Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Muhammad Fauzi Ahmad

Dou Mbojo yang kebetulan tinggal di Malang

B I M A

OPINI | 21 June 2013 | 13:55 Dibaca: 31   Komentar: 4   0

“Aku Tidak Bangga Terhadap Pemerintah yang Berkuasa di Tanah Bima,

Tapi Aku Sangat Bangga dan Bersyukur Lahir, Besar dan Menjadi Orang Berdarah Bima”

Bima, tanah yang membawa keajaiban, bertabur benih harapan bercampur nestapa. Tanah tandus nan kering, berbalut stepa dan sabana, dikelilingi gunung-gunung yang dulunya hijau tak bertuan, berdiri laksana pasak-pasak yang kokoh terhujam, pembawa mata air kehidupan bagi rakyat yang mendiaminya. Sekarang, gunung, bukit dan stepa serta sabana itu menguning, menguning mengikuti keringnya nalar, ide, gagasan yang tercermin dari penguasa-penguasa yang rakus kuasa. Tanah tandus nan kering, terhampar potensi ribuan ton beras, garam dan bawang, jutaan kilo ikan, dan sayur, pembawa berkah suci untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Tanah tandus nan kering, yang melahirkan manusia-manusia pejuang dan penghianat, pengabdi dan pendosa, bercampur baur laksana kopi dan gula terasa nikmat bila diseduh. Tanah yang melahirkan tokoh-toko besar yang mengharumkan dan mengerikan negeri ini. Ada yang menjadi juara qira`ah tingkat dunia, ada yang menjadi professor di universitas-universitas ternama, ada yang menjadi bupati terkaya melebihi kekayaan presiden di negeri ini, ada yang menjadi pimpinan partai politik berciri khas dakwah yang tersangkut korupsi mega skandal “sapi” pemberitaaannya selalu menjadi headline news di seluruh TV swasta nasional, ada yang menjadi pemberani pelempar granat pada Presiden Ir. Sukarno pada peristiwa Cikini dulu, dan ada juga yang menjadi Hakim di Mahkamah Konstitusi.

Sungguh lengkap generasi-generasi yang dikandung oleh “rahim tanah Bima”, melahirkan generasi yang baik-baik sekaligus juga generasi berkarakter jahat. Sekelumit penggal narasi diatas menjadi pertanda kita memiliki potensi dasar, keunggulan lokal yang bersumber dari Dana Mbojo. Untuk itu, kita harus bangga dilahirkan, dibesarkan dan menjadi darah Bima. Dan selanjutnya ada pada kita hak prerogatif untuk memilih, mau mengarungi jalan yang terbaik, atau mendaki jalan yang terkutuk. Mari membaca keadaan dan pengalaman……..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Supir Bus Indonesia di Arab Terancam Tak …

Rumahkayu | | 03 March 2015 | 12:21

Mengapa Siomay Krian Lebih Nikmat? …

Mawan Sidarta | | 03 March 2015 | 12:00

Fenomena Begal Motor, JK Salahkan Sistem …

Emnoer_dm70 | | 03 March 2015 | 16:21

One Room, dari Pondok Gede Mengadu Nasib di …

Tauhid Patria | | 03 March 2015 | 16:21

Menulis dengan Tangan yang Sakit …

Gatra Maulana | | 03 March 2015 | 14:58


TRENDING ARTICLES

Ahok Tidak Hadirkan Politik Lucu ke …

Imam Kodri | 4 jam lalu

Koh Ahok, Kasihanilah Mereka …

Choiron | 5 jam lalu

Sukhoi Melintas Rendah di Kawasan Malioboro …

Sigit Priyadi | 6 jam lalu

Beranikah Presiden RI Joko Widodo Ikuti …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

#PecatKudaTroyaKPK: Pegawai KPK Meradang …

Marius Gunawan | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: