Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Mari kita Menyambut Bulan Ramadhan

OPINI | 10 June 2013 | 01:52 Dibaca: 301   Komentar: 0   0

Subhanallah Bulan ramadhan sebentar lagi akan segera datang, marilah kita persiapkan diri untuk menyambutbulan yang suci dan bulan yang penuh rahmat. Di negara kita Indonesia merupakan negara yang mayoritas beragama islam, tentu kita semua sangat tidak sabar untuk segera menyambut bulan yang penuh barokah. Penantian bukan berarti hanya tinggal diam, menunggu dan berpangku tangan. Penantian ramadhan harus diiringi dengan berbagai persiapan menyambut bulan suci ramadhan yang mulia ini. Bayangkan, para generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini. Mereka berdo’a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah swt. Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.

Bagaimana menyambut bulan Ramadhan?

Umat Muslim di seluruh dunia mulai bersiap menghadapi bulan ramadhan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Persiapan sejatinya berbentuk mental dan ketakwaan, disamping itu Ramadhan memberikan peluang usaha baru bagi para sebagian orang juga membuat kebanyakan orang semakin konsumtif. Bulan Ramadhan identik dengan jajanan luar biasa, bisa di bedakan bila sebelum bulan ramadhan jumlah penjaja makanan tidak terlalu banyak, namun memasuki bulan ramadhan rata-rata di setiap sisi jalanan di Ibu Kota serta di beberapa daerah lainnya juga dipenuhi oleh penjaja makanan dadakan. Mulai dari yang hanya lapak sederhana sampai dengan kios-kios baru dibuka. Makanannya pun variatif, rata-rata menu buka puasa di jejer di pinggir jalan, ini sangat memanjakan para pekerja yang memang pulang dari tempat kerjanya di jam empat sore. Jangan khawatir kehabisan menu, jika ramadhan tiba bisa dipastikan sebagian besar ruas jalan berubah jadi ajang wisata kuliner, bagaimana tidak mulai dari kolak, es sampai menu utama berbahan nasi siap sedia mulai dari jam tiga sore. Tapi jangan ditanya mengenai kemacetan, memakai badan jalan dan satu ruas untuk parkir kendaraan sudah sangat cukup membuat Jakarta macet. Jadi selain pulang lebih telat, siapkan kocek lebih dalam karena harga-harga jajanan itu cukup variatif, tergantung lokasi dan menu yang disajikan.

Tidak hanya soal menu makanan di bulan ramadhan yang sangat variatif, di negara kita ini dalam memasuki bulan ramadhan, ada kebiasaan yang mungkin sudah dipermanenkan atau dibudayakan oleh masyarakat, dimana ketika bulan puasa tiba, hal ini seakan tidak bisa lepas, yaitu kebiasaan masyarakat memasuki atau menjelang ramadhan. Apa kebiasaan itu? Tentu bukan rahasia lagi bagi kita, terlebih lagi bagi kaum ibu atau orang yang sudah berumah tangga.

Kebiasaan – kebiasaan yang sering dilakukan salah satunya adalah meronavasi rumah, baik bagian luar, bagian alam atau sekedar mengganti warna cat yang sudah pudar, sebenarnya hal ini tidak hanya pada bulan ramadhan saja, tetapi umumnya hal ini terjadi ketika bulan ramadhan tiba, dan ini terus terjadi sehingga dianggap sebuah kewajiban mutlak, sehingga hakikat puasa yang sedianya menghemat malah terjadi pemborosan.

Selain merenovasi rumah dan isinya, tentu tidak dapat di pungkiri lagi ada hal yang tidak dapat di tinggalkan yaitu membeli baju lebaran, tidak sedikit para suami harus mengorbankan banyak isi ATMnya. Banyak anak-anak menangis beli ini beli itu, alasannya adalah dipakai dihari lebaran, biar dilihat teman pakaiannya tidak up to date, akibatnya banyak kaum ayah menipis kantongnya dan membengkak dadanya, karena kalau tidak dituruti anak pasti berontak belum lagi istri yang kalau kemauannya tidak dituruti ngambeknya makin menjadi, semoga tidak semua begitu ya?

Apapun dinamika selama bulan ramadhan, hendaknya kita saling memperdalam iman dan ketakwaan kita. Setiap hari dalam bulan ramadhan adalah rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka. So Jangan sia – siakan bulan ramadhan ini..:) Semoga Allah swt. memanjangkan umur kita sehingga berjumpa dengan Ramadhan. Dan selamat meraih kebaikan-kebaikannya. Amin ya Rabbal’alamin.

Marhaban ya Ramadhan!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 5 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 8 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 9 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: