasa saya memanggil beliau dengan Ami Amir (paman Amir). “Assalamu’alaikum Ami, apa kabar.?” Tegur saya, “Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah baik, bagaimana dengan kamu.?” Jawab ami Amir. Kemudian saya jawab lalu sapaan itu berlanjut ke obrolan hangat yang menyertai perjalanan kami pulang ke rumah.

Ami Amir memang seorang arab yang berkebangsaan Yaman yang usianya sekitar 64 tahun, namun beliau mahir menggunakan bahasa Indonesia. Pada awalnya saya fikir beliau belajar dari istrinya yang mungkin orang Indonesia, atau belajar dari tetangga yang lain yang memang di sekitar tempat saya tinggal banyak orang Indonesia. Namun pada obrolan kali itu muncul penasaran saya dari mana beliau bisa berbahasa Indonesia. Lalu bertanyalah saya “darimana ami Amir bisa bahasa Indonesia.?” Dan beliau pun bercerita bahwa ternyata beliau awalnya adalah seorang WNI keturunan arab yang lahir dan besar di Indonesia tepatnya di Surabaya, beliau merantau ke Saudi Arabia sekitar umur 17 tahun. Alasannya tidak lain karena untuk mencari nafkah. Pada zaman itu beliau berangkat melalui jalur laut sebagai jamaah umroh, dan tanpa disertai dengan passport layaknya perjalanan antar Negara seperti sekarang ini.

Singkat cerita setelah beberapa tahun beliau tinggal di Arab Saudi lahir kebijakan bahwa semua orang yang ada di Saudi harus memiliki identitas (passport). Beliaupun segera datang ke KJRI untuk membuat paspor namun karena memmang penampilannya yang seperti arab juga tidak dilengkapi dengan dokumen2 yang menandakan bahwa beliau adalah orang Indonesia akhirnya beliau pun tertolak mendapatkan passport WNI. Dan akhirnya dengan terpaksa beliau datang ke Kantor Konsulat Yaman untuk membuat passport Yaman. Tanpa persyaratan yang menyulitkan beliau mendapatkan Passport sebagai warga Negara yaman. Padahal menurut beliau saat itu ingin sekali mendapatkan passport RI. Dan sejak saat itu ami Amir menjadi warga Negara yaman hingga kepada anak2nya. Namun penggunaan bahasa Indonesia beliau pergunakan sampai sekarang bahkan pada anak cucunya pun beliau ajarkan, makanya keluarga ami Amir jika menyapa saya selalu menggunakan bahasa Indonesia.

Mendengar cerita ami Amir saya jadi teringat dengan warga Negara Indonesia yang saat ini telah berjuang di KJRI untuk medapatkan passport atau SPLP, karena waktu amnesty/pengampunan yang di berikan oleh pemerintah arab Saudi tinggal dua minggu lagi. Mari kita doa kan mudah-mudahan semuanya berjalan dengan baik dan lancar.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 10 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 10 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 11 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 13 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: