Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Ismail Elfash

orang biasa yang sedang belajar menulis, mengungkapkan isi hati dan sekedar berbagi

Kenapa Aku Masih Begini, di Sini?

REP | 15 June 2013 | 00:02 Dibaca: 228   Komentar: 0   1

Hidup sesekali harus menengok pada masa lalu. Sebab walau bagaimanapun masa kini adalah rangkaian perjalanan yang dimulai pada masa lalu. Dan masa kini, seiring berjalannya waktu akan menjadi masa lalu. Begitu seterusnya berulang.

Masa laluku yang indah, yang paling berkesan adalah saat-saat usia sekolah MAN (setingkat SMA). Aku sekolah sekaligus mondok, di pesantren Darussalam, Ciamis-Jawa Barat. Disinilah pertama kali aku menjauh dari orang tua. Hidup mandiri, belajar nyuci sendiri, yang sebelumnya aku tak pernah dan tak bisa nyuci sendiri. Aku menjalani kehidupan di pondok dengan pasrah, ikhlas dan dibeta-betahin saja. Namun lama-kelamaan menjadi betah beneran, kerasan dan “ogah” pulang.

Disinilah aku mengenal kawan dari berbagai daerah di tanah air. Ada yang dari NTT, Jakarta, Banten, Kalimantan dan daerah-daerah lainnya. Gak aneh, kawan yang dari Ciamis, Tasik, Kuningan, Cirebon, Bandung karena emang berada tidak terlalu jauh dari lokasi Pondokku, sehingga culture dan nature tidak berbeda alias relative sama.

Pesantren Darussalam, adalah pesantren modern yang motonya menjadikan muslim yang moderat, mukmin yang demokrat dan muhsin yang diplomat. Disinilah aku belajar tentang ke-Islaman dengan pemahaman yang moderat, belajar kitab-kitab kuning yang tidak harus tamat dibaca perhalaman, belajar berorganisasi, belajar bahasa Arab-Inggris, belajar kepemimpinan dan belajar banyak hal dari banyak orang dan banyak guru. Aku melakoninya selama 3 tahun dengan penuh kebahagiaan dan sangat terasa betapa disini dapat mengembangkan diri dan potensi diri.

Aku kenal dengan banyak orang. Ada kakak kelas, teman sekelas, tetangga kelas, maupun adik kelas. Aku sekolah di MAN, sementara tetanggaku ada MAKN dan MAKD. Ada juga teman-teman yang lebih kecil, anak-anak MTs, maupun MI, atau ada teman senior yang kuliah di IAID. Jenjang pendidikan di Pesantren Darussalam sangatlah lengkap; dari TK sampai Perguruan Tinggi. Santrinya lebih dari 1000 orang.

Disinilah aku belajar organisasi dan belajar menjadi pemimpin. Aku sempat menjadi ketua PMR pengurus Pondok, pembimbing asrama, dan anggota pramuka. Hal inilah yang membentuk kepribadianku, dan tak akan pernah terlupakan sampai kapanpun. Terima kasih Darusaalamku, nyiur melambai, ranah damai.

Setelah lulus dari MAN Darussalam, aku melanjutkan kuliah ke UIN Jakarta (dulu IAIN). Aku mengambil Fakultas Tarbiyah, jurusan Bahasa Arab. Sebuah pilihan yang harus dibayar mahal, karena jujur, aku tidak suka Bahasa Arab. Tapi entah kenapa aku “terlempar” ke sini. Aku merasa tersesat ke jalan yang benar.

Suka duka kuliah di sini, merupakan babak baru kehidupan di kota metropolitan. Masih teringat dengan jelas ketika Ibu-Bapakku “berantem” gara-gara keinginanku untuk kuliah. Bapakku dengan keras melarang, dengan alasan tidak sanggup membiayainyi. Sementara Ibuku walau berat hati, membolehkannya tapi tersirat kebingungan dari mana biayanya. Di hadapan kedua orang tuaku yang sedang bingung, aku memutuskan untuk kuliah dengan membiayai sendiri. Caranya? Aku akan berdagang di pasar, di sela-sela waktu kuliah kosong.

Di Pasar Kebayoran Lama lah, aku mengadu nasib, membiayai kuliahku. Aku berjualan kaki lima di sini. Atau dikala sepi aku berdagang keliling, pagi-pagi sebelum sholat Subuh ke pasar-pasar sayur di Jakarta, Tangerang, Bekasi dan Bogor. Disinilah kampusku untuk belajar entrepreneurship, mengubah keadaan dari tidak berdaya menjadi berdaya. 7 tahun lamanya aku mengadu nasib di sini. Walau aku tidak kesampaian menjadi pedagang hebat yang mempunyai banyak toko dan beromzet  jutaan, namun disinilah aku mendapatkan keberanian, pergaulan, jiwa bisnis, watak pengusaha, dan mengasah insting wirausaha.

Hingga akhirnya kuliahpun lulus. Aku bangga menyandang gelar S.Pd.I. Hasil perjuangan dan pengorbanku sangatlah berati. Kini, aku adalah seorang calon guru, syukur-syukur bisa menjadi guru PNS. Karena itulah harapan kedua orang tuaku.

Sesaat setelah lulus kuliah, aku masih berjualan di pasar. Sambil mencari-cari peluang kerja, siapa tahu ada kesempatan yang lebih baik. Ya, akhirnya aku berlabuh di sebuah SD sekitar Bintaro. Namanya SDN Jurangmangu Timur I, Pondok Aren. Aku mengajar di kelas II. Selain sebagai guru SD, aku pun ngajar di kuliahan kelas jauh, hari Sabtu dan Minggu. Dirumah, bersama istri aku mengajarkan ngaji, dan baca tulis pada anak-anak tetangga sekitar. Selain itu aku mengikuti teman, bisnis komputer. Ternyata naluri bisnisku lebih kuat daripada naluri mengajarku. Sering aku lebih mengutamakan bisnis, daripada mengajar. Namun, suatu ketika ketemulah antara naluri bisnis dan mengajarku. Ketika aku mengisi komputer untuk lab sekolahku, aku yang punya dan aku pula yang mengajarnya. Dan, bayarannya lebih besar dari hasil sewa komputer daripada gaji bulanaan mengajar yang hanya Rp 300.000 waktu itu.

Sebagai guru muda yang baru lulus kuliah keguruan, aku masih idealis. Aku benci dengan sekolahku yang sistemnya amburadul. Perang batin antara idealis dan realitas,  membuat aku tidak nyaman, gelisah, dan marah. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar, tanpa menghiraukan saran teman-teman guru yang menyayangkan akan nasibku di masa yang akan datang. Harapan untuk menjadi PNS sirna. Namun dengan emosional aku bertekad; kalau mau sekolah bagus, sistemnya bagus, hasilnya bagus, gajinya bagus, aku harus punya sekolah sendiri yang bagus.

Akhirnya aku terpelanting lagi ke jalan wirausaha. Yeah, aku berbisnis lagi. Aku lupakan dunia mengajar dan harapan menjadi PNS. Aku tidak suka mengajar, tapi aku suka bisnis pendidikan. Sebuah bisnis yang menjanjikan dan sebuah cara untuk menggapai kekayaan dan kesuksesan.

Kini aku mempunyai bisnis pendidikan. Aku punya TK, Bimbel, Privat dan kursus-kursus lainnya. Aku menemukan jalan lehidupan yang penuh kebahagiaan. Dan aku yakin inilah passion ku. Inilah jalan hidupku. Ke depan aku akan membangun SD, SMP dan SMA. Aku ingin menjadi sebaik-baiknya manusia; bermanfaat bagi orang lain.

Tahun 2003 aku lulus kuliah, tahun 2005 aku menikah. Apabila tonggak kehidupan dihitung dan diukur dari sejak menikah, berarti aku sudah menjalankan usaha selama 8 tahun. Ya, 8 tahun yang mengharubirukan, penuh onak dan duri, tidak semua orang sanggup meniti jalan ini. Namun, jujur kuakui bahwa usahaku belum besar, aku belum puas dengan pencapaianku selama ini. Aku merasa bahwa baru 2 tahun belakangan inilah aku fokus bisnis pendidikan, aku membuang bisnis-bisnis lain yang bukan inti. Disinilah letak kesalahanku, namun inilah jalan taqdirku. Fokus, fokus dan fokus, seharusnya dari dulu itu yang kulakukan. Buat apa punya banyak bisnis namun kecil-kecil, lebih baik punya satu bisnis tapi besar dan beranak-pinak. Alhamdulillah Ya Alloh, Engkau menunjukkan jalan ini. Aku berjanji akan mendalam sampai ahli bidang ini; bisnis pendidikan.

Ya, kini jabatanku sebagi direktur di CV sendiri, dan kepala sekolah di sekolah sendiri. Aku berprinsip; “lebih baik jadi kepala kecil daripada menjadi buntut besar”. Tapi aku harus menjadi “kepala besar” yang tidak “besar kepala”

=======================================================================

Melalui FB, aku menemukan kembali permata yang hilang. Dialah teman-temanku semasa sekolah dan  kuliah. Aku dapat merajut kembali kenangan lama, mengingat memori akan sebuah kenangan di masa lampau. Kini aku dapat bersilaturrahmi tanpa jarak dan waktu. Mengetahui rimba teman-teman yang pernah satu kelas, satu asrama dan satu kost-an.

Ingatan lama bersemi kembali. Tentang teman yang kurang pintar, tentang teman yang menjadi anak buah, tentang teman yang selalu curhat, tentang teman yang galak di Pramuka dan Paskibra, tentang teman yang hapal Qur’an, tentang teman yang tukang mabok, tentang teman yang pernah menjadi “mantan”, tentang teman yang menikah dengan teman kelas, dan masih banyak lainnya. Semuanya terungkap kembali berkat teknologi yang bernama Facebook, Twitter, Blog dan lain sebagainya.

Sungguh ada rasa haru, kecewa, marah dan menyesal dengan nasib diri dibanding teman-teman.  Saya bangga sekaligus iri dengan nasib teman-teman yang lebih baik. Ada Kang Muhtadi HS yang sudah menjadi Jaksa, ada Kang Bogel yang menjadi Pengacara, ada Anshori yang menjadi direktur perusahaan batu bara di Kalimantan, dan masih banyak teman yang menjadi PNS di berbagai intansi. Bahkan banyak pula yang menjadi penghulu di berbagai daerah.

Ada juga Kang Dede Ahmad Permana yang kuliah S2 di Mesir dan sekarang lanjut S3 di Universitas Jituna Tunisia. Itu semua gratis berkat beasiswa. Beliau sudah menulis 2 buku, best seller, nangkring di Gramedia. Ada juga yang tidak disangka-sangka, anak Kuningan adik kelas, yang kritis dan tukang demo, dialah Zezen Zaenal Mutaqin. Ternyata dia sudah menjadi orang hebat, bisa melanglang buana ke belahan dunia tanpa dana. Dia kuliah di UIN kostnya depan kostan ku. Ternyata dia dapat beasiswa S2 di Universitas Melbourne-Australia dan Universitas Utrech-Belanda. Kini, dia menjadi young lecturer di almamaternya UIN Jakarta.

Tanpa terasa, bulir-bulir bening mengumpal di pelupuk mata, lalu mengalir membasahi pipi.  Dulu kita pernah bersama, tapi kenapa nasib kita, kini jauh berbeda. Saya akui, bahwa nasib saya berada di bawah teman-teman. Namun saya tetap bersyukur, telah mengenal anda, dan menjadi teman anda. Anda adalah   tolok ukur kesuksesan yang harus saya raih. Bagi anda itulah jalan terbaik anda, dan bagi saya inilah jalan terbaik saya. Saya harus bisa melalui jalan saya, menjadi seperti teman-teman, bahkan harus lebih sukses dari teman-teman.

Alhamdulillah, kita tetap berteman berbagi informasi dan mengabarkan posisi. Saling men support, saling mendoakan dan saling berbagi. Tanpa harus merasa minder, namun mengolah emosi kekalahan menjadi amunisi semangat untuk kerja keras, dan memacu potensi,  mengejar nasib memperbaiki dari. Kesuksesan adalah milik semua, namun dengan target akan memperjelas dan mempercepat sampai pada tujuan.

Rasa kagum pada tulisan dan buku yang telah ditulis oleh teman-teman menjadi motifasi untuk terus menulis, berbagi ilmu dan pengalaman, menyebarkan hikmah dari sebuah kejadian. Dan saya pun HARUS MENULIS BUKU. Wajib hukumnya.

Aku berjanji pada diri sekaligus menjadi resolusi bahwa mulai  September tahun ini, aku akan menantang diri, mengejar target mencapai kesuksesan. Semoga Alloh SWT meridhoi, memberi kemudahan dan senantiasa mengiringi setiap langkah kaki. Amiiiiin.

Aku yakin, tahun depan tidak seperti tahun ini; “Masih disini dan bagini. Tapi, sudah begitu dan disitu”

Salam Perjuangan

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 14 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 21 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 22 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 22 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 23 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: