Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Cara Membuka Pintu Tanpa Kunci

OPINI | 14 June 2013 | 19:45 Dibaca: 1337   Komentar: 23   19

Pernahkah Kompasianer kehilangan kunci pintu rumah atau kantor ? Sedih, resah dan panik tentu. Saya pernah mengalaminya. Kejadiannya kemarin. Sehabis mengajar di bimbel kota sebelah dan pulang kerumah, saya terburu-buru menyiapkan makan malam. Saya senang menjadwal rutinitas anak-anak. Makan malam, pukul 18.00 teng ! Saking kesikutnya (kesusu), kunci di kaos terjatuh.

Setengah jam kemudian, saya tak bisa menemukannya lagi. Perasaan sudah saya ambil dan taruh di meja. Atau ada yang mengambil ? Usai menidurkan anak-anak pukul 20.00, saya mencari lagi. Tidak juga ketemu ! Huuuuuh.

Ternyata, pagi ini, Jumat, 10 Juni 2013, suami saya telah berhasil membukanya. Ohhhh … tukang kunci dadakan itu mencari tahu di youtube « Bagaimana cara membuka pintu tanpa kunci dengan gagang atau telinga ember ». That’s what husband for ….

1371213724384955394

Kunci buatan dari gagang ember (blandrekan)

Mengapa ibu mengunci gudang makanan ?

Hari ini, usai membantu program Afrika selama dua jam di SD setempat, saya ikut suami ke pameran alat kedokteran di pusat kota. Satu jam kemudian, kami ke alun-alun kota. Ada Wochenmarkt disana, banyak penjual buah, sayuran dan bahan makanan bio lainnya disana.

Disana, kami bertemu kompasianer Eberle dan kompasianer Cici (dan tentunya mbak Anik dan si kembar). Mereka menanyakan mengapa pesan tidak dibalas segera, kemarin. Saya jelaskan tentang kehilangan kunci, sedang bingung. « Ohhhh … sudah jadi nenek-nenek, lupa ! » seru mereka ini.

Arggghhh … barangkali memang saya sudah mulai menua.

Setiba dirumah. Saya cari lagi kunci dan mengingat detik-detik terakhir saya mengunci Speisekammer alias gudang makanan. Warung kecil itu memang sengaja saya kunci. Pertama agar suami saya diet (hehe), kedua agar anak-anak tidak sembarangan memakan coklat, gula-gula, snack (sebelum waktu 3 kali makan/hari) dan makanan-minuman yang memang bukan konsumsi anak-anak (alkohol/soda/pedas).

Suami saya mengatakan bahwa saya mirip ayahnya, suka mengunci semua pintu demi keamanan. Termasuk warung rumahan yang dimiliki setiap orang Jerman (Speisekammer) ini.

Senang bahwa anak-anak bisa menerima aturan terkuncinya gudang setiap hari. Awalnya susah tapi setelah mengetahui alasan dan manfaatnya, mereka mengikuti. Saya tak suka kalau waktu makan mereka sudah kekenyangan dari mengambil permen atau snack dari gudang. Atau ketika mereka memakan coklat atau chips, bungkusnya kosong tapi berada di dalam Speisekammer ! Untung di Jerman semut hanya mengerumuni remahan makanan/minuman jatuh pada musim yang panas sekali. Mungkin kalau musim dingin, sungut-e pilek.

Cara membuka pintu tanpa kunci

Nah karena sudah sedari kemarin malam sampai tadi pagi pukul 10.00 pintu gudang makanan/minuman tidak bisa dibuka. Suami saya sudah mencari cara membukanya tanpa memanggil tukang kunci yang ada dipusat pertokoan di kota. Iapun mencari di youtube. Haha … apa sih yang tidak mungkin dari dunia maya?

Disana ada video bagaimana cara membuka pintu yang kuncinya tidak ketemu atau hilang. Yakni, dengan memakai gagang metal dari ember plastik atau aluminium. Salah satu ujungnya ditekuk sebagai ruang tangan untuk memegangnya, saat memasukkan ujung yang lain didalam lubang kunci.

1371213669141166980

Gagang dari telinga ember seng

Setelah diputar-putar, pintu benar-benar terbuka. Arghhhh … suami saya bakat jadi pencongkel atau tukang kuncikah???? Haha … yang penting gudang makanan/minuman kami sudah bisa terbuka lagi.

Cara lain adalah dengan mengaitkan gagang metal panjang diantara pintu dan kerangka pintu untuk menekan tonjolan masuk kedalam tak ubahnya kunci yang memutarnya.

“Horeeeeeee … kita tidak akan kelaparan“ Seru si ragil. Hushhhhh, ya enggak lah, Ndhukkk … Mosok kelaparan. Wong di kulkas dapur masih banyak makanan yang bisa diolah untuk sehari-hari sampai seminggu.

***

Saya ingat film-film Hollywood cara detektif atau bandit membuka pintu dengan kartu atau hanya satu batang metal. Saya kira itu fantasi. Setelah mengalami hari ini, saya jadi mengangguk. Aneh tapi nyata; membuka sebuah pintu tanpa kunci.

OK. Jika Kompasianer sedang terkena musibah seperti saya (kehilangan kunci baik di kantor atau rumah, dengan catatan pintu adalah model klasik bukan modern), cobalah mencari gagang metal ember dan ditekuk salah satu ujungnya. Untuk lebih lanjut silahkan mencari linknya di internet (waktu itu suami saya mencari yang versi Jerman dengan kata kunci Türen=pintu, ohne= tanpa, Schlüssel=kunci, öffnen=membuka).

Pesan saya, jangan diajarkan ke anak-anak kecil karena saya khawatir akan dipergunakan tidak sebagaimana mestinya. Ini hanya sebuah emergency care ala rumahan. (G76).

P.s: Dan pagi ini, ingatan sayapun berangsur-angsur kembali, bahwa kunci yang jatuh itu … tidak saya ambil langsung saking repotnya mengurusi makanan dan anak-anak. Saya merogoh bawah kulkas yang sempit dengan hati-hati takut kesetrum. Ada yang nyangkut. Ooooalah .. kamu disana, tho, kunciiiiiiii! Alhamdulillah.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening …

Dhanang Dhave | | 24 April 2014 | 14:57

Uniknya Gorila Bule di Pusat Primata …

Dzulfikar | | 24 April 2014 | 14:49

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Arloji Sang Jenderal dan Si Putri …

Subagyo | | 24 April 2014 | 09:52

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 8 jam lalu

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 11 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 15 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 16 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: