Catatan

Yuliana Aghata

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman

  |  

Kirim Pesan

Pokoknya menulis!, salah hurup, titik, koma dan kata biarlah. yang penting replexy jiwa dan otak. Di larang mencuri tulisan saya tanpa mencantumkan sumbernya, kalau tidak ingin kena denda yang sangat besar

Bapak-Bapak Berperan Sebagai Ibu

REP | 10 June 2013 | 14:39 Dibaca: 305   6

http://www.wiener-online.at

Kebiasaan suka mempelajari adat bangsa setempat ini memang mengasyikan,  di Belanda saya sering menyaksikan para pria atau bapa-bapak yang kebanyakan menurut pengamatan saya sesuai TkP. alias tempat kejadian perkara yakni menyimpulkan kalau bapak-bapak di Belanda lebih care dan perhatian di banding para emak-emaknya kepada anak-anaknya.

Contoh yang menyertai kesimpulan di atas adalah ketika saya menghadiri festa ulang tahun atau lainnya maka yang sibuk mengawasi anaknya yang sedang nakal-nakalnya bergerak ke sana ke mari atau ketika memasuki usia puber adalah para bapak tadi, juga ketika mau tidur kebiasaan yang membacakan buku sebelum tidur adalah bapak-bapak. begitu juga di kolam renang saya keraf menemukan bapak-bapak yang mengajak anaknya berenang walaupun ada juga ibu-ibu malah membawa dua balita sekligus, ketika ke pos yandu bapak-bapak yang menyertai anaknya mengajak cek ini itupun banyak di temui di pos yandu.

Di Belanda malah ketika ada  beberapa kasus perceraian yang kemudian pembagian hak asuh anak malah kebanyakan yang saya tau mereka mengikuti bapaknya walau anaknya sampai tiga atau empat sekaipun. yang lebih tragis lagi banyak anak-anak ketika perceraian terjadi  anak anak ikut ayah dan tak jarang antipati kepada emaknya. duh…duh dunia sudah bolak balik.

Kejadian ini tentu saja untuk saya menjadi istimewa mengingat di tanah air kalau urusan anak dan apalagi terjadi perceraian maka pihak ibulah yang akan ketiban bebannya. memang ada segilintir orang yang di asuh pihak ayah tapi kebanyakan ibu yang mempunyai tugas terbesar dalam pola asuh sang anak dan banyak sekali kasus kalau bapak-bapak itu lepas tangan dan tak mau tau lagi  dalam pola asuh ataupun biaya berupa materi untuk si anak tersebut.

melihat kebiasaan bapak-bapak di sini Belanda yang lebih perhatian kepada anaknya selain mencari nafkah, malah kalau saya perhatikan di sebuah festa itu para bapak sibuk mengejar-ngejar anaknya supaya tidak terjatuh. semenetara para  nyonya sibuk rumpi-rumpi dengan sesama temannya. saya pun mendapatkan suami walaupun rumpunAsia tapi beruntutng mempunyai kebiasaan yang tak berbeda dan anak-anak lebih senang kalau  bapaknya mengajaknya jalan-jalan ke toko mainan dan mereka asik-asik saja kalau di tinggal bersama bapaknya padahal mereka masih kecil-kecil. apalagi kelebihan membeli ini itu di toko mainan karena kalau urusan yang satu ini sepertinya di mana-mana sama bapak selama bisa bayar akan mengiyakan saja mainan pilihan anaknya ketika mereka mampir di toko mainan. lain lagi dengan ibu yang akan mengomel kanan kiri dan ngaler ngidul mencegah si anak  membeli yang berlebihan.

Asal tau saja bapak-bapak di sini jago ganti pemper anak dan mngganti baju anak-anaknya sudah biasa, kadang pulang kerja bukannya leha-leha nonton TV atau baca koran tapi bagi yang sudah punya anak harus menyisakan waktu mengajak anak bermain dan memberikan sedikit perhatian sebelum menjelang tidur dan membacakan buku unutuk anak-anaknya. makanya tak heran kalau wanita Asia menikah dengan pria bule pada umumnya dan Belanda pada khususnya mereka lebih langgeng dan bahagia bukan hanya keran materi.  kebalikannya kalau pria Asia dengan wanita Bule pasti urusannya lebih rumit karena wanita bule susah menurut sama suami dan kebanyakan suami yang harus banyak mengalah juga beban rumah tangga walaupun suami bekerja dan istri di rumah tetap harus di bagi dua contohnya mengasuh dan merawat anak tadi.

Kebiasaan Bapak-bapak di sini memang sangat istimewa di banding emak-emaknya, tapi sayangnya pola asuh bapak tersebut kadang berlebihan  sehingga kalau terjadi kasus perceraian maka tak jarang anak-anaknya jarang yang jadi sukses. penyebabnya beragam, bisa jadi kalau bapak memang menyayangi tapi tidak mempunyai kedekatan yang pribadi dengan anak yang beda sekali dengan seorang ibu di mana anak bisa curhat atau mengungkapkan segala beban pribadinya dan ibu cenderung suka mau tau dan menyelididk dengan perkembangan pergaulan maupun percintaan anaknya kalau di tanah air atau Asia.

memang ketika mereka usia belum mencapai puber segalanya anak papah dan mendengar saran bapaknya, sayangnya ketika usia mereka memasauki usia puber peran bapaknya keraf tergantikan oleh teman-temannya di sekolah atau di pergaulan luarnya dan bapak tak mampu menjangkau dan memasuki ranah itu selain ibu. karena itu banyak istilah yang sering di dengar, hampir tidak pernah atau jarang anak yang sukses di tangan pola asuh bapak walupun bapaknya sebaik apapun karena mungkin tugas bapak lebih afdol mencari nafkah. beda lagi ketika seorang ibu yang selalu ada ketika anaknya tumbuh dan berkembang maka tak jarang banyak anak yang menjadi sukses di tangan para ibu hebat tersebut.

Kesimpulannya, sebaik dan seperhatian apapun peran seorang bapak yang ada di Belanda ternyata belum mampu mencetak anak-anaknya menjadi suskses karena pola asuh bapak dan sayangnya para ibu di sini banyak yang berlari dari kodratnya dan memilih menikmati hidup  selagi bisa tanpa di pusingkan oleh rengekan anak dan tanggung jawab menjadi seorang ibu seperti banyak kasus yang keraf terjadi di sini Belanda.

Semoga bermamfaat teutama bagi pria yang akan menikahi wanita bule (Belanda) harus sipa-siap mengalah dan berbagi tugas mengasuh anak.

Sumber survey dan pengalaman di sekitarnya

Tags:

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Kanal ini hanya menampung kritikan, masukan dan gagasan untuk
Jakarta Lebih Baik.
Tulis opini dan beritamu
untuk Jakarta