Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Maman Suratman

Mahasiswa Filsafat Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Gemar baca-tulis-diskusi, apalagi sambil nongkrong selengkapnya

Waria Juga Manusia!

OPINI | 15 June 2013 | 02:01 Dibaca: 482   Komentar: 0   0

Kemanusiaan yang adil dan beradab,” begitulah kutipan sila kedua Pancasila sebagai dasar hukum utama bangsa ini. Hal ini menegaskan bahwa siapapun warga Negara Indonesia, entah dari golongan mana ia berasal, dari suku bangsa mana ia terlahir, warna kulit apa yang ia miliki, jenis kelaminnya yang bagaimana, dan semua yang menyangkut identitas personal atau kelompok suatu bangsa, termasuk juga di dalamnya jenis gender, bukanlah menjadi penentu atas layak atau tidaknya memberikan keadilan dan keberadaban, semua sama sebagai warga Negara Indonesia.

Penegasan yang serupa juga telah tercantum dalam Pembukaan UUD 45 bahwakemerdekaan itu ialah hak segala bangsa….dst, kurang lebih seperti itu. Dari ranah ini bisa kita telaah bahwa hak dan kewajiban yang seharusnya dirangkul seadil-adil mungkin oleh warga Negara, bukanlah milik perorangan ataupun kelompok-kelompok tertentu, melainkan milik warga Negara tanpa terkecuali.

Hasil kunjungan ke Pondok Pesantren Khusus Waria Jogjakarta baru-baru ini (04/06), memberikan banyak pengalaman yang bisa kita tarik sebagai salah satu bahan ajar guna mengungkap keragaman bangsa, entah dari perspektif multikultaralisme, pluralisme, dan juga gender. Selama ini, di mata masyarakat, para waria selalu dipandang sebagai “barang yang menjijikkan”. Lantaran prilakunya yang dianggap meresahkan warga setempat – entah prilaku yang mana yang dimaksudkan – kerap dan bahkan rentan terhadap tindakan diskriminatif warga setempat; pelabelan, pengucilan, bahkan kekerasan menjadi lumrah dalam kehidupan mereka yang dianggap sedikit “menyimpang”.

Dalam kunjungan tersebut, Bunda Mariani, pendiri Ponpes Waria menuturkan nada pengharapan yang sejatinya tidak untuk diharapkan mengingat eksistensinya sama sebagai warga Negara: “Waria juga manusia, punya hak dan kewajiban yang sama sebagai warga Negara.” Yang lebih mengesankan bahwa ia dan teman-teman waria lainnya bisa menerima kenyataan pahit yang mereka alami; diskriminasi: “Kami bisa menerima kenyataan ini bahwa kami memang “berbeda”, hal itu bukan berarti kami menyimpang,” demikian ia mempertegas.

Ironis memang menganggap mereka sebagai “sampah” masyarakat. Mengapa tidak, apa yang mereka tampilkan meskipun nampak sebagai hal yang berbeda di mata masyarakat, toh mereka juga manusia, butuh kasih sayang, cinta, kehidupan yang layak, bahkan punya hak dan kewajiban yang sama sebagai warga Negara pada umumnya.

Satu hal yang selama ini tidak kita ketahui, begitu terang adanya dari apa yang ia nyatakan: “Hidup ini memang pilihan, bukan berarti menjadi waria seperti ini adalah pilihan jua.” “Menjadi waria bukanlah pilihan kami, lebih merupakan pemberian dari Tuhan, maka hendaklah kita syukuri.”.

Patutlah kiranya kita menyadari bahwa semua manusia sama di hadapan Tuhannya. Hanya taqwahlah yang membedakan ia dengan yang lainnya. Ikhtiar mendirikan Ponpes Khusus Waria tersebut sebagai upaya mendekatkan diri pada Sang Pencipta. “Sebagai manusia, kami tetap berusaha untuk bertaqwa, mendirikan Ponpes sebagai sarana pendekatan kepada-Nya,” tuturnya.

Hasrat Berpolitik

Sebagai warga Negara, tentulah mereka juga menginginkan kesejahteraan untuk bangsanya. Mempertahankan kemerdekaan, bahkan hasratnya untuk ikut serta dan terlibat dalam setiap pengambilan kebijakan menyangkut umat dan bangsa negeri ini. “Hanya kesadaran politik yang bisa membangun bangsa ini ke arah yang selayaknya,” ujar Marlin salah seorang anggota Ponpes Khusus Waria ini. “Politik bukan sekadar ajang merebut kekuasaan, melainkan lebih kepada bagaimana mensejahterakan kehidupan seluruh rakyat Indonesia,” sambungnya. Ya, politik itu seni, seni bagaimana mengubah bangsa ini dari keterpurukan menjadi bangsa yang beradab. Menghargai antar sesama, itu yang terpenting.

Dengan alasan tersebutlah, antusias berpolitik menjadi kuat di kalangan teman-teman waria, terkhusus bagi mereka yang memiliki kesadaran akal hal itu. Marlin juga menegaskan bahwa pentingnya kesadaran dan menyadarkan teman-teman waria akan politik, menjadi salah satu dari sekian agenda utama yang kerap dilakukan dalam agenda-agenda Ponpes selain berupaya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. “Lantaran saat ini kita hidup di dunia, menjadi kewajiban kita untuk memikirkan hal-hal yang duniawi juga, apalagi kita sadar akan kekhalifaan kita di dunia ini,” tutur Marlin meyakinkan. Hidup di dunia bukan semata-mata hidup untuk mati, lalu mati untuk hidup kembali di akhirat kelak. Sebagai tempat kediaman sementara, kewajiban kita untuk mengaturnya adalah sebuah keniscayaan. Apa yang kita telah torehkan di dunia ini, patut kiranya kita sadari bahwa ia merupakan cerminan hidup di akhirat kelak.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

Pérouges, Kota Abad Pertengahan nan Cantik …

Angganabila | | 19 December 2014 | 19:54

Bintang dan Tumor …

Iyungkasa | | 19 December 2014 | 21:29

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Singapura Menang Tanpa Perang Melawan …

Mas Wahyu | 6 jam lalu

RUU MD3 & Surat Hamdan Zoelfa …

Cindelaras 29 | 9 jam lalu

Potong Generasi ala Timnas Vietnam Usai …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Penyebutan “Video Amatir” Adalah …

Arief Firhanusa | 14 jam lalu

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: